LUMINASIA.ID, EKONOMI - Pasar kripto global kembali menunjukkan kerentanannya terhadap faktor non-ekonomi setelah harga Bitcoin anjlok ke kisaran USD 69.000 dalam waktu singkat. Bukan karena kebijakan bank sentral atau data inflasi, melainkan eskalasi geopolitik yang dipicu ultimatum Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, terhadap Iran.
Dilansir Coin Desk, dalam 48 jam, ancaman serangan terhadap infrastruktur energi Iran—jika Selat Hormuz tidak dibuka—langsung mengguncang sentimen pasar. Padahal, sebelumnya pelaku pasar kripto tengah berada dalam fase optimistis setelah reli selama delapan hari berturut-turut.
Fenomena ini memperlihatkan pergeseran penting: kripto, yang selama ini sering dipandang sebagai “aset lindung nilai” terhadap sistem keuangan tradisional, justru sangat sensitif terhadap risiko geopolitik global. Ketika potensi konflik meningkat, investor tidak mencari risiko—mereka menghindarinya.
Dampaknya terlihat jelas. Sekitar USD 299 juta posisi trader dilikuidasi hanya dalam 24 jam, dengan 85% di antaranya berasal dari posisi long. Artinya, mayoritas pelaku pasar sebelumnya bertaruh harga akan terus naik—dan salah membaca situasi.
Tidak hanya Bitcoin, aset kripto utama lain seperti Ethereum, XRP, hingga Solana ikut terseret turun secara bersamaan. Ini menegaskan bahwa pasar kripto saat ini bergerak lebih sebagai satu ekosistem yang saling terhubung, bukan aset independen yang bergerak sendiri-sendiri.
Lebih menarik lagi, tekanan ini datang justru di tengah sinyal dovish dari bank sentral AS yang biasanya mendukung aset berisiko. Namun dalam kondisi ketidakpastian geopolitik, kebijakan moneter tampaknya kalah pengaruh.
Kunci kekhawatiran pasar terletak pada Selat Hormuz—jalur vital yang mengalirkan sekitar 20% pasokan minyak dan gas dunia. Jika konflik benar-benar meningkat dan mengganggu distribusi energi global, efeknya tidak hanya terasa di pasar energi, tetapi juga merambat ke seluruh kelas aset, termasuk kripto.
Kini, perhatian investor tertuju pada tenggat waktu yang jatuh pada Senin malam. Jika tidak ada deeskalasi, pasar berpotensi menghadapi gelombang volatilitas lanjutan—bahkan lebih besar dari yang terjadi saat ini.
Peristiwa ini menjadi pengingat keras bahwa di balik teknologi dan desentralisasi, pasar kripto tetap tidak kebal terhadap realitas dunia: politik, konflik, dan ketidakpastian global.

