LUMINASIA.ID, Jakarta – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyatakan fenomena El Nino telah resmi aktif berdasarkan hasil pemantauan atmosfer pada Dasarian I Juli 2026. Kondisi tersebut diperkirakan akan meningkatkan potensi cuaca kering di berbagai wilayah Indonesia dalam beberapa bulan ke depan.
Dalam Analisis Dinamika Atmosfer Dasarian I Juli 2026 yang dirilis pada 13 Juli, BMKG mencatat nilai Sea Surface Temperature Anomaly (SSTA) di wilayah Nino3.4 secara dasarian mencapai +1,88, sedangkan nilai bulanan sebesar +1,56. Angka tersebut menunjukkan bahwa peristiwa El Nino telah berlangsung.
Sementara itu, indeks Indian Ocean Dipole (IOD) tercatat sebesar -0,224 secara dasarian dan -0,387 secara bulanan.
Sejalan dengan perkembangan tersebut, BMKG mengeluarkan peringatan dini kekeringan meteorologis untuk Dasarian II Juli 2026. Status Waspada berlaku di sejumlah kabupaten dan kota di Provinsi Bali, DI Yogyakarta, Gorontalo, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Kalimantan Selatan, Kepulauan Bangka Belitung, Maluku, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Papua Selatan, Sulawesi Selatan, serta Sulawesi Utara.
Adapun status Siaga diberlakukan di sebagian wilayah Bali, Banten, DI Yogyakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Maluku, Nusa Tenggara Barat, dan Nusa Tenggara Timur. BMKG belum menetapkan wilayah dengan status Awas.
Di sisi lain, BMKG hanya mengeluarkan peringatan dini curah hujan tinggi dengan status Waspada untuk beberapa kabupaten dan kota di Provinsi Papua Tengah pada Dasarian II Juli 2026. Tidak terdapat wilayah dengan status Siaga maupun Awas untuk potensi hujan lebat.
Hasil analisis menunjukkan curah hujan pada Dasarian I Juli 2026 didominasi kategori rendah dengan cakupan mencapai 72,38 persen wilayah Indonesia. Curah hujan kategori menengah mencakup 25,99 persen, kategori tinggi 1,58 persen, sedangkan kategori sangat tinggi hanya 0,05 persen.
Dari sisi sifat hujan, sekitar 70,08 persen wilayah Indonesia mengalami curah hujan di bawah normal. Sementara wilayah dengan sifat hujan jauh di atas normal mencapai 8,78 persen, di atas normal 8,29 persen, dan normal 12,86 persen.
BMKG juga melaporkan bahwa 60,5 persen Zona Musim (ZOM) atau sebanyak 423 ZOM telah memasuki musim kemarau. Wilayah tersebut meliputi sebagian besar Pulau Jawa, Bali, Nusa Tenggara, sebagian Sumatra, Kalimantan, Sulawesi, Maluku, hingga Papua.
Untuk periode Dasarian II Juli hingga Dasarian I Agustus 2026, curah hujan di sebagian besar Indonesia diperkirakan berada pada kategori rendah hingga menengah, yakni berkisar 0–150 milimeter per dasarian. Wilayah yang diprediksi mengalami curah hujan kurang dari 50 milimeter per dasarian meliputi sebagian besar Sumatra, Jawa, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan, Sulawesi, Maluku, hingga Papua.
BMKG juga memproyeksikan peluang curah hujan kurang dari 50 milimeter per bulan masih tinggi selama Agustus hingga November 2026.
Pada Agustus 2026, kondisi tersebut diperkirakan terjadi di sebagian Sumatra Selatan, Lampung, Pulau Jawa, Bali, NTB, NTT, wilayah selatan dan timur Kalimantan, sebagian besar Sulawesi, Maluku Utara, Maluku, serta sebagian wilayah Papua.
Memasuki September 2026, potensi kekeringan diprediksi meluas ke Bengkulu bagian selatan, Kepulauan Bangka Belitung, hampir seluruh Pulau Jawa, Kalimantan Tengah dan Selatan, sebagian besar Kalimantan Timur, Sulawesi, Maluku, hingga Papua Selatan.
Sementara pada Oktober dan November 2026, peluang curah hujan di bawah 50 milimeter per bulan masih diperkirakan terjadi di sejumlah wilayah Pulau Jawa, Bali, Nusa Tenggara, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, serta beberapa daerah di Sumatra dan Maluku.
BMKG mengimbau masyarakat, khususnya di wilayah yang telah memasuki musim kemarau dan berstatus waspada maupun siaga kekeringan, untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi kekurangan air, kebakaran hutan dan lahan, serta dampak lain yang dipicu oleh menguatnya fenomena El Nino.

