LUMINASIA.ID, MAKASSAR – Memanasnya konflik di Timur Tengah berpotensi memberi tekanan terhadap industri pertambangan nasional, termasuk PT Vale Indonesia Tbk.
Perusahaan mengakui bahwa gejolak geopolitik global dapat berdampak pada biaya energi, logistik bahan baku, hingga perhitungan investasi jangka panjang.
Demikian dipaparkan Head of External Relations Regional & Growth PT Vale Indonesia, Endra Kusuma, dalam buka bersama media dan PT Vale di Aloha, Makassar, (2/3/2026).
Ia menjelaskan bahwa dampak konflik tidak hanya menyentuh aspek investasi, tetapi juga operasional perusahaan jika berlangsung dalam waktu panjang.
Menurutnya, komponen pertama yang paling sensitif adalah energi, khususnya bahan bakar minyak.
“Yang pertama tentu minyak. Kami masih menggunakan bahan bakar minyak, terutama Marine Fuel Oil (MFO), untuk pembakaran di kiln dan operasional pabrik. Kalau harga minyak naik, otomatis biaya operasional kami ikut tertekan,” ujarnya dalam diskusi bersama media.
Kenaikan harga minyak global akibat eskalasi konflik berpotensi meningkatkan beban produksi. Meski belum menghitung secara detail proyeksi kenaikan biaya, Endra mengakui tekanan tersebut tidak bisa dihindari apabila konflik berlarut.
Selain energi, PT Vale juga menyoroti potensi gangguan distribusi bahan baku impor, terutama sulfur yang sebagian besar masih didatangkan dari kawasan Timur Tengah.
“Sulfur kami masih impor dari Middle East. Kalau terjadi gangguan jalur distribusi, misalnya Selat Hormuz terdampak, maka biaya logistik bisa melonjak sampai tiga kali lipat. Itu yang bisa memengaruhi struktur biaya kami,” jelasnya.
Ia menambahkan, secara harga komoditas, konflik global justru berpotensi mendorong kenaikan harga emas dan energi. Namun untuk nikel dan turunannya, proyeksi kenaikan belum dapat dipastikan.
Meski demikian, Endra melihat potensi jangka panjang pascakonflik dapat membuka peluang kenaikan permintaan logam industri.
“Biasanya setelah perang, kebutuhan pembangunan infrastruktur meningkat. Artinya demand terhadap nikel, besi, dan logam lainnya bisa naik. Tapi berapa persennya, kami belum bisa memprediksi,” katanya.
Operasional Tetap Jalan, Efisiensi Diperkuat
Di tengah potensi tekanan biaya tersebut, PT Vale memastikan tidak ada rencana penghentian produksi.
“Sampai hari ini belum ada rencana stop produksi. The show must go on. Proyek tetap berjalan,” tegas Endra.
Perusahaan akan fokus pada efisiensi biaya produksi, optimalisasi operasional, serta inovasi untuk menekan beban yang dapat dikendalikan.
Langkah efisiensi itu mencakup penguatan cost production efficiency, optimalisasi penggunaan energi, serta pengendalian pengeluaran logistik agar dampak geopolitik tidak menggerus kinerja secara signifikan.
Dari sisi investasi, Endra menyebut dampak akan sangat tergantung pada durasi konflik.
“Kalau konflik berlangsung lama, tentu dampaknya akan lebih terasa terhadap investasi. Tapi kalau hanya sesaat, dampaknya mungkin tidak terlalu signifikan,” ujarnya.
Sementara itu, Head of Corporate Communications PT Vale Indonesia Tbk, Vanda Kusumaningrum, menegaskan bahwa perusahaan tetap fokus pada agenda pertumbuhan (growth project) di tengah dinamika global.
Ia menyampaikan bahwa perkembangan proyek-proyek ekspansi tahun ini menunjukkan progres yang positif.
“Kami ingin sharing sedikit terkait progres yang sudah kami lakukan tahun ini, khususnya di growth, karena perkembangannya sungguh luar biasa,” ujar Vanda.

