LUMINASIA.ID, MAKASSAR — Industri pernikahan dinilai memiliki potensi besar untuk menggerakkan ekosistem pariwisata dan ekonomi kreatif di Kota Makassar.
Bukan hanya menjadi momentum sakral bagi dua keluarga, penyelenggaraan pernikahan juga melibatkan berbagai sektor usaha, mulai dari hotel, wedding organizer, dekorasi, tata cahaya, fotografer, videografer, busana pengantin hingga kuliner dan UMKM.
Potensi tersebut menjadi salah satu perhatian dalam pembukaan Wedding Expo 2026 yang digelar Hotel Gammara Makassar, Jumat (4/9/2026).
Kegiatan tersebut mengusung tema “Mapa Boti Ri Gammara”, dengan konsep yang memadukan modernitas pernikahan dengan kekayaan budaya Sulawesi Selatan.
Asisten I Pemerintah Kota Makassar, Andi Irwan Bangsawan, yang mewakili Wali Kota Makassar, mengatakan industri pernikahan merupakan bagian dari ekosistem pariwisata dan ekonomi kreatif yang memiliki efek berganda terhadap perekonomian.
“Industri pernikahan merupakan bagian dari ekosistem pariwisata dan ekonomi kreatif yang memiliki potensi besar untuk terus dikembangkan di Kota Makassar,” kata Andi Irwan.
Menurutnya, industri tersebut membentuk ekosistem yang melibatkan banyak sektor.
Mulai dari hotel dan gedung pertemuan, wedding organizer, dekorasi, tata cahaya, fotografer, videografer, busana pengantin, desainer, percetakan, kuliner, transportasi hingga pelaku UMKM.
Karena itu, Andi Irwan menilai kegiatan seperti Wedding Expo menjadi ruang strategis untuk mempertemukan pelaku industri dengan calon konsumen.
Baca: Gammara Hotel Makassar Ajak Siswa SLB Katolik Rajawali Rasakan Pengalaman Dunia Perhotelan
Pameran tersebut tidak hanya mempertemukan vendor dengan calon pengantin, tetapi juga menjadi ruang untuk mempertemukan kreativitas dengan pasar sekaligus membuka peluang kolaborasi dan usaha.
Efek Berganda bagi Ekonomi Makassar
Andi Irwan mengatakan posisi Makassar sebagai salah satu pusat pertumbuhan ekonomi di kawasan Indonesia Timur menjadi modal penting untuk mengembangkan industri event dan ekonomi kreatif.
Menurutnya, setiap kegiatan berskala besar yang digelar di Makassar dapat memberikan efek berganda terhadap berbagai sektor ekonomi.
“Ketika event berlangsung, hotel mendapatkan manfaat, restoran bergerak, transportasi bergerak, UMKM mendapatkan pasar, pelaku kreatif mendapatkan pekerjaan, dan akhirnya masyarakat memperoleh manfaat,” ujarnya.
Karena itu, Pemerintah Kota Makassar, kata Andi Irwan, terbuka terhadap kolaborasi dengan dunia usaha dan industri kreatif.
Kolaborasi tersebut diperlukan untuk membangun Makassar sebagai kota yang nyaman untuk ditinggali, menarik untuk dikunjungi, sekaligus kompetitif sebagai lokasi penyelenggaraan berbagai event.
Ia juga mengajak pelaku industri pernikahan dan ekonomi kreatif untuk terus melakukan inovasi.
Persaingan, kata dia, tidak semestinya hanya berorientasi pada harga, tetapi juga pada kualitas produk, kreativitas, pelayanan, hospitality, profesionalisme dan pengalaman yang diberikan kepada pelanggan.
“Jangan hanya bersaing dalam harga. Mari kita bersaing dalam kualitas, kreativitas, pelayanan, hospitality, profesionalisme, dan pengalaman yang diberikan kepada pelanggan,” tegasnya.
Modernitas Bertemu Budaya Sulawesi Selatan
Di sisi lain, Gammara Hotel Makassar melihat perkembangan industri pernikahan juga tidak terlepas dari kebutuhan calon pengantin untuk menghadirkan konsep yang sesuai dengan perkembangan zaman tanpa meninggalkan akar budaya.
General Manager Gammara Hotel, Rezki Amanda Ras, mengatakan Wedding Expo 2026 digelar untuk menjawab kebutuhan calon pengantin yang masih dihadapkan pada pilihan antara konsep pernikahan modern dan pernikahan adat.
Menurut dia, kedua konsep tersebut tidak harus dipilih salah satunya.
Modernitas dan budaya dapat dipadukan menjadi sebuah rangkaian pernikahan yang tetap mengikuti perkembangan zaman sekaligus mempertahankan nilai-nilai budaya.
“Modernitas dan budaya bukan lagi pilihan yang harus dipilih salah satunya, melainkan bisa melebur dalam satu kesempurnaan,” ujar Rezki dalam sambutannya pada pembukaan Wedding Expo 2026.
Melalui tema “Mapa Boti Ri Gammara”, Gammara Hotel mengangkat filosofi pernikahan sekaligus kekayaan budaya lokal.
Kegiatan tersebut menghadirkan sejumlah vendor pernikahan yang telah dikurasi dan berpengalaman untuk membantu calon pengantin merancang pernikahan sesuai konsep yang diinginkan.
Rezki mengatakan para vendor juga diharapkan mampu menerjemahkan filosofi dan kesakralan budaya yang berkembang di Sulawesi Selatan, termasuk adat Bugis, Makassar, Mandar dan Toraja.
“Harapannya, para calon pengantin tidak lagi bingung memilih antara konsep modern atau budaya. Keduanya dapat dipadukan dengan tetap mempertahankan filosofi dan kesakralan adat,” katanya.
Jadi Ruang Pertemuan Kreativitas dan Pasar
Sebelum pembukaan resmi, Gammara Hotel juga menampilkan fashion show yang diperagakan oleh sejumlah karyawan dan karyawati hotel.
Rangkaian tersebut menjadi bagian dari upaya Gammara Hotel menghadirkan pengalaman yang tidak hanya berorientasi pada transaksi, tetapi juga memperlihatkan berbagai pilihan konsep kepada calon pengantin.
Melalui Wedding Expo 2026, calon pengantin dapat bertemu langsung dengan vendor yang dapat membantu mempersiapkan berbagai kebutuhan pernikahan.
Pada saat yang sama, pelaku industri mendapatkan ruang untuk memperkenalkan produk dan kreativitas mereka kepada pasar.
Konsep tersebut sejalan dengan pandangan Pemerintah Kota Makassar yang mendorong agar industri kreatif tidak hanya berkembang dari sisi jumlah pelaku, tetapi juga meningkatkan kualitas, inovasi dan daya saing.
Wedding Expo juga memperlihatkan bagaimana kekayaan budaya lokal dapat menjadi bagian dari pengembangan industri kreatif.
Budaya Bugis, Makassar, Mandar dan Toraja tidak ditempatkan sebagai sesuatu yang berseberangan dengan konsep modern, tetapi dapat diterjemahkan ke dalam berbagai elemen pernikahan sesuai kebutuhan pasangan.



