LUMINASIA.ID, JAKARTA - Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu’ti mengatakan pemerintah tengah menyiapkan opsi untuk menghapus kebijakan siswa otomatis naik kelas mulai tahun ajaran 2027.
Rencana tersebut muncul sebagai rekomendasi Dewan Pendidikan yang menilai mekanisme kenaikan kelas tidak seharusnya diberlakukan secara otomatis bagi seluruh siswa setelah menyelesaikan satu tahun pembelajaran.
Abdul Mu’ti mengatakan masukan tersebut menjadi perhatian serius Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) dan pemerintah siap menjalankannya apabila rekomendasi tersebut disetujui.
”Kalau ini disetujui dan mungkin menjadi bagian dari rekomendasi konvensi ini, tentu kami akan siap melaksanakan,” ujar Abdul Mu’ti dalam siaran pers, Kamis (8/10/2026).
Ia menyebut kebijakan tersebut berpotensi diterapkan mulai tahun ajaran 2027 dan seterusnya.
Dengan kebijakan tersebut, siswa tidak lagi secara otomatis melanjutkan ke kelas berikutnya hanya karena telah menyelesaikan satu tahun pembelajaran.
Abdul Mu’ti menilai perubahan mekanisme kenaikan kelas diperlukan untuk membangun kembali kesungguhan siswa dalam mengikuti proses belajar.
Menurut Abdul Mu’ti, terdapat fenomena yang disebutnya sebagai “rumus RMS”, yakni “rajin malas sama saja”.
”Karena banyak murid itu yang mengikuti rumus RMS, rajin malas sama saja,” ucapnya.
Ia menilai kondisi tersebut tidak sehat apabila kemudian berkembang menjadi budaya dalam sistem pendidikan.
Abdul Mu’ti mengatakan sekolah perlu memberikan ruang agar siswa memahami bahwa proses belajar membutuhkan usaha.
Siswa yang rajin, memiliki motivasi belajar, serta mampu menunjukkan perkembangan kompetensi dinilai perlu mendapatkan apresiasi yang sesuai.
Sebaliknya, siswa yang belum memenuhi kompetensi tidak semestinya secara otomatis dianggap siap untuk melanjutkan ke tingkat berikutnya.
Namun, Abdul Mu’ti menegaskan bahwa kebijakan tidak naik kelas bukan semata-mata ditujukan sebagai hukuman bagi siswa.
Menurutnya, kebijakan tersebut diarahkan untuk membangun karakter sekaligus budaya belajar.
Gagasan tersebut juga dikaitkan Abdul Mu’ti dengan arahan Presiden Prabowo Subianto mengenai pentingnya membangun sumber daya manusia yang tangguh.




