LUMINASIA.ID, JAKARTA – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) bersama Self-Regulatory Organizations (SRO) Pasar Modal menggelar dialog dengan analis, ekonom, dan financial influencer (finfluencer) untuk memperkuat integritas, meningkatkan transparansi, serta menjaga kepercayaan investor terhadap pasar modal Indonesia.
Dialog tersebut berlangsung di Bursa Efek Indonesia (BEI), Minggu (18/10/2026), sekaligus menjadi wadah bagi regulator untuk menerima masukan dan pandangan pemangku kepentingan terkait perkembangan pasar modal dalam beberapa waktu terakhir.
Pertemuan itu dihadiri Ketua Dewan Komisioner OJK Friderica Widyasari Dewi, Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif dan Bursa Karbon (PMDK) Hasan Fawzi, serta pimpinan BEI, Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI), dan Kliring Penjaminan Efek Indonesia (KPEI).
Friderica mengatakan dialog terbuka dan konstruktif antara regulator dan pelaku pasar diperlukan untuk mengidentifikasi berbagai masukan serta aspek yang perlu mendapat perhatian dalam menjaga kepercayaan dan memperkuat pasar modal nasional.
“Regulator tidak hanya hadir untuk menyampaikan kebijakan kepada pelaku pasar. Kami justru ingin mendengar masukan dan pandangan secara terbuka, termasuk berbagai hal yang mungkin belum kami ketahui. Masukan tersebut penting untuk memperkuat langkah kita bersama dalam mengembangkan dan memperkuat pasar modal dalam negeri,” ujar Friderica.
Sementara itu, Hasan Fawzi menegaskan OJK bersama SRO dan pelaku pasar berkomitmen melanjutkan serta memperkuat implementasi Aksi Percepatan Reformasi Integritas Pasar Modal Indonesia.
Upaya tersebut mencakup penguatan transparansi pasar, komunikasi dengan penyedia indeks global dan investor, serta tindak lanjut atas berbagai masukan terkait kondisi pasar modal Indonesia.
Hasan juga menyoroti langkah penegakan hukum yang dilakukan OJK untuk memperkuat integritas pasar modal, termasuk pengumuman sanksi administratif berupa denda dengan total Rp2,1 triliun terhadap pihak-pihak terkait pelanggaran di pasar modal pada 16 Oktober 2026.
Menurutnya, pengenaan sanksi tersebut merupakan bagian dari proses pemeriksaan yang telah dilakukan OJK, bukan semata-mata respons terhadap dinamika pasar terkini.
Langkah tersebut, kata Hasan, menjadi bagian dari komitmen regulator dalam memperkuat integritas pasar modal sekaligus menjaga kepercayaan investor.
“Pasar modal kita adalah rumah dan milik kita bersama. Berbagai tekanan yang dihadapi perlu kita respons dengan solusi yang konstruktif. Dalam kondisi ini, kita harus bersama-sama dan bersatu untuk memberikan respons yang terukur, serta menghadirkan fakta dan rasionalitas sebagai penyeimbang sentimen pasar,” ujar Hasan.
Ia menambahkan, masukan dari pelaku pasar, ekonom, dan finfluencer dibutuhkan untuk menghasilkan rekomendasi yang objektif, berbasis fakta, serta dapat segera ditindaklanjuti oleh OJK dan SRO.
Kebutuhan tersebut semakin penting seiring dengan meluasnya basis investor di pasar modal Indonesia.
Dari sisi penguatan keterbukaan informasi, Direktur Pengembangan BEI Iding Pardi menyampaikan bahwa transparansi menjadi salah satu fokus utama reformasi pasar modal Indonesia.
Upaya tersebut dilakukan melalui perluasan keterbukaan informasi mengenai kepemilikan saham, klasifikasi investor, dan konsentrasi kepemilikan saham, yang mendapat apresiasi positif dari berbagai pihak.
Melalui dialog konsolidasi ini, OJK dan SRO mendorong keterlibatan aktif seluruh pemangku kepentingan untuk menyampaikan pandangan dan masukan sebagai bahan pertimbangan dalam memperkuat pasar modal Indonesia, meningkatkan transparansi, serta menjaga kepercayaan investor.




