LUMINASIA.ID, INTERNASIONAL - Ketika negosiasi antara Amerika Serikat dan Iran di Islamabad berakhir tanpa kesepakatan, perhatian publik banyak tertuju pada isu nuklir. Namun di balik kebuntuan itu, ada dinamika lain yang tak kalah menentukan: perebutan kendali ekonomi dan geopolitik di Selat Hormuz.
Dilansir CNN Indonesia, alih-alih hanya menjadi jalur pelayaran biasa, Selat Hormuz kini berubah menjadi alat tawar utama Iran dalam menghadapi tekanan Barat. Dalam perundingan, Iran tidak sekadar menolak tuntutan penghentian program nuklir, tetapi juga mempertahankan haknya untuk mengatur lalu lintas kapal—bahkan mengenakan tarif tinggi bagi yang melintas. Kebijakan ini memperlihatkan bahwa konflik tak lagi semata soal keamanan, melainkan juga kontrol atas arteri energi global.
Dari sudut pandang ini, kegagalan negosiasi justru mempertegas perubahan strategi Iran. Teheran tampak memanfaatkan posisi geografisnya untuk meningkatkan daya tawar, terutama setelah pengalaman masa lalu yang dianggap sebagai pengkhianatan oleh AS. Ketidakpercayaan ini membuat Iran enggan memberikan konsesi tanpa jaminan konkret, termasuk soal keamanan pascakonflik.
Di sisi lain, situasi ini memberi keuntungan tersendiri bagi Israel. Ketegangan yang terus berlanjut membuka ruang bagi pendekatan militer dan tekanan lebih lanjut terhadap Iran. Respons cepat Israel yang langsung menyiapkan opsi serangan menunjukkan bahwa kebuntuan diplomasi justru memperbesar peluang eskalasi konflik di kawasan.
Dengan demikian, kegagalan negosiasi ini bukan sekadar kegagalan diplomasi biasa. Ia mencerminkan pergeseran medan konflik—dari meja perundingan menuju kontrol jalur energi global—yang dampaknya bisa meluas hingga ke pasar minyak dunia dan stabilitas geopolitik internasional.

