Bacaan Alkitab:
Yesaya 9:1–2
Lukas 2:10–11
Saudara-saudari yang terkasih di dalam Tuhan Yesus Kristus,
Malam Natal biasanya identik dengan sukacita, cahaya, dan nyanyian pujian. Namun Natal tahun ini kita rayakan dalam suasana yang berbeda. Di saat kita berkumpul dengan damai di rumah Tuhan, saudara-saudari kita di berbagai wilayah Indonesia, termasuk Aceh dan sejumlah daerah di Sumatera, sedang menghadapi bencana alam. Banjir, tanah longsor, dan kerusakan lingkungan telah meninggalkan duka, air mata, dan kehilangan.
Situasi ini mengingatkan kita bahwa Natal bukanlah perayaan yang terpisah dari realitas kehidupan. Natal justru lahir di tengah penderitaan. Yesus tidak datang ketika dunia aman dan tenteram, tetapi ketika dunia diliputi ketidakpastian. Firman Tuhan dalam Yesaya berkata, “Bangsa yang berjalan di dalam kegelapan telah melihat terang yang besar.” Terang itu adalah Kristus, yang hadir untuk menguatkan mereka yang lemah dan menghibur mereka yang berdukacita.
Bencana yang terjadi di berbagai daerah di Indonesia bukan hanya peristiwa alam, tetapi juga panggilan iman bagi kita semua. Natal mengingatkan kita bahwa Allah tidak tinggal jauh dari penderitaan manusia. Ia hadir, berjalan bersama umat-Nya, dan menangis bersama mereka yang terluka. Dalam kelahiran Yesus, Allah menunjukkan solidaritas-Nya kepada dunia yang rapuh.
Saudara-saudari, di tengah bencana, iman Kristen dipanggil untuk hidup nyata. Kasih tidak cukup hanya diucapkan, tetapi harus diwujudkan. Doa harus disertai dengan kepedulian, perhatian, dan kesediaan untuk berbagi. Natal mengajar kita untuk membuka mata melihat penderitaan sesama, membuka hati untuk berbelas kasih, dan membuka tangan untuk menolong.
Malam Natal ini juga mengajak kita untuk merenung: apakah terang Kristus hanya kita nikmati di dalam gereja, ataukah kita bawa keluar menjadi pengharapan bagi mereka yang sedang berada dalam kegelapan? Terang Kristus dinyatakan melalui tindakan kecil yang dilakukan dengan kasih, melalui doa yang tulus, bantuan yang diberikan, dan pengharapan yang diteguhkan.
Di tengah luka bangsa akibat bencana, Natal menjadi kabar bahwa Allah tidak meninggalkan Indonesia. Terang Kristus tetap menyala, bahkan di tengah hujan, lumpur, dan air mata. Harapan tidak pernah padam, karena Tuhan yang kita sembah adalah Imanuel, Allah yang menyertai.
Kiranya perayaan Natal tahun ini meneguhkan iman kita untuk menjadi pembawa terang dan pengharapan bagi sesama, terutama bagi saudara-saudari kita yang sedang menderita akibat bencana.
Amin.

