LUMINASIA.ID, JAKARTA - Aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau kembali menjadi perhatian setelah beredar informasi mengenai penyebaran sulfur dioksida (SO₂) hingga wilayah yang jauh dari gunung tersebut. Kondisi ini memunculkan kekhawatiran masyarakat mengenai kualitas udara akibat material vulkanik yang terbawa angin.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) membenarkan bahwa sebaran SO₂ dari aktivitas Gunung Anak Krakatau memang terpantau meluas. Namun, BMKG mengingatkan bahwa luas sebaran gas yang terlihat melalui citra satelit tidak serta-merta menunjukkan tingkat bahaya yang dirasakan masyarakat di permukaan.
BMKG menjelaskan, peta satelit yang memperlihatkan warna merah pada kolom atmosfer tidak dapat dijadikan patokan langsung untuk menentukan apakah udara yang dihirup masyarakat sudah berada pada tingkat berbahaya.
Indikator yang lebih tepat, menurut BMKG, adalah data kualitas udara resmi di permukaan yang dikeluarkan pemerintah.
SO₂ Berubah Menjadi Aerosol
BMKG juga menjelaskan bahwa karakter SO₂ dapat berubah setelah berada selama berjam-jam di atmosfer dan bergerak hingga ratusan kilometer dari sumber erupsi.
Gas tersebut dapat bereaksi dengan oksigen dan uap air di atmosfer sehingga menghasilkan partikel halus yang dikenal sebagai aerosol sulfat.
Perubahan tersebut membuat material yang mencapai wilayah jauh dari kawah tidak lagi memiliki karakter yang sama dengan gas SO₂ pekat di sekitar sumber erupsi.
Di wilayah yang terdampak, material yang sampai ke permukaan lebih banyak berupa abu vulkanik yang bercampur dengan partikel halus hasil perubahan SO₂.
"Yang dominan sampai ke permukaan dan dirasakan warga Jabodetabek adalah abu vulkanik bercampur sebagian kecil partikel hasil perubahan gas SO₂ tersebut," jelas BMKG.
Dengan demikian, masyarakat yang berada jauh dari Gunung Anak Krakatau tidak serta-merta menghirup SO₂ murni dalam konsentrasi tinggi seperti yang terdapat di sekitar kawah.
Masyarakat Tetap Diminta Waspada
Meski demikian, masyarakat tetap diminta melakukan langkah perlindungan, khususnya ketika terjadi hujan abu vulkanik atau kualitas udara menunjukkan kondisi tidak sehat.
BMKG mengimbau masyarakat menggunakan masker dan kacamata pelindung ketika melakukan aktivitas di luar ruangan. Masker dapat membantu mengurangi paparan partikel abu, sedangkan kacamata melindungi mata dari material vulkanik yang terbawa udara.
Aktivitas di luar ruangan juga sebaiknya dikurangi apabila kondisi udara memburuk atau terjadi hujan abu.
BMKG menekankan bahwa apabila indikator kualitas udara di permukaan masih berada pada kategori baik atau sedang, masyarakat pada dasarnya masih dapat beraktivitas secara normal. Kondisi atmosfer di lapisan yang lebih tinggi tidak selalu menggambarkan kondisi udara yang langsung dihirup manusia di permukaan.
Karena itu, masyarakat disarankan tidak hanya berpatokan pada visualisasi citra satelit yang beredar di media sosial, tetapi mengikuti informasi resmi mengenai kualitas udara dan perkembangan erupsi Gunung Anak Krakatau.



