LUMINASIA.ID, MAKASSAR - Orang tua perlu memperhatikan sejumlah aspek keselamatan saat membonceng anak menggunakan sepeda motor, mulai dari perlengkapan berkendara, posisi duduk, hingga pengaturan kecepatan dan jarak perjalanan.
Instruktur Safety Riding Astra Motor Bengkulu, Noval Yunaidi, mengingatkan orang tua agar tidak membiasakan anak duduk di bagian depan pengendara karena berpotensi menimbulkan bahaya selama perjalanan.
Menurut Noval, sebagian orang tua memilih membonceng anak di depan agar lebih mudah mengawasi atau supaya anak bisa menikmati pemandangan.
"Biasanya orang tua membonceng anak di depan karena bisa mengontrol posisi anak agar tidak terjatuh ataupun anak bisa menikmati pemandangan dan merasa senang saat duduk di depan. Padahal ini tidak benar," ujar Noval.
Baca: Asmo Sulsel Edukasi 45 Karyawan Sari Roti tentang Keselamatan Berkendara
Posisi tersebut berisiko membuat anak terbentur setang kemudi, terjepit, mengalami gangguan kesehatan, hingga menghalangi pandangan pengendara.
Selain itu, posisi anak di depan juga dapat mengganggu pengendalian sepeda motor serta menyebabkan kesalahan komunikasi atau pembacaan informasi pada panel meter.
Untuk meningkatkan keselamatan, Astra Motor membagikan tujuh kiat bagi orang tua saat membonceng anak menggunakan sepeda motor.
Pertama, memastikan perlengkapan berkendara lengkap. Anak sebagai pembonceng memiliki risiko keselamatan yang sama dengan pengendara sehingga wajib menggunakan helm, jaket, sarung tangan, celana panjang, dan sepatu.
Baca: Instruktur Honda Ingatkan Pelajar, Keselamatan Berkendara Dimulai dari Kebiasaan Sederhana
Kedua, memperhatikan posisi duduk anak. Anak sebaiknya duduk di belakang dengan posisi tubuh lurus dan rapat dengan pengendara agar dapat memegang tubuh pengendara dengan lebih baik serta menjaga keseimbangan.
Ketiga, memastikan anak siap dibonceng. Orang tua perlu memastikan tangan anak mampu memegang tubuh pengendara dengan kuat.
Penggunaan sabuk pembonceng juga dapat dipertimbangkan untuk membantu menjaga posisi dan keseimbangan anak selama perjalanan.
Selain itu, kaki anak harus sudah mampu menginjak pijakan kaki pembonceng. Orang tua juga perlu mengingatkan anak agar tidak memainkan kaki untuk menghindari risiko tersenggol kendaraan lain.
Keempat, mengontrol kecepatan berkendara. Pengendara perlu menghindari akselerasi mendadak karena dapat membuat anak terpental atau terguncang, terutama jika pegangan anak belum kuat.
Kecepatan juga perlu dijaga saat bermanuver atau menikung agar anak tidak terlempar akibat kurang kuatnya pegangan.
Pengendara juga perlu menghindari pengereman mendadak atau terlalu kuat yang dapat membuat anak merasa tidak nyaman selama perjalanan.
Kelima, mengatur waktu, rute, dan jarak perjalanan. Anak memiliki ketahanan fisik berbeda dengan orang dewasa sehingga orang tua perlu menyesuaikan perjalanan dengan kondisi anak.
Berangkat lebih pagi dapat menjadi pilihan untuk menghindari terik matahari. Pemilihan rute juga perlu mempertimbangkan keamanan, kelayakan jalan, dan kepatuhan terhadap aturan lalu lintas.
Jarak perjalanan sebaiknya disesuaikan agar orang tua dapat menentukan waktu istirahat yang cukup bagi anak.
Keenam, rutin memastikan kondisi anak. Orang tua perlu berkomunikasi selama perjalanan untuk mengetahui apakah anak merasa haus, mengantuk, lelah, atau mengalami ketidaknyamanan lainnya.
Dengan melakukan konfirmasi secara berkala, orang tua dapat mengetahui kondisi anak lebih dini dan mencegah potensi bahaya.
Ketujuh, memberikan edukasi keselamatan berkendara sejak dini. Anak perlu dikenalkan dengan keselamatan berlalu lintas dan rambu-rambu jalan agar memahami potensi bahaya di jalan raya.
Salah satu sarana edukasi yang dapat dimanfaatkan adalah Kids Traffic Park di AHM Safety Riding Park (AHMSRP), Deltamas, Cikarang.
Di fasilitas tersebut, anak-anak diajarkan mengenali rambu lalu lintas, menyeberang jalan dengan aman melalui jalur penyeberangan, serta berinteraksi dengan pengguna jalan lainnya menggunakan berbagai alat peraga.
AHMSRP juga memiliki jalur simulasi berkendara sepanjang 130 meter yang dilengkapi 22 rambu lalu lintas dan enam lampu lalu lintas atau traffic light.
Dalam pelatihan, anak-anak menggunakan push bike dan sepeda kayuh sebagai sarana simulasi keselamatan berkendara.
Astra Honda Motor (AHM) mencatat program edukasi keselamatan berkendara tersebut telah menjangkau 286 ribu anak dari seluruh Indonesia selama dua dekade.
"Setiap orang tua tentunya ingin anak selamat saat berboncengan di jalan raya. Sehingga, perhatian ekstra dan edukasi sejak dini diperlukan agar anak mendapat pengalaman berkendara yang aman dan menyenangkan bersama orangtuanya," tutup Noval.




