LUMINASIA.ID, SPORT - Oklahoma City Thunder kembali menunjukkan dominasinya atas Los Angeles Lakers pada semifinal Wilayah Barat NBA 2026. Bermain di Paycom Center, Thunder sukses menjaga keunggulan dalam duel ketat Game 2 yang berlangsung sengit sejak kuarter pertama.
Dilansir NBA, memasuki kuarter ketiga, pertandingan berjalan ketat dengan Thunder unggul tipis 70-71 atas Lakers. Kedua tim saling menekan dalam tempo tinggi, namun efektivitas Oklahoma City tetap menjadi pembeda utama sepanjang laga. Statistik sementara menunjukkan Thunder lebih agresif dalam memanfaatkan second chance points dan fast break dibanding Lakers.
Sorotan utama kembali tertuju kepada bintang Oklahoma City, Shai Gilgeous-Alexander. Meski pada Game 1 ia tidak mencetak angka sebesar biasanya akibat penjagaan ketat Lakers, MVP NBA musim ini menegaskan dirinya nyaman menghadapi skema double team yang terus diterapkan lawan.
“Pada akhirnya itu justru bentuk permainan basket yang paling mudah. Saya lebih suka menghadapi situasi seperti itu dibanding harus bermain satu lawan satu sepanjang malam. Rekan-rekan setim jadi punya ruang bermain empat lawan tiga, dan itu memang yang kami inginkan,” ujar Gilgeous-Alexander.
Pada pertandingan sebelumnya, Thunder sukses menang 108-90 atas Lakers meski Gilgeous-Alexander hanya mencetak 18 poin dan melakukan tujuh turnover. Itu menjadi pertama kalinya sang guard gagal menembus 20 poin dalam 81 pertandingan terakhirnya sejak final Wilayah Barat musim lalu. Namun strategi Lakers dianggap belum cukup efektif karena Oklahoma City tetap mampu menang dengan margin besar.
Center Thunder, Isaiah Hartenstein, mengatakan timnya justru semakin nyaman ketika lawan terus memaksa jebakan kepada Shai. Menurutnya, Oklahoma City memiliki banyak pemain yang mampu membaca situasi dan memanfaatkan ruang kosong.
“Kami punya banyak pemain yang bisa mengambil keputusan dengan baik. Kami merasa sangat nyaman ketika lawan melakukan trapping karena kami tahu bagaimana membaca situasi dan memanfaatkan celah yang muncul,” kata Hartenstein.
Pelatih Thunder, Mark Daigneault, juga menilai strategi Lakers membuka peluang besar bagi timnya untuk mendominasi rebound ofensif. Thunder berhasil mengubah 12 offensive rebound menjadi 21 second-chance points pada Game 1.
“Ketika mereka bermain seperti itu, justru ada keuntungan untuk kami. Mereka mengirim dua pemain untuk menjaga Shai sejak awal serangan dan itu menciptakan peluang rebound yang besar,” ujar Daigneault.
Di kubu Lakers, absennya Luka Doncic masih menjadi masalah besar. Doncic mengaku kondisinya terus membaik setelah mengalami cedera hamstring pada April lalu, namun belum bisa memastikan kapan akan kembali bermain. Kehilangan pemain yang menjadi mesin serangan utama membuat Lakers kesulitan membongkar pertahanan disiplin Thunder.
Megabintang Lakers, LeBron James, mengakui timnya harus tampil jauh lebih baik secara ofensif bila ingin menyamakan kedudukan seri. Lakers hanya mencetak 90 poin di Game 1, menjadi jumlah poin terendah mereka dalam laga playoff sejak 2021.
“Ketika menghadapi pertahanan hebat, Anda membutuhkan pemain yang bisa menarik perhatian lebih dari satu defender. Kami harus lebih baik dalam menembus paint area, mengurangi turnover, dan menembak dengan percaya diri,” kata LeBron James.
Sementara itu, pelatih Lakers JJ Redick mengungkapkan forward Jarred Vanderbilt masih berstatus day-to-day setelah mengalami dislokasi jari kelingking kanan pada pertandingan sebelumnya. Vanderbilt bahkan disebut diragukan tampil pada Game 2.
Dengan kemenangan di Game 1 dan performa solid pada Game 2, Thunder semakin dekat untuk memperlebar keunggulan atas Lakers dalam semifinal Wilayah Barat NBA 2026.

