Langsung ke konten
DuaSisi
jmsi sulsel
  • HIBURAN
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
  • VIRAL
  • PERISTIWA
  • SULSEL
  • EDUKASI
  • LIFESTYLE
  • OPINI
  • VIDEO
  • MAKASSAR
  • INDEKS
Beranda Lifestyle

Novelis Ternama dan Editor dari Prancis Cari Karya Terbaik Indonesia di MIWF 2026

Jumat, 15 Mei 2026 16:31
Editor: Ina Maharani
  • Bagikan
Dari kiri ke kanan Presiden Academie Goncourt sekaligus novelis Prancis Philippe Claudel, editor dan Sekretaris Jenderal Éditions Gallimard Karina Hocine, serta Duta Besar Prancis untuk Indonesia Fabien Penone

LUMINASIA.ID, MAKASSAR - Suasana hangat terasa di Alliance Française Makassar, Jalan Maipa, Jumat (15/5/2026), saat delegasi sastra Prancis hadir dalam acara Media Gathering: La France Meet MIWF. Kedatangan Presiden Académie Goncourt sekaligus novelis Prancis ternama Philippe Claudel, editor dan Sekretaris Jenderal Éditions Gallimard Karina Hocine, serta Duta Besar Prancis untuk Indonesia Fabien Penone menjadi bagian penting dari rangkaian Makassar International Writers Festival (MIWF) 2026.

Festival sastra internasional yang tahun ini mengusung tema “Re-co-ordinate” tersebut menghadirkan fokus khusus bertajuk “MIWF Meets France”, sebuah kolaborasi strategis untuk mempererat hubungan sastra dan budaya antara Indonesia dan Prancis.

Program ini didukung oleh Tim Promosi Sastra Kementerian Kebudayaan RI bersama MTN Bidang Sastra sebagai bagian dari implementasi Deklarasi Borobudur mengenai kerja sama budaya yang sebelumnya disepakati Presiden Prabowo Subianto dan Presiden Prancis Emmanuel Macron.

Dalam gathering tersebut, Philippe Claudel menjelaskan bahwa ketertarikan Prancis terhadap Indonesia tidak hanya datang dari hubungan diplomatik, tetapi juga dari besarnya minat masyarakat Indonesia terhadap bahasa dan budaya Prancis.

“Alliance Française merupakan salah satu mitra kami, tempat berbagai pertanyaan tentang bahasa Prancis, sastra Prancis, penerbit Prancis, serta bagaimana memungkinkan untuk menulis, membaca, membayangkan sebuah novel, hingga membangun hubungan dan kemitraan antara negara kita dibahas bersama,” ujar Claudel.

Ia mengatakan dirinya dan Karina Hocine telah mengunjungi sejumlah kota di Indonesia sebelum tiba di Makassar dan menemukan antusiasme besar terhadap budaya Prancis.

“Alasan mengapa saya dan Karina berada di sini selama pekan ini adalah karena kami sebelumnya telah mengunjungi beberapa kota berbeda di Indonesia, dan kami menemukan ketertarikan yang sangat besar dari masyarakat Indonesia terhadap bahasa Prancis, budaya Prancis, dan seni Prancis. Hal itu sangat menggembirakan bagi kami untuk turut berkontribusi dalam memperkuat hubungan antara kedua negara,” katanya.

Philippe Claudel bukan nama asing dalam dunia sastra Eropa. Penulis kelahiran Lorraine, Prancis, itu dikenal lewat sejumlah novel internasional seperti Brodeck’s Report, Grey Souls, hingga The Tree of Toraja. Selain sebagai novelis dan sutradara film, Claudel juga menjabat Presiden Académie Goncourt, lembaga sastra paling prestisius di Prancis yang menaungi penghargaan Prix Goncourt sejak 1903.

Sementara Karina Hocine merupakan editor senior dan Sekretaris Jenderal Éditions Gallimard, salah satu rumah penerbitan paling berpengaruh di Prancis yang berdiri sejak 1911. Gallimard dikenal menerbitkan karya-karya sastra dunia dari penulis seperti Albert Camus, Marcel Proust, Antoine de Saint-Exupéry, hingga puluhan peraih Nobel Sastra.

Dalam paparannya, Karina Hocine menyoroti masih minimnya karya sastra Indonesia yang diterjemahkan ke dalam bahasa Prancis.

“Kami adalah sebuah rumah penerbitan yang menerbitkan media dan buku, termasuk karya para penulis asing. Namun tentu saja, Indonesia masih sangat kurang terwakili, sebagaimana juga terjadi dalam dunia sastra Prancis secara umum. Kami belum memiliki cukup banyak penulis Indonesia yang diterjemahkan dari bahasa Indonesia ke bahasa Prancis,” ujar Karina.

