LUMINASIA.ID, BOLA - Nasib Joel Piroe di Leeds United kini memasuki fase krusial. Penyerang yang musim lalu menjadi pahlawan promosi dengan torehan 19 gol di Championship, kini justru berada di pinggir proyek tim setelah kesulitan menembus starting XI di Premier League.
Dilansir Football Insider 247, musim 2025/26 menjadi titik balik yang tidak diharapkan bagi pemain berusia 26 tahun itu. Minimnya menit bermain—tanpa satu pun starter sejak Agustus—membuat perannya menyusut drastis. Dengan hanya satu gol dari 17 penampilan di semua kompetisi, kontribusi Piroe terlihat tidak lagi sejalan dengan kebutuhan taktik pelatih Daniel Farke yang menginginkan profil striker lebih fisikal dan dinamis.
Situasi ini membuka kemungkinan perubahan peran Piroe, bukan lagi sebagai ujung tombak utama, melainkan sebagai “alat negosiasi” di bursa transfer. Leeds disebut mempertimbangkan skema tukar tambah demi mendatangkan Patrick Agyemang dari Derby County.
Dari sudut pandang strategis, langkah ini mencerminkan pergeseran arah klub. Piroe adalah finisher klasik—tajam di kotak penalti, efisien dalam peluang terbatas. Namun di level Premier League, Leeds tampaknya membutuhkan penyerang dengan kemampuan duel, mobilitas tinggi, dan kontribusi tanpa bola yang lebih besar—atribut yang dinilai lebih melekat pada Agyemang.
Menariknya, jika transfer ini terjadi, Piroe justru berpotensi “kembali ke habitatnya”. Championship adalah panggung di mana ia terbukti mematikan. Derby County, yang tengah membangun ulang kekuatan, bisa mendapatkan striker berpengalaman dengan rekam jejak gol yang konsisten—sesuatu yang sulit mereka gantikan jika Agyemang hengkang.
Di sisi lain, bagi Piroe sendiri, ini bukan sekadar soal pindah klub. Ini tentang menghidupkan kembali karier yang sempat meroket namun kini tertahan. Kembali ke Championship bisa menjadi langkah mundur secara kasta, tetapi juga langkah maju untuk mengembalikan statusnya sebagai striker elit di level tersebut.
Dengan jendela transfer musim panas yang semakin dekat, keputusan Leeds akan menjadi penentu: mempertahankan Piroe sebagai pelapis, atau mengorbankannya demi evolusi taktik tim. Yang jelas, perjalanan sang striker kini tidak lagi soal jumlah gol—melainkan soal menemukan kembali tempat di mana ia benar-benar dibutuhkan.

