Langsung ke konten
DuaSisi
jmsi sulsel
  • HIBURAN
  • RAGAM
  • EKONOMI
  • VIRAL
  • PERISTIWA
  • SULSEL
  • EDUKASI
  • LIFESTYLE
  • OPINI DAN SENI
  • VIDEO
  • MAKASSAR
  • INDEKS
Beranda Sulsel

Refleksi Cakra Ahmad, Founder Gemma 9, Terkait Prabowo dan 1000 IDPs

Jumat, 11 April 2025 20:33
Editor: Admin
  • Bagikan
Bendera Palestina di Tiang Phinisi

Prabowo dan 1000 IDPs

Oleh: Cakra Achmad 

Inisiator Global Volunteer Hub dan Pendiri Relawan Gemma 9

11 April 2025— Langkah Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, yang menyatakan niat untuk mengevakuasi 1.000 warga korban konflik dari Gaza menuai reaksi keras. Sejumlah kalangan menyambut dengan haru, sementara sebagian lainnya menolak dengan tudingan keras: bahwa langkah ini adalah bentuk tunduk pada kepentingan geopolitik Amerika Serikat dan Israel, yang secara sistematis ingin mengosongkan Gaza dari penduduk aslinya.

Kontroversi ini tak bisa dilepaskan dari carut-marut komunikasi politik yang menyertainya. Presiden dan timnya menggunakan istilah “evakuasi sementara”—sebuah terminologi yang justru membuka ruang tafsir liar. Di mata yang kontra, “sementara” berarti membuka jalan permanen bagi pengosongan Gaza. Di sisi lain, penggunaan narasi kemanusiaan yang lebih tepat seperti “penanganan darurat untuk korban terdampak” atau “dukungan kepada IDPs” seharusnya dapat meredam gelombang penolakan yang tak sepenuhnya berdasar itu.

Dalam kerangka kemanusiaan global, Internally Displaced Persons (IDPs) merujuk pada individu atau kelompok yang terpaksa meninggalkan rumah dan komunitasnya akibat konflik bersenjata, bencana alam, atau kekerasan, namun tetap berada dalam wilayah negara mereka sendiri. Di Gaza, yang sejak lama terkepung dan kini hancur akibat agresi militer, IDPs merupakan konsekuensi langsung dari krisis kemanusiaan yang akut. Mereka bukan pencari suaka, bukan pengungsi lintas batas; mereka adalah rakyat Palestina yang kehilangan tempat tinggal di tanah mereka sendiri.

Istilah IDPs bukan hanya nomenklatur teknis. Ia mengandung konsekuensi hukum dan moral: bahwa mereka tetap memiliki hak atas tanah airnya, hak untuk kembali, dan hak untuk dilindungi. Sayangnya, dalam konteks Gaza, istilah ini jarang digunakan oleh publik dan media, demikian pula komunitas kemanusiaan internasional menggunakannya “refugee” pengungsi, untuk menegaskan hak-hak IDPs rakyat Palestina yang terusir.

Ini bukan sekadar debat terminology. Mereka yang menolak langkah Presiden mungkin lupa: bahwa ribuan warga Gaza hari ini adalah anak-anak yatim, orang tua renta, korban luka berat, serta penyintas cacat permanen. Mereka tidak memiliki akses terhadap air bersih, perawatan medis, bahkan atap untuk berlindung. Dalam hukum humaniter internasional, mereka berhak mendapatkan perlindungan dan pertolongan segera—tanpa syarat.

Justru di sinilah peran negara seperti Indonesia menjadi penting: menghadirkan ruang aman sementara yang tetap menjunjung tinggi prinsip-prinsip kedaulatan Palestina. Dalam hal ini, evakuasi bersifat darurat—bukan pengusiran. Bila komunikasi presiden menggunakan pendekatan emergency humanitarian response for IDPs, alih-alih “evakuasi sementara”, debat berkepanjangan yang penuh prasangka ini mungkin tak akan muncul.

Adalah hak publik untuk mengkritik kebijakan negara. Namun penolakan terhadap langkah kemanusiaan harus dipikirkan ulang secara matang. Jangan sampai kita—secara tak sadar—ikut menghambat akses korban terhadap pertolongan darurat yang menyelamatkan nyawa. Bukankah kita selama ini menggugat dunia karena diam terhadap penderitaan Palestina? Ketika ada langkah aktif, mengapa justru kita ragu?

Perlu juga diingat, sejarah IDPs Palestina telah panjang: sejak Nakba 1948, ratusan ribu rakyat Palestina terusir dan kini hidup dalam pengasingan di Lebanon, Yordania, dan negara-negara lain. Karena status mereka sebagai “pengungsi” atau “refugee”, mereka kehilangan hak atas tanah asal. Padahal, seandainya dari awal mereka diakui sebagai IDPs, narasi hak untuk kembali akan tetap hidup dan kuat dalam bingkai hukum internasional.

Kita Tidak Boleh Terpecah

Israel dan sekutunya memang ahli dalam memainkan strategi pecah-belah. Jangan sampai, demi menjaga citra “anti normalisasi”, kita justru mengabaikan suara anak-anak yang kelaparan, atau ibu-ibu yang kehilangan tangan dan kaki. Mereka tak butuh polemik, mereka butuh pertolongan.

Langkah Prabowo bisa diperdebatkan dari sisi teknis dan politis. Tapi jika kita sepakat bahwa kemanusiaan tak boleh ditunda, maka membuka ruang aman untuk 1.000 korban bukanlah pengkhianatan—melainkan sebuah panggilan nurani. Free Palestine!

Tags: Palestina

Baca Juga

Penerus Abu Ubaidah: Hamas Umumkan Juru Bicara Militer Baru Usai Kematian Pendahulunya
Penerus Abu Ubaidah: Hamas Umumkan Juru Bicara Militer Baru Usai Kematian Pendahulunya
Ribuan Warga Makassar Ikuti Konvoi Damai Suarakan Kemerdekaan Palestina
Ribuan Warga Makassar Ikuti Konvoi Damai Suarakan Kemerdekaan Palestina
Bosowa Peduli Kirim Daging Kurban 10 Ekor Sapi ke Palestina, Begini Prosesnya
Bosowa Peduli Kirim Daging Kurban 10 Ekor Sapi ke Palestina, Begini Prosesnya
Indonesia Menyala untuk Palestina: Aksi Sunyi dan Doa Damai Digelar di Monumen Mandala
Indonesia Menyala untuk Palestina: Aksi Sunyi dan Doa Damai Digelar di Monumen Mandala
Indonesia Menyala untuk Palestina, Aksi Damai Minggu 27 April 2025 di Makassar Tunjukkan Solidaritas Kemanusiaan
Indonesia Menyala untuk Palestina, Aksi Damai Minggu 27 April 2025 di Makassar Tunjukkan Solidaritas Kemanusiaan
Laporan UNRWA, 420.000 Warga Palestina Kembali Mengungsi dari Jalur Gaza
Laporan UNRWA, 420.000 Warga Palestina Kembali Mengungsi dari Jalur Gaza

Populer

  • 1
    Hadir dalam Pameran di MaRI, Bukit Baruga Tawarkan Unit Siap Huni dan DP 0 Persen
  • 2
    Panduan Lengkap Cek Bansos Kemensos Online: Cara Mudah Cek Status Bantuan Pakai KTP
  • 3
    Game Murder Mystery dan Animasi Detective Conan Jadi Inspirasi Cara Anak Bunuh Ibu di Medan
  • 4
    Pascabencana Lebih dari 95 Persen Layanan XL Smart di Aceh Sudah Pulih, Sumbar Sudah 100 Persen
  • 5
    Apakah 31 Desember 2025 Libur dan 2 Januari 2026 Cuti Bersama? Ini Penjelasan Resmi Pemerintah

Ekonomi

  • Harga Emas Antam Hari Ini 31 Desember 2025 Stabil, Rp2.501.000 per Gram
    Harga Emas Antam Hari Ini 31 Desember 2025 Stabil, Rp2.501.000 per Gram
  • IHSG Hari Ini 31 Desember 2025, Ditutup Datar di Level 8.646,94, Menguat Lebih dari 22% Secara Tahunan
    IHSG Hari Ini 31 Desember 2025, Ditutup Datar di Level 8.646,94, Menguat Lebih dari 22% Secara Tahunan
  • Lakukan Sebelum 2025 Berakhir! Aktivasi Akun Coretax DJP Wajib, Ini Panduan Lengkap Syarat, Cara Login, dan Kode Otorisasi
    Lakukan Sebelum 2025 Berakhir! Aktivasi Akun Coretax DJP Wajib, Ini Panduan Lengkap Syarat, Cara Login, dan Kode Otorisasi

Peristiwa

  • Game Murder Mystery dan Animasi Detective Conan Jadi Inspirasi Cara Anak Bunuh Ibu di Medan
    Game Murder Mystery dan Animasi Detective Conan Jadi Inspirasi Cara Anak Bunuh Ibu di Medan
  • Puasa Ramadhan 2026 Tinggal 49 Hari Lagi, Ini Perhitungan Menuju 1 Ramadhan 1447 H
    Puasa Ramadhan 2026 Tinggal 49 Hari Lagi, Ini Perhitungan Menuju 1 Ramadhan 1447 H
  • Puasa Ramadhan 2026 Dimulai 18 Februari, Berikut Jadwal Lengkap 1-30 Ramadhan 1447 H
    Puasa Ramadhan 2026 Dimulai 18 Februari, Berikut Jadwal Lengkap 1-30 Ramadhan 1447 H
  • Beranda
  • Tentang Kami
  • Struktur
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer
  • Indeks
© 2024 - 2026 LUMINASIA.ID