Ia bahkan mengungkapkan bahwa Gallimard selama puluhan tahun baru menerbitkan satu penulis Indonesia.

“Ketika saya melihat perusahaan saya, Gallimard, yang telah menerbitkan buku-buku asing selama lebih dari 95 tahun, kami hanya memiliki satu penulis Indonesia, yaitu Pramoedya Ananta Toer, yang diterbitkan oleh Gallimard. Kami belum memiliki cukup banyak penulis kontemporer Indonesia,” katanya.

Menurutnya, kondisi serupa juga terjadi di Indonesia karena sastra Prancis kontemporer belum banyak diterjemahkan.

“Di sisi lain, penulis Prancis yang diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia juga masih terbatas. Memang, Anda sudah mengenal karya-karya klasik seperti Sartre, Camus, Beauvoir, hingga Modiano, yang sudah menjadi warisan penting dalam sastra dunia. Namun kami belum banyak melihat penulis Prancis kontemporer diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia,” lanjutnya.

Karina berharap kehadiran delegasi Prancis di MIWF menjadi awal kolaborasi baru antara penerbit dan penulis dari kedua negara.

“Karena itu saya berharap kunjungan kami ke sini, bersama peluncuran Choix Goncourt Indonesia dan seluruh kegiatan selama pekan ini, bisa menjadi awal dari kolaborasi baru. Sejak tiba di Jakarta dan hadir di festival ini, kami telah bertemu dengan berbagai rumah penerbitan, para penulis, termasuk penulis-penulis muda yang sedang berkembang di Indonesia. Saya berharap ini menjadi awal kerja sama baru yang akan membantu menghadirkan lebih banyak buku dalam kedua bahasa,” ujarnya.

Dalam sesi tanya jawab, Philippe Claudel juga berbicara mengenai pandangannya terhadap sastra Indonesia. Ia mengaku baru saja membaca karya terbaru Eka Kurniawan yang telah diterjemahkan ke bahasa Prancis.

“Dua minggu lalu saya membaca novel karya penulis Indonesia yang sangat terkenal, Eka Kurniawan. Itu adalah karya terbarunya yang diterjemahkan ke bahasa Prancis,” katanya.

Menurut Claudel, novel tersebut memberinya gambaran menarik tentang kehidupan masyarakat Indonesia masa kini.

“Bagi saya sangat menarik mengikuti kehidupan tokoh utamanya, seorang anak laki-laki berusia sekitar delapan hingga 16 tahun, yang hidup di sebuah desa kecil di Indonesia. Saya tertarik melihat hubungan antara anak itu dengan ayahnya. Sang ayah sangat religius dan ingin anaknya mengikuti jalan hidup yang sama dalam keimanan. Namun anak itu justru ingin bermain sepak bola, berkumpul bersama teman-temannya, menonton film, dan menikmati kehidupan remaja. Jadi ada benturan antara dua budaya dan dua keinginan hidup,” ujarnya.

Ia juga mengaku tertarik mengenal konteks kehidupan masyarakat Indonesia melalui sastra dan film.

“Pada saat yang sama, saya merasa sangat menarik bisa mengenal konteks kehidupan di sebuah kota kecil di Indonesia masa kini,” katanya.

Tak hanya itu, Claudel ternyata memiliki kedekatan khusus dengan Toraja dan Sulawesi Selatan. Ia mengungkapkan pernah menulis novel The Tree of Toraja yang terbit di Prancis pada 2017, terinspirasi dari refleksi tentang kematian dan budaya Toraja.

“Saya pernah menulis tentang hubungan kita dengan tubuh orang yang telah meninggal, tentang bagaimana sebuah tubuh diperlakukan, dan berbagai hal lainnya. Judul buku itu adalah The Tree of Toraja, dan saya menerbitkannya di Prancis pada tahun 2017,” ujarnya.

Ia menyebut budaya Toraja sebagai salah satu kekayaan budaya paling kuat yang pernah dikenalnya di Indonesia.

“Toraja memiliki budaya yang sangat kaya di kawasan Makassar dan Sulawesi Selatan,” katanya.

Ketika moderator bertanya apakah itu merupakan kunjungan pertamanya ke Makassar, Claudel menjawab singkat.

“Bukan, ini bukan pertama kalinya bagi saya. Tetapi bagi sebagian yang lain, ini adalah pengalaman pertama,” ujarnya.

Delegasi Prancis tersebut juga dijadwalkan mengunjungi Taman Arkeologi Leang-Leang sebagai bagian dari rangkaian budaya MIWF 2026.

Dalam suasana santai, Claudel juga sempat bercanda tentang budaya Toraja.

“Anda seharusnya melihat tradisi ‘Dead Man Walking’ di Toraja,” katanya sambil tertawa, merujuk tradisi penghormatan terhadap jenazah leluhur di Toraja.

