LUMINASIA.ID, INTERNASIONAL - Kembalinya kerangka manusia prasejarah “Perak Man” ke Galeri Arkeologi Lembah Lenggong bukan sekadar peristiwa budaya, tetapi juga menjadi strategi nyata dalam menggerakkan ekonomi lokal berbasis warisan sejarah. Setelah sebelumnya disimpan di Kuala Lumpur untuk proses konservasi, fosil berusia sekitar 11.000 tahun itu kini kembali dipamerkan sejak pertengahan tahun lalu dan langsung menjadi magnet baru bagi wisatawan.
Dilansir The Star, Wakil Menteri Dalam Negeri Malaysia, Datuk Seri Dr Shamsul Anuar Nasarah, menegaskan bahwa kehadiran kembali Perak Man telah meningkatkan jumlah kunjungan secara signifikan. Ia menyebut langkah ini sebagai bagian dari upaya menjadikan situs warisan bukan hanya sebagai ruang edukasi, tetapi juga penggerak ekonomi daerah.
Pendekatan ini diperkuat dengan investasi sebesar RM5 juta untuk modernisasi galeri, termasuk penggunaan teknologi holografik dan tampilan interaktif. Transformasi tersebut menunjukkan bahwa pengelolaan situs sejarah kini tidak lagi bersifat statis, melainkan diarahkan menjadi pengalaman wisata yang imersif dan kompetitif di tengah industri pariwisata global.
Selain Perak Man, pemerintah juga berupaya memulangkan “Perak Woman”, kerangka manusia prasejarah lain berusia sekitar 8.000 tahun yang saat ini berada di Universiti Sains Malaysia. Jika terealisasi, langkah ini berpotensi memperkuat posisi Lenggong sebagai pusat peradaban prasejarah di kawasan Asia Tenggara.
Di sisi lain, peluncuran koin peringatan situs warisan dunia turut memperluas dampak ekonomi melalui sektor koleksi dan edukasi publik. Upaya ini menegaskan bahwa narasi sejarah dapat dikemas menjadi produk bernilai tambah, yang tidak hanya memperkuat identitas nasional tetapi juga menciptakan peluang ekonomi baru.
Dengan strategi tersebut, Lembah Lenggong tidak lagi sekadar situs arkeologi, melainkan contoh bagaimana warisan masa lalu bisa dioptimalkan sebagai aset masa depan.

