LUMINASIA.ID - PANGKEP – Memasuki hari keempat pasca jatuhnya pesawat ATR 42-500 di kawasan Gunung Bulusaraung, Kabupaten Pangkep, tim SAR gabungan terus berupaya melakukan proses evakuasi korban dari lokasi kejadian.
Kepala Basarnas Makassar, Muhammad Arif, mengatakan upaya evakuasi terhadap dua korban yang telah ditemukan masih berlangsung hingga saat ini.
Namun, proses tersebut terkendala kondisi cuaca ekstrem di puncak Gunung Bulusaraung yang masih diselimuti kabut tebal disertai hujan deras.
Akibat kondisi tersebut, evakuasi dipastikan dilakukan melalui jalur darat dengan menggunakan metode estafet paket.
“Untuk mengevakuasi jenazah korban jatuhnya pesawat ATR 42-500 akan dilakukan dengan opsi estafet paket,” ujar Muhammad Arif.
Ia menjelaskan, setiap personel SAR akan ditempatkan di titik-titik tertentu untuk memperlancar proses pemindahan jenazah.
“Personel kami disiagakan di pos paket setiap 350 meter. Medan sangat terjal sehingga jenazah akan diestafet dari satu tim ke tim berikutnya,” jelasnya.
Sementara itu, Kepala Seksi Operasi Basarnas Makassar, Andi Sultan, menambahkan bahwa proses evakuasi hingga kini masih terus berjalan di lapangan.
Ia menyebut jalur evakuasi yang direncanakan adalah jalur darat dengan titik penurunan melalui wilayah Camba.
“Proses evakuasi masih berlangsung dan kami belum terhubung langsung dengan tim di lokasi. Namun rencana awalnya memang jenazah akan dievakuasi melalui Camba,” ujarnya.
Sebagai informasi, pesawat ATR 42-500 milik Indonesia Air Transport (IAT) terbang dari Yogyakarta menuju Makassar dengan membawa 10 orang, terdiri atas tujuh kru dan tiga penumpang.

