LUMINASIA.ID, MAROS - Universitas Kristen Indonesia Paulus (UKI Paulus) bersama Universitas Muslim Indonesia (UMI) Makassar melalui Program Pengabdian kepada Masyarakat menerapkan Model Penangkaran Kedelai Adaptif Perubahan Iklim di Desa Jenetaesa, Kecamatan Simbang, Kabupaten Maros.
Program yang berlangsung sejak April 2026 ini merupakan bagian dari skema Pemberdayaan Desa Binaan yang didanai melalui hibah Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi.
Program Pengabdian kepada Masyarakat tersebut dipimpin Dr. Ir. Hendrik Gunadi, M.P., bersama tim yang terdiri atas Dr. Ir. Suraedah Alimuddin, M.P., Dr. Erna Pasanda, S.E., M.Si., dan Ir. Machmud Djunaidy, M.Si.
Dalam tim tersebut turut terlibat mahasiswa dari Program Studi Manajemen dan Teknik Sipil UKI Paulus, yakni Deni, Imelda Lolo Payung, Yisarp Anugra Matallo, Liselsya Ivana Katunde, dan Gabriel Misiyas Biri.
Tim bekerja sama dengan Kelompok Tani Langkasa dan Kelompok Tani Langkasa Baru dalam upaya menerapkan sistem penangkaran kedelai yang adaptif terhadap perubahan iklim.
Penangkaran kedelai di Jenetaesa masih menghadapi sejumlah persoalan, mulai dari produksi, manajemen, hingga pemasaran hasil panen.
Ketua Kelompok Tani Langkasa Saharuddin, Ketua Kelompok Tani Langkasa Baru Samsul, serta Ketua Gabungan Kelompok Tani Sipakatau Mustari menyampaikan bahwa persoalan tersebut telah lama menjadi kendala dalam pemanfaatan sawah tadah hujan di Jenetaesa.
Tim mengidentifikasi sejumlah faktor yang menyebabkan permasalahan tersebut, antara lain kualitas benih yang rendah, kehilangan pascapanen yang cukup besar, manajemen pertanaman yang belum tepat, serta sistem pemasaran yang masih konvensional.
Sebagai solusi, tim menawarkan sejumlah pendekatan untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas produksi kedelai.
Perbaikan kualitas dilakukan melalui penggunaan benih yang adaptif terhadap iklim, sedangkan peningkatan kuantitas dilakukan dengan menentukan jadwal tanam berdasarkan data spasial dan CROPSYST model yang disosialisasikan oleh Dr. Ir. Hendrik Gunadi, M.P.
Untuk penanganan pascapanen, tim mendorong upaya meminimalkan kehilangan hasil melalui penggunaan alat dan mesin pertanian, berupa mesin perontok dan mesin sortasi, guna menjaga kualitas benih hasil penangkaran.
Materi tersebut disosialisasikan oleh Dr. Ir. Suraedah Alimuddin, M.P.
Sementara itu, manajemen pertanaman diarahkan pada pemanfaatan keterkaitan iklim Pantai Timur dan Pantai Barat Sulawesi Selatan untuk mendukung produksi berkelanjutan sepanjang tahun.
Materi tersebut disosialisasikan oleh Ir. Machmud Djunaidy, M.Si.
Dari sisi pemasaran, tim memberikan pemahaman mengenai pentingnya memperhatikan segmentasi pasar, baik untuk benih hasil penangkaran maupun kedelai konsumsi.
Materi pemasaran tersebut disosialisasikan oleh Dr. Erna Pasanda, S.E., M.Si.
Solusi yang ditawarkan tersebut diharapkan dapat menjaga kualitas benih agar layak ditanam kembali maupun dikonsumsi.
Selain itu, penerapan model tersebut diharapkan mampu menekan kehilangan hasil pascapanen yang selama ini cukup tinggi serta memastikan hasil produksi, baik benih penangkaran maupun kedelai konsumsi, dapat dipasarkan secara lebih luas.
Penerapan berbagai solusi tersebut diharapkan memberikan perubahan signifikan terhadap produk hasil penangkaran dan kedelai konsumsi, baik dari sisi kualitas maupun kuantitas.
Pada akhirnya, peningkatan kualitas dan kuantitas produksi diharapkan turut meningkatkan taraf perekonomian keluarga petani di Desa Jenetaesa.