Ia juga mengaku terkesan dengan keramahan masyarakat Makassar meski cuaca kota ini menurutnya sangat panas.

“Panasnya luar biasa. Mataharinya sangat terik,” ujarnya sambil tertawa.

Namun suasana hangat masyarakat Indonesia justru menjadi pengalaman yang membekas baginya.

“Bagi orang Prancis, sangat tidak biasa bertemu orang-orang yang selalu tersenyum dengan tulus. Karena orang Prancis biasanya terlihat seperti ‘grrr…’,” katanya yang langsung disambut tawa hadirin.

“Jadi suasana di sini sangat menyenangkan. Sangat menyenangkan. Terima kasih banyak,” tambahnya.

Dalam kesempatan yang sama, Duta Besar Prancis untuk Indonesia Fabien Penone menegaskan bahwa hubungan sastra Prancis dan Indonesia harus berjalan dua arah.

“Ini adalah kemitraan yang nyata, yang berarti hubungan ini berjalan dua arah,” ujarnya.

Fabien mengatakan hingga saat ini jumlah penulis Indonesia yang diterjemahkan di Prancis masih terlalu sedikit.

“Hingga saat ini, penulis Indonesia yang diterjemahkan di Prancis masih terlalu sedikit. Kebanyakan adalah penulis warisan sastra atau penulis klasik Indonesia. Penerbit Gallimard, yang telah menerbitkan begitu banyak karya sastra asing selama lebih dari 80 tahun, sejauh ini hanya pernah menerjemahkan satu penulis Indonesia. Mereka hanya memiliki satu penulis besar Indonesia dalam katalog mereka, yaitu Pramoedya Ananta Toer,” katanya.

Menurutnya, MIWF menjadi momentum penting untuk membangun jembatan baru sastra kedua negara.

“Karena itu, kami benar-benar berharap melalui kehadiran kami di Festival Makassar ini, setelah melakukan berbagai pengambilan gambar dan bertemu dengan banyak talenta muda Indonesia, akan lahir hubungan sastra yang lebih kuat dan lebih hidup di masa depan,” ujarnya.

Kehadiran Philippe Claudel dan Karina Hocine di MIWF 2026 juga sekaligus menandai peluncuran perdana Choix Goncourt Indonesia, program yang memungkinkan mahasiswa Indonesia membaca dan memilih karya sastra Prancis terbaik dari daftar Prix Goncourt.

Program ini melibatkan tujuh universitas di Indonesia dan diharapkan menjadi jalan baru lahirnya generasi pembaca, penerjemah, dan penulis yang mampu menjembatani sastra Indonesia dan Prancis di masa depan.

Kegiatan di Makassar

Partisipasi mereka dalam program “MIWF Meets France” dipandang Kementerian Kebudayaan RI sebagai peluang penting untuk memperkuat posisi sastra Indonesia di tingkat global melalui hubungan yang lebih erat antara penulis, penerbit, dan pembaca dari Indonesia maupun Prancis.

Duta Besar Prancis untuk Indonesia Fabien Penone turut hadir memberikan pidato pembukaan dalam rangkaian MIWF pada Kamis, 14 Mei 2026.

Rangkaian kegiatan delegasi Prancis dimulai pada Kamis pagi pukul 10.00 WITA melalui diskusi bertajuk “Surealisme dan Magis dalam Sastra” yang menghadirkan Philippe Claudel bersama penulis Indonesia Faisal Oddang. Dalam sesi tersebut, keduanya membahas unsur magis, realisme, dan identitas budaya dalam karya sastra.

Masih pada hari yang sama, pukul 13.30 WITA, Karina Hocine mengikuti sesi “Meet The Publisher” bersama sejumlah penerbit Indonesia seperti Marjin Kiri, KPG, GPU, Sokong, dan BaNANA. Pertemuan tersebut membuka ruang dialog mengenai peluang penerjemahan karya sastra Indonesia ke bahasa Prancis maupun sebaliknya.

Karina Hocine sendiri merupakan editor dan Sekretaris Jenderal Éditions Gallimard, rumah penerbitan legendaris asal Prancis yang berdiri sejak 1911 dan dikenal menerbitkan karya penulis dunia seperti Marcel Proust, Albert Camus, hingga Antoine de Saint-Exupéry. Gallimard juga tercatat memiliki katalog puluhan peraih Nobel Sastra dunia.

Sementara Philippe Claudel dikenal sebagai salah satu novelis penting Prancis sekaligus Presiden Académie Goncourt, lembaga sastra paling prestisius di Prancis yang menaungi penghargaan Prix Goncourt sejak 1903.

