LUMINASIA.ID,MAKASSAR — Sivitas Akademika Universitas Muhammadiyah (Unismuh) Makassar menggelar Salat Gerhana Bulan (Khusuf) berjemaah di Masjid Subulussalam Al-Khoory, Selasa malam (3/3/2026), bertepatan dengan 14 Ramadan 1447 Hijriah.
Pelaksanaan ibadah ini dilakukan menyusul terjadinya Gerhana Bulan Total yang dapat diamati di wilayah Sulawesi Selatan sejak waktu Magrib hingga menjelang Isya. Fenomena tersebut menjadi momen istimewa karena berlangsung di bulan suci Ramadan.
Salat Khusuf dipimpin oleh Imam Ahmad Fauzan, sementara khutbah disampaikan oleh Dr. KH Abbas Baco Miro, Lc., M.A. Rangkaian ibadah diawali dengan Salat Isya berjemaah, kemudian dilanjutkan dengan Salat Gerhana dua rakaat dengan empat rukuk dan dua sujud di setiap rakaat, sebagaimana tuntunan Rasulullah SAW.
Selama pelaksanaan salat, jamaah juga menyaksikan siaran langsung fase gerhana melalui layar di area masjid. Tayangan tersebut merupakan hasil pemantauan Observatorium Unismuh Makassar yang turut menyiarkan proses gerhana melalui kanal YouTube resmi kampus, mulai dari fase awal gerhana sebagian hingga puncak totalitas ketika bulan tampak kemerahan.
Dalam khutbahnya, KH Abbas Baco Miro menegaskan bahwa gerhana merupakan ayat atau tanda kebesaran Allah SWT yang menunjukkan keteraturan ciptaan-Nya. Ia mengingatkan bahwa fenomena alam tersebut bukanlah peristiwa yang dikaitkan dengan mitos atau kematian seseorang.
“Dan Dialah yang menciptakan malam dan siang, matahari dan bulan; masing-masing beredar pada garis edarnya,” ujar Abbas mengutip Surah Al-Anbiya ayat 33.
Ia juga menegaskan bahwa Rasulullah SAW telah meluruskan keyakinan keliru masyarakat Arab yang mengaitkan gerhana dengan wafatnya seseorang. Menurutnya, Nabi mengajarkan umat untuk menyikapi gerhana dengan memperbanyak salat, doa, istigfar, dan sedekah.
“Gerhana bukan karena kematian seseorang atau peristiwa tertentu,” tegasnya.
Abbas mengajak jamaah menjadikan momen gerhana sebagai waktu untuk bermuhasabah dan memperkuat hubungan dengan Allah SWT. Ia menyebut waktu terjadinya gerhana sebagai kesempatan yang baik untuk memanjatkan doa.
“Inilah kesempatan terbaik bagi kita menyampaikan hajat-hajat kita kepada Allah SWT,” ujarnya.
Selain doa dan salat, ia juga mendorong umat untuk memperbanyak sedekah sebagai bentuk kepedulian sosial. Menurutnya, ibadah gerhana tidak hanya berdimensi spiritual, tetapi juga memiliki nilai sosial yang menguatkan solidaritas di tengah masyarakat.
Rangkaian ibadah malam itu berlangsung berkesinambungan, mulai dari berbuka puasa, Salat Magrib, Isya, Salat Gerhana, hingga Tarawih. Suasana Ramadan terasa semakin khusyuk dengan hadirnya fenomena astronomi yang dapat disaksikan langsung.
Momentum ini juga mempertemukan dimensi keagamaan dan edukasi sains. Gerhana dipahami sebagai fenomena astronomi yang dapat dijelaskan secara ilmiah, sekaligus sebagai tanda kekuasaan Allah di alam semesta. Pengamatan melalui teleskop dan siaran fase gerhana menjadi sarana literasi sains bagi jamaah.
Dengan pelaksanaan Salat Gerhana Bulan di Masjid Subulussalam Unismuh Makassar, kampus ini tidak hanya menghadirkan ruang ibadah, tetapi juga ruang pembelajaran publik yang mengintegrasikan spiritualitas Ramadan dengan pemahaman ilmiah tentang fenomena langit.

