Langsung ke konten
DuaSisi
jmsi sulsel
  • HIBURAN
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
  • VIRAL
  • PERISTIWA
  • SULSEL
  • EDUKASI
  • LIFESTYLE
  • OPINI
  • VIDEO
  • MAKASSAR
  • INDEKS
Beranda Ekonomi

Krakatau Osaka Steel Tutup, Industri Baja Domestik Tertekan Gempuran Produk Impor China

Senin, 4 Mei 2026 15:46
Editor: diku
  • Bagikan
Krakatau Steel

LUMINASIA.ID, EKONOMI - Penutupan operasional PT Krakatau Osaka Steel (KOS) menjadi sorotan publik setelah video perpisahan para karyawannya viral di media sosial. Momen haru itu memperlihatkan para pekerja saling berpelukan, berfoto bersama, hingga menuliskan pesan perpisahan di kertas maupun seragam rekan kerja pada hari terakhir operasional perusahaan, 30 April 2026.

Dalam sejumlah unggahan yang beredar, tampak tulisan seperti “Selamat Tinggal PT KOS”, “Bunda, kita mulai lagi dari nol ya”, hingga “Terima kasih sudah menjadi rumah kedua”. Video tersebut diunggah oleh akun Family Gathering Official KOS @thefamgath dan kemudian menyebar luas di platform X serta Instagram, memicu reaksi emosional dari warganet.

Dilansir Kompas, penutupan KOS kembali menyoroti tekanan besar yang dihadapi industri baja nasional. Sektor ini selama ini dikenal sebagai salah satu pilar utama manufaktur karena menopang berbagai industri turunan, mulai dari konstruksi hingga otomotif. Namun, dalam beberapa tahun terakhir, pelaku industri domestik semakin kesulitan bertahan di tengah derasnya arus baja impor, khususnya dari China.

Kondisi tersebut diperparah oleh perbedaan harga yang signifikan. Produk baja impor sering kali masuk dengan harga jauh lebih murah, sehingga menekan daya saing produsen dalam negeri. Di sisi lain, biaya produksi lokal yang relatif tinggi membuat perusahaan domestik kesulitan menandingi harga pasar.

Banyak warganet yang keliru mengira PT Krakatau Osaka Steel merupakan badan usaha milik negara (BUMN). Padahal, perusahaan ini merupakan hasil kerja sama antara PT Krakatau Steel (Persero) Tbk dengan Osaka Steel Co Ltd dari Jepang. Basis operasionalnya berada di Cilegon, Banten, yang selama ini dikenal sebagai pusat industri baja nasional.

Fenomena penutupan ini bukan kasus tunggal. Sejumlah pelaku industri baja dalam negeri sebelumnya juga menghadapi tekanan serupa, mulai dari penurunan utilisasi pabrik hingga efisiensi tenaga kerja. Kondisi ini memicu kekhawatiran akan deindustrialisasi, terutama pada sektor hulu yang memiliki efek berantai luas terhadap perekonomian.

Pengamat industri menilai, salah satu faktor utama yang memperburuk situasi adalah belum optimalnya kebijakan perlindungan industri dalam negeri, termasuk penerapan tarif dan instrumen trade remedies seperti anti-dumping. Tanpa intervensi yang kuat, industri baja nasional berisiko semakin tergerus oleh produk impor.

Selain itu, perlambatan proyek infrastruktur dan fluktuasi permintaan domestik juga ikut memengaruhi kinerja industri. Ketika permintaan melemah, produsen lokal semakin sulit menyerap kapasitas produksi yang tersedia.

Peristiwa penutupan PT Krakatau Osaka Steel menjadi pengingat bahwa tantangan industri baja nasional tidak hanya bersifat kompetitif, tetapi juga struktural. Tanpa langkah strategis yang komprehensif, termasuk penguatan kebijakan industri dan peningkatan efisiensi produksi, bukan tidak mungkin lebih banyak perusahaan domestik akan mengalami nasib serupa.

Di tengah situasi tersebut, suara para pekerja yang terdampak menjadi refleksi nyata dari dinamika industri. Kalimat sederhana seperti “Terima kasih sudah menjadi rumah kedua” tidak hanya menggambarkan hubungan antara pekerja dan perusahaan, tetapi juga menjadi simbol dari perubahan besar yang sedang terjadi dalam lanskap industri nasional.

Tags: Krakatau Steel tutup

Populer

  • 1
    Skenario Promosi Liga 2: PSS Sleman di Atas Angin, Persipura Menempel, Barito Putera Butuh Keajaiban
  • 2
    Gree Expert Shop Resmi Hadir di Maksasar, Tawarkan Kecanggihan AC Mulai Rp2 Jutaan, Garansi 10 Tahun, hingga Layanan Servis 24 Jam
  • 3
    Garudayaksa FC Kunci Promosi ke Super League 2026-2027 Usai Tekuk Persikad, Adhyaksa FC Jalani Playoff
  • 4
    Daftar Tanggal Merah Mei 2026: Ada 6 Hari Libur dan Tiga Long Weekend
  • 5
    16 Pangkalan Militer AS di Timur Tengah Rusak Diserang Iran, Kerugian Tembus USD25 Miliar

Ekonomi

  • DJP Sulselbartra Catat Pertumbuhan SPT 9,67 Persen, Tempati Peringkat Dua Nasional
    DJP Sulselbartra Catat Pertumbuhan SPT 9,67 Persen, Tempati Peringkat Dua Nasional
  • Krakatau Osaka Steel Tutup, Industri Baja Domestik Tertekan Gempuran Produk Impor China
    Krakatau Osaka Steel Tutup, Industri Baja Domestik Tertekan Gempuran Produk Impor China
  • BYD Haka Auto Dorong Pengembangan Talenta Industri, CEO Hariyadi Kaimuddin Berbagi Pengalaman di Forum IATI ITB
    BYD Haka Auto Dorong Pengembangan Talenta Industri, CEO Hariyadi Kaimuddin Berbagi Pengalaman di Forum IATI ITB

Peristiwa

  • Eks Wakil Ketua PN Depok Ajukan Praperadilan, Uji Penyitaan KPK di PN Jakarta Selatan
    Eks Wakil Ketua PN Depok Ajukan Praperadilan, Uji Penyitaan KPK di PN Jakarta Selatan
  • Rupiah Berpeluang Menguat, Sentimen Global Membaik Usai Pernyataan Trump soal Selat Hormuz
    Rupiah Berpeluang Menguat, Sentimen Global Membaik Usai Pernyataan Trump soal Selat Hormuz
  • Lai Ching-te Tiba di Eswatini Usai Hambatan Izin Terbang, Klaim Tekanan China Menguat
    Lai Ching-te Tiba di Eswatini Usai Hambatan Izin Terbang, Klaim Tekanan China Menguat
  • Beranda
  • Tentang Kami
  • Struktur
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer
  • Indeks
© 2024 - 2026 LUMINASIA.ID