LUMINASIA.ID, SURABAYA, 21 Agustus 2026 — Gerakan Mahasiswa dan Pemuda Buddhis Indonesia (GEMABUDHI) Jawa Timur mendorong pentingnya sikap mawas diri, kepedulian sosial, serta hubungan yang harmonis antara manusia dan alam dalam menghadapi berbagai bencana dan persoalan lingkungan.
Pesan tersebut disampaikan Ketua DPD GEMABUDHI Jawa Timur, Friski Fernando, S.E., M.M., saat menjadi narasumber dalam program Beranda Asta Cita RRI Pro 1 Surabaya 99,2 FM, Jumat (21/8/2026).
Dalam dialog bertema “Pentingnya Mawas Diri: Bersahabat dengan Alam dan Mengikis Keserakahan dalam Menyikapi Bencana dan Musibah yang Terjadi”, Friski membawa perspektif Buddha Dhamma mengenai bagaimana manusia seharusnya menyikapi alam, bencana, serta kecenderungan keserakahan dalam kehidupan.
Sebagai Ketua DPD GEMABUDHI Jawa Timur, Friski menekankan bahwa nilai-nilai Buddhis tidak berhenti pada kehidupan spiritual individu, tetapi juga dapat menjadi landasan bagi umat Buddha untuk membangun kepedulian terhadap masyarakat dan lingkungan.
Menurutnya, bencana seharusnya menjadi momentum untuk melakukan mawas diri—bukan hanya mengenai bagaimana manusia menghadapi musibah setelah terjadi, tetapi juga bagaimana manusia mengevaluasi perilaku yang dilakukan sebelum musibah terjadi.
“Jangan sampai bencana hanya mengajarkan kita bagaimana bertahan setelah musibah terjadi. Bencana juga harus mengajarkan kita bagaimana hidup lebih bijaksana sebelum musibah datang,” ujar Friski.
GEMABUDHI Mendorong Kesadaran Hidup Berdampingan dengan Alam
Dalam perspektif Buddha Dhamma yang disampaikan Friski, kehidupan manusia tidak berdiri sendiri. Manusia memiliki keterkaitan dan ketergantungan dengan lingkungan serta makhluk hidup lainnya.
Karena itu, menurutnya, manusia tidak seharusnya memandang alam semata-mata sebagai sumber daya yang dapat diambil tanpa batas.
“Kita membutuhkan alam untuk hidup. Karena itu, tidak masuk akal jika kita terus mengambil dari alam tanpa memikirkan bagaimana menjaganya,” katanya.
Friski menjelaskan bahwa sikap bersahabat dengan alam merupakan bagian dari kesadaran untuk memahami keterhubungan kehidupan. Cara pandang tersebut, menurutnya, penting dikembangkan dalam kehidupan masyarakat, termasuk oleh generasi muda dan komunitas Buddhis.
Dalam konteks inilah GEMABUDHI, sebagai organisasi yang bergerak di kalangan mahasiswa dan pemuda Buddhis, memiliki ruang untuk terus menumbuhkan kepedulian sosial dan lingkungan di tengah masyarakat.
Mengikis Lobha, Membangun Kehidupan yang Lebih Bijaksana
Salah satu nilai yang menjadi perhatian Friski adalah lobha, atau keserakahan. Ia membedakan antara kebutuhan manusia yang bersifat wajar dengan dorongan untuk mengambil secara berlebihan.
“Yang perlu kita lawan bukan kebutuhan manusia, tetapi keserakahan yang membuat manusia merasa tidak pernah cukup,” tegasnya.
Menurut Friski, ketika kepentingan dan keuntungan jangka pendek mengalahkan kepedulian terhadap lingkungan, dampaknya dapat dirasakan bukan hanya oleh alam tetapi juga oleh manusia sendiri.
Kerusakan hutan, pencemaran, hilangnya ekosistem, hingga berbagai persoalan ekologis merupakan pengingat bahwa tindakan manusia memiliki konsekuensi.
“Kita tidak sedang mewariskan alam kepada generasi berikutnya. Kita hanya sedang meminjamnya. Karena itu, jangan sampai yang kita kembalikan kepada generasi mendatang hanya kerusakan,” ujarnya.
Pesan tersebut, menurut Friski, sejalan dengan pentingnya membangun karakter generasi muda yang tidak hanya mengejar pencapaian material, tetapi juga memiliki kebijaksanaan, kepedulian, dan kesadaran terhadap konsekuensi dari setiap tindakan.
