LUMINASIA.ID, MAROS - Kelompok Laleng Kassi'e mengembangkan telur bebek menjadi produk olahan bernilai tambah melalui Salted Eggs Low Cholesterol “Laleng Kessie” di Agrokompleks Hasanuddin, Desa Baji Mangngai, Kecamatan Mandai, Kabupaten Maros.
Produk telur asin tersebut menjadi salah satu hasil pengembangan budidaya bebek petelur yang dijalankan kelompok binaan PT Pertamina Patra Niaga Regional Sulawesi Aviation Fuel Terminal (AFT) Hasanuddin melalui program tanggung jawab sosial perusahaan atau corporate social responsibility (CSR).
Ketua Kelompok Laleng Kassi'e, Mariama, menjelaskan pengembangan telur asin menjadi salah satu upaya kelompok dalam meningkatkan nilai jual hasil budidaya bebek petelur.
“Telur bebek yang dihasilkan tidak hanya dijual dalam kondisi segar, tetapi juga diolah menjadi telur asin agar memiliki nilai tambah dan dapat dipasarkan sebagai produk unggulan kelompok,” ujar Mariama saat menerima kunjungan media bersama manajemen Pertamina Patra Niaga, Kamis (22/10/2026).
Kelompok Laleng Kassi'e mampu menghasilkan ratusan telur bebek setiap pekan. Sebagian hasil produksi dipasarkan sebagai telur segar, sementara sebagian lainnya diolah menjadi telur asin.
Produk telur asin Laleng Kessie dikemas dalam satu kotak berisi 10 butir. Produk tersebut dijual dengan harga sekitar Rp45.000 per kotak dan juga dipasarkan sebagai oleh-oleh, maupun jika ada pesanan khusus.
Sementara untuk telur biasa Rp60 ribu per rak. "Telur asin rendah kolesterol diolah dengan cara dipanggang. Ada juga telur asin biasa harganya mulai Rp85 ribu per rak," paparnya.
“Melalui pengolahan ini, hasil budidaya tidak hanya bergantung pada penjualan telur segar. Kami juga berupaya mengembangkan produk olahan yang lebih praktis dipasarkan,” kata Mariama.
Kelompok Laleng Kassi'e telah menjadi mitra binaan Pertamina sejak 2021. Pendampingan tersebut diarahkan untuk mengembangkan usaha budidaya bebek petelur sekaligus mendorong peningkatan ekonomi masyarakat.
Selain mengembangkan produk telur asin, Agrokompleks Hasanuddin menerapkan pemanfaatan limbah makanan dari program Makan Bergizi Gratis (MBG) sebagai pakan alternatif bebek.
Limbah makanan tersebut berasal dari tiga Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG), yakni Mandai Bontoa 1, Mandai Bontoa 2, dan Biringkanaya Bakung 1. Jumlah limbah yang dikumpulkan mencapai sekitar 100–150 kilogram per hari.
Limbah tersebut dipilah, ditimbang, lalu diangkut oleh Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Baji Mangngai ke lokasi peternakan untuk dimanfaatkan sebagai pakan alternatif.
Dijelaskan Marima, dalam pengembangan peternakan bebek petelur ini pihaknya mendapat beragam bantuan dari Pertamina.
"Jadi mulai dari awal kami diberikan bebek sehingga jumlahnya mencapai 250 ekor. Selain itu kami diberi pendampingan bagaimana mengelola dan membesarkan peternakan ini. Disediakan juga alat-alatnya mulai dari penetas telur, hingga oven untuk memanggang," paparnya.
Sementara ditemui di lokasi Tim CSR dan SMEPP PT Pertamina Patra Niaga Regional Sulawesi, Yoga Pratama, mengatakan Agrokompleks Hasanuddin dikembangkan sebagai model peternakan terpadu yang menghubungkan kegiatan budidaya dengan pengelolaan limbah.
“Agrokompleks ini dikembangkan sebagai model peternakan terpadu yang tidak hanya berfokus pada produksi, tetapi juga memanfaatkan potensi limbah untuk mendukung efisiensi usaha dan pengelolaan lingkungan,” ujar Yoga.
Menurutnya, pemanfaatan limbah makanan dapat membantu menekan biaya pakan. Pengelolaan peternakan dan pengolahan hasil produksi juga diharapkan dapat meningkatkan produktivitas serta memperkuat kemandirian ekonomi kelompok.
“Melalui program ini, kami mendorong kelompok binaan agar mampu mengembangkan usaha secara berkelanjutan, sekaligus memberikan manfaat bagi lingkungan dan masyarakat sekitar,” katanya.
Agrokompleks Hasanuddin dirancang sebagai pusat edukasi sekaligus percontohan peternakan terpadu. Model ini diharapkan dapat menjadi contoh pengembangan usaha masyarakat yang menggabungkan kegiatan ekonomi dengan pengelolaan lingkungan.




