LUMINASIA.ID - Tekanan yang melanda pasar modal Indonesia sepanjang tahun 2026 membuat saham-saham perbankan mengalami koreksi cukup dalam.
Dua emiten perbankan terbesar, PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) dan PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI), bahkan tercatat berada pada level terendah dalam lima tahun terakhir.
Dilansir kompas.com, Pada perdagangan Kamis (4/6/2026), saham BBCA ditutup di level Rp5.425 per saham atau turun 1,81 persen. Sementara saham BBRI ditutup pada level Rp2.810 per saham setelah terkoreksi 3,10 persen.
Baca: Raih Laba Bersih Rp1,355 Triliun, PT Vale Bagikan Dividen Rp813,96 Miliar
Sepanjang tahun berjalan, saham BBCA telah melemah sekitar 32,82 persen. Adapun saham BBRI turun sekitar 23,22 persen dibandingkan posisi awal tahun.
Penurunan harga kedua saham tersebut terjadi di tengah pelemahan pasar saham domestik. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan Kamis ditutup melemah 1,70 persen ke level 5.839,78.
Tekanan terhadap saham sektor perbankan juga dipengaruhi oleh derasnya aksi jual investor asing. Berdasarkan data pasar, nilai jual bersih atau net sell investor asing pada saham BBCA sepanjang tahun ini mencapai lebih dari Rp31 triliun. Sementara pada saham BBRI mencapai sekitar Rp9,5 triliun.
Baca: IHSG Anjlok ke Level Terendah! Nyaris 5 Persen
Selain aksi jual investor asing, sentimen suku bunga dan pelemahan nilai tukar rupiah turut menjadi faktor yang membebani pergerakan saham perbankan.
Meski demikian, sejumlah analis menilai koreksi yang terjadi membuat valuasi saham-saham perbankan besar mulai menarik untuk dicermati investor jangka panjang. Fundamental sektor perbankan nasional dinilai masih relatif kuat meskipun pasar sedang menghadapi tekanan.
Saham bank besar lainnya seperti PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) dan PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) juga mengalami tekanan. Namun harga keduanya masih berada di atas level yang tercatat lima tahun lalu.
Investor disarankan tetap mencermati perkembangan kondisi ekonomi global, pergerakan nilai tukar rupiah, kebijakan suku bunga, serta kinerja emiten sebelum mengambil keputusan investasi.