Mawas Diri sebagai Nilai Kehidupan
Friski menegaskan bahwa mawas diri bukan berarti mencari siapa yang harus disalahkan ketika bencana terjadi.
Sebaliknya, mawas diri merupakan proses melihat kembali tindakan dan keputusan manusia serta memahami akibat yang mungkin ditimbulkannya.
“Mawas diri bukan mencari kambing hitam. Mawas diri adalah keberanian untuk mengakui bahwa setiap tindakan memiliki konsekuensi,” kata Friski.
Menurutnya, nilai tersebut dapat diterapkan melalui tindakan sederhana dalam kehidupan sehari-hari, mulai dari menghindari konsumsi berlebihan, menggunakan sumber daya secara bijaksana, menjaga lingkungan, hingga meningkatkan kepedulian terhadap masyarakat yang membutuhkan.
Bagi GEMABUDHI, nilai-nilai tersebut juga dapat menjadi bagian dari kontribusi generasi muda Buddhis dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.
Solidaritas sebagai Wujud Kepedulian
Selain berbicara mengenai hubungan manusia dengan alam, Friski juga menekankan pentingnya solidaritas terhadap masyarakat yang sedang menghadapi bencana.
Ia menyampaikan doa dan solidaritas kepada masyarakat yang terdampak gempa bumi di Nusa Tenggara Timur (NTT) serta kebakaran hutan di Kalimantan.
“Semoga saudara-saudara kita yang sedang mengalami musibah di NTT dan Kalimantan diberikan kekuatan, ketabahan, keselamatan, dan kemudahan dalam menghadapi serta memulihkan kondisi akibat bencana,” ujarnya.
Menurut Friski, kepedulian terhadap korban bencana merupakan bagian penting dari kehidupan sosial. Masyarakat tidak cukup hanya menunjukkan rasa prihatin, tetapi juga perlu hadir melalui tindakan nyata sesuai dengan kemampuan masing-masing.
“Dalam menghadapi bencana, kita mungkin tidak bisa menghilangkan rasa sakit yang mereka alami. Tetapi kita bisa memastikan mereka tidak menghadapinya sendirian,” tegasnya.
Semangat solidaritas tersebut menjadi salah satu bentuk kontribusi sosial yang perlu terus dikembangkan, khususnya di kalangan generasi muda.
GEMABUDHI dan Tanggung Jawab Generasi Muda
Friski menilai generasi muda memiliki posisi penting dalam membangun cara pandang baru mengenai hubungan manusia dengan alam dan masyarakat.
Kemajuan teknologi dan pembangunan, menurutnya, tetap diperlukan. Namun, kemajuan tidak boleh membuat manusia kehilangan kesadaran mengenai keterbatasannya dalam menghadapi kekuatan alam.
“Kemajuan tidak seharusnya diukur hanya dari seberapa banyak yang mampu kita bangun, tetapi juga dari seberapa baik kita mampu menjaga apa yang masih kita miliki,” ungkapnya.
Karena itu, Friski mengajak generasi muda untuk tidak hanya menjadi bagian dari pembangunan, tetapi juga menjadi bagian dari upaya menjaga keberlanjutan kehidupan.
Menjadikan Nilai Buddhis sebagai Kontribusi bagi Masyarakat
Menutup dialog, Friski mengajak masyarakat untuk menjadikan bencana sebagai momentum memperkuat kesadaran dan kepedulian bersama.
Menurutnya, nilai-nilai seperti mawas diri, kebijaksanaan, kepedulian, pengendalian keserakahan, serta penghormatan terhadap kehidupan memiliki relevansi yang kuat dalam menghadapi berbagai tantangan sosial dan lingkungan saat ini.
“Kalau kita ingin masa depan yang lebih baik, kita tidak cukup hanya berharap bencana tidak terjadi. Kita harus mulai memperbaiki cara kita hidup hari ini,” ujarnya.
Sebagai organisasi generasi muda Buddhis, GEMABUDHI Jawa Timur, melalui pesan yang disampaikan Friski, menempatkan kepedulian terhadap sesama dan lingkungan sebagai bagian dari refleksi nilai kehidupan yang lebih luas.
“Alam tidak membutuhkan manusia untuk terus mengambil. Alam membutuhkan manusia yang mampu memahami batas. Ketika kita belajar mengendalikan keserakahan dan menghormati alam, pada saat yang sama kita sedang menjaga kehidupan kita sendiri,” tutup Friski.