Memasuki hari kedua pada Jumat, 15 Mei 2026, Philippe Claudel kembali tampil dalam panel “Hidup dalam Marabahaya” pukul 16.00 WITA bersama aktivis lingkungan Rossy You dan Faris Gaban. Diskusi tersebut membahas posisi manusia di tengah ancaman krisis ekologis dan ekosida yang menjadi bagian dari tema besar MIWF tahun ini, “Re-co-ordinate”.

Pada malam harinya, Tim Promosi Sastra Kementerian Kebudayaan RI juga menggelar Networking Night yang mempertemukan delegasi Prancis dengan para pelaku sastra Indonesia, termasuk penulis muda peserta Emerging Writers MIWF 2026.

Selain itu, MTN Bidang Sastra turut menghadirkan dua penulis Indonesia, Avianti Armand dan Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie, dalam program MTN IkonInspirasi Bidang Sastra pada Jumat malam pukul 19.20 WITA untuk berbagi pengalaman mengenai perjalanan karier kepenulisan mereka.

Kegiatan delegasi Prancis di Makassar tidak hanya berfokus pada forum sastra, tetapi juga menyentuh sisi budaya Sulawesi Selatan. Pada Sabtu, 16 Mei 2026, Tim Promosi Sastra mengorganisir kunjungan budaya ke Taman Arkeologi Leang-Leang bagi para delegasi Prancis.

Kunjungan tersebut dilakukan sebagai bentuk pengenalan sekaligus penghargaan terhadap sejarah dan warisan budaya Sulawesi Selatan kepada tamu internasional.

Pada hari yang sama, Philippe Claudel juga dijadwalkan membacakan penggalan karya sastranya dalam sesi “Under the Poetic Starr”. Menariknya, pembacaan karya tersebut tidak hanya diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia tetapi juga diinterpretasikan dalam bahasa isyarat agar dapat dinikmati lebih luas oleh masyarakat.

Tags: MIWF Fabien Penone prancis

Baca Juga

Ada Apa William Saliba Mundur dari Timnas Prancis Usai FInal? Ternyata karena Ini
Ada Apa William Saliba Mundur dari Timnas Prancis Usai FInal? Ternyata karena Ini
Fakta-fakta Pencurian Besar Siang Hari di Museum Louvre: Permata Mahkota Prancis Raib dalam 7 Menit
Fakta-fakta Pencurian Besar Siang Hari di Museum Louvre: Permata Mahkota Prancis Raib dalam 7 Menit
Suarakan Literasi untuk Semua, MIWF 2025 Hadirkan Penyair Non Binary dan Gender Minoritas
Suarakan Literasi untuk Semua, MIWF 2025 Hadirkan Penyair Non Binary dan Gender Minoritas

Populer

  • 1
    Profil Indri Wahyuni Juri Cerdas Cermat MPR Perempuan yang Viral, Harta Kekayaan Capai Rp3,9 M
  • 2
    Sosok Dyastasita Widya Budi, Juri Pria Cerdas Cermat MPR yang Viral Salahkan Jawaban
  • 3
    Nasib Juri Cerdas Cermat MPR Usai Viral, Kini Nonaktif dan Terancam Sanksi
  • 4
    XLSMART Awali 2026 dengan Kinerja Solid, Integrasi dan Ekspansi 5G Jadi Motor Pertumbuhan
  • 5
    Nadiem Operasi Apa? Ternyata Berhubungan dengan Area Anus, Ini Penjelasannya

Ekonomi

  • 392.910 Tabung LPG 3 Kg Ditambah Pertamina Sulawesi untuk Libur Long Weekend
    392.910 Tabung LPG 3 Kg Ditambah Pertamina Sulawesi untuk Libur Long Weekend
  • Dari Mangrove hingga Anak Penyintas Kanker, Perempuan Astra Perluas Dampak Sosial
    Dari Mangrove hingga Anak Penyintas Kanker, Perempuan Astra Perluas Dampak Sosial
  • OJK Dorong Kepastian Hukum Penanganan Kredit Macet di Perbankan
    OJK Dorong Kepastian Hukum Penanganan Kredit Macet di Perbankan

Peristiwa

  • Nadiem Operasi Apa? Ternyata Berhubungan dengan Area Anus, Ini Penjelasannya
    Nadiem Operasi Apa? Ternyata Berhubungan dengan Area Anus, Ini Penjelasannya
  • GMTD Gelar Donor Darah dan Cek Kesehatan Gratis Peringati Hari Hipertensi Sedunia
    GMTD Gelar Donor Darah dan Cek Kesehatan Gratis Peringati Hari Hipertensi Sedunia
  • MaxOne Hotel Makassar Gelar Donor Darah, Terkumpul 83 Kantong
    MaxOne Hotel Makassar Gelar Donor Darah, Terkumpul 83 Kantong
  • Beranda
  • Tentang Kami
  • Struktur
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer
  • Indeks
© 2024 - 2026 LUMINASIA.ID