LUMINASIA.ID, EKONOMI - Penutupan operasional PT Krakatau Osaka Steel (KOS) menjadi sorotan publik setelah video perpisahan para karyawannya viral di media sosial. Momen haru itu memperlihatkan para pekerja saling berpelukan, berfoto bersama, hingga menuliskan pesan perpisahan di kertas maupun seragam rekan kerja pada hari terakhir operasional perusahaan, 30 April 2026.
Dalam sejumlah unggahan yang beredar, tampak tulisan seperti “Selamat Tinggal PT KOS”, “Bunda, kita mulai lagi dari nol ya”, hingga “Terima kasih sudah menjadi rumah kedua”. Video tersebut diunggah oleh akun Family Gathering Official KOS @thefamgath dan kemudian menyebar luas di platform X serta Instagram, memicu reaksi emosional dari warganet.
Dilansir Kompas, penutupan KOS kembali menyoroti tekanan besar yang dihadapi industri baja nasional. Sektor ini selama ini dikenal sebagai salah satu pilar utama manufaktur karena menopang berbagai industri turunan, mulai dari konstruksi hingga otomotif. Namun, dalam beberapa tahun terakhir, pelaku industri domestik semakin kesulitan bertahan di tengah derasnya arus baja impor, khususnya dari China.
Kondisi tersebut diperparah oleh perbedaan harga yang signifikan. Produk baja impor sering kali masuk dengan harga jauh lebih murah, sehingga menekan daya saing produsen dalam negeri. Di sisi lain, biaya produksi lokal yang relatif tinggi membuat perusahaan domestik kesulitan menandingi harga pasar.
Banyak warganet yang keliru mengira PT Krakatau Osaka Steel merupakan badan usaha milik negara (BUMN). Padahal, perusahaan ini merupakan hasil kerja sama antara PT Krakatau Steel (Persero) Tbk dengan Osaka Steel Co Ltd dari Jepang. Basis operasionalnya berada di Cilegon, Banten, yang selama ini dikenal sebagai pusat industri baja nasional.
Fenomena penutupan ini bukan kasus tunggal. Sejumlah pelaku industri baja dalam negeri sebelumnya juga menghadapi tekanan serupa, mulai dari penurunan utilisasi pabrik hingga efisiensi tenaga kerja. Kondisi ini memicu kekhawatiran akan deindustrialisasi, terutama pada sektor hulu yang memiliki efek berantai luas terhadap perekonomian.
Pengamat industri menilai, salah satu faktor utama yang memperburuk situasi adalah belum optimalnya kebijakan perlindungan industri dalam negeri, termasuk penerapan tarif dan instrumen trade remedies seperti anti-dumping. Tanpa intervensi yang kuat, industri baja nasional berisiko semakin tergerus oleh produk impor.
Selain itu, perlambatan proyek infrastruktur dan fluktuasi permintaan domestik juga ikut memengaruhi kinerja industri. Ketika permintaan melemah, produsen lokal semakin sulit menyerap kapasitas produksi yang tersedia.
Peristiwa penutupan PT Krakatau Osaka Steel menjadi pengingat bahwa tantangan industri baja nasional tidak hanya bersifat kompetitif, tetapi juga struktural. Tanpa langkah strategis yang komprehensif, termasuk penguatan kebijakan industri dan peningkatan efisiensi produksi, bukan tidak mungkin lebih banyak perusahaan domestik akan mengalami nasib serupa.
Di tengah situasi tersebut, suara para pekerja yang terdampak menjadi refleksi nyata dari dinamika industri. Kalimat sederhana seperti “Terima kasih sudah menjadi rumah kedua” tidak hanya menggambarkan hubungan antara pekerja dan perusahaan, tetapi juga menjadi simbol dari perubahan besar yang sedang terjadi dalam lanskap industri nasional.

