LUMINASIA.ID, JAKARTA — Saham PT Sinergi Inti Andalan Prima Tbk (INET) mencatatkan penguatan signifikan pada perdagangan Senin (19/1/2026).
Saham emiten telekomunikasi tersebut melonjak 10,58 persen ke level Rp575 per saham, sekaligus menjadi salah satu saham paling aktif diperdagangkan di Bursa Efek Indonesia (BEI).
Penguatan saham INET didorong oleh derasnya aksi beli investor asing. Data perdagangan menunjukkan sebanyak 2,24 miliar lembar saham berpindah tangan dengan frekuensi transaksi mencapai 162.149 kali, serta nilai transaksi menembus Rp1,25 triliun. Investor asing tercatat membukukan net buy sebesar Rp27,69 miliar.
Lonjakan volume transaksi ini membuat saham INET masuk jajaran top gainer sektor telekomunikasi dan infrastruktur digital, seiring meningkatnya minat pelaku pasar terhadap prospek bisnis perseroan.
Secara teknikal, BRI Danareksa Sekuritas (BRIDS) menilai pergerakan saham INET masih berada dalam tren bullish. Harga saham INET dinilai berhasil memantul dari area support kuat di kisaran 470–515, yang sebelumnya menjadi zona konsolidasi.
“Jika penguatan berlanjut, saham INET berpotensi menguji area resistance di kisaran 596–690, dengan peluang kenaikan hingga sekitar 20 persen dari posisi saat ini,” tulis BRIDS dalam riset hariannya.
Reli saham INET juga ditopang oleh lonjakan volume transaksi yang mengindikasikan adanya akumulasi dari investor bermodal besar, sehingga menarik minat investor ritel untuk ikut masuk setelah harga menembus resistance jangka pendek.
Selain faktor teknikal, aksi beli investor asing menjadi katalis penting penguatan saham INET. Masuknya dana asing mencerminkan optimisme terhadap prospek PT Sinergi Inti Andalan Prima Tbk, khususnya di sektor jaringan fiber optik dan layanan telekomunikasi berbasis data.
Di sisi lain, pasar turut mencermati langkah korporasi perseroan yang tengah menggelar rights issue senilai Rp3,2 triliun. INET menerbitkan 12,78 miliar Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (HMETD), di mana setiap 1 HMETD dapat ditebus menjadi 1 saham baru dengan harga pelaksanaan Rp250 per saham.
Periode pelaksanaan rights issue INET berlangsung pada 8–22 Januari 2026, yang ditujukan untuk memperkuat struktur permodalan dan mendukung ekspansi bisnis perseroan ke depan.

