LUMINASIA.ID, MAKASSAR – Perkembangan industri keuangan non-bank (IKNB) di Sulawesi Selatan menunjukkan kinerja positif di beberapa sektor per Juni 2025.
Kepala OJK Provinsi Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat, Mochammad Muchlasin, memaparkan capaian tersebut dalam kegiatan Jurnalis Update yang digelar di kantornya, Jumat (15/8/2025).
Muchlasin menjelaskan, pada sektor Lembaga Pembiayaan, Perusahaan Modal Ventura, Lembaga Keuangan Mikro, dan Lembaga Jasa Keuangan Lainnya (PVML), pertumbuhan tercatat merata di hampir semua subsektor.
Total piutang perusahaan pembiayaan tumbuh 1,37 persen secara tahunan (year on year) menjadi Rp18,77 triliun pada Juni 2025, dibandingkan Rp18,52 triliun di Juni 2024 dan Rp18,79 triliun pada Desember 2024.
Perusahaan modal ventura juga mencatat kenaikan 1,15 persen, dari Rp369 miliar di Juni 2024 menjadi Rp373 miliar pada Juni 2025, setelah sebelumnya berada di Rp333 miliar pada Desember 2024.
Sementara itu, outstanding pembiayaan fintech peer to peer (P2P) lending atau pinjaman online (pinjol) melonjak signifikan sebesar 37,46 persen, dari Rp1,48 triliun di April 2024 menjadi Rp2,04 triliun di Juni 2025, melewati Rp1,69 triliun di Desember 2024.
Outstanding pembiayaan adalah adalah pembayaran yang tertunda atau masih belum diselesaikan
Di sektor pergadaian, total pembiayaan mengalami lonjakan 29,55 persen secara tahunan. Pada April 2024 tercatat Rp6,54 triliun, naik menjadi Rp7,48 triliun di Desember 2024, dan kembali meningkat menjadi Rp8,47 triliun di April 2025.
Baca: Ada 860 Kantor Bank dan 317 Kantor Perusahaan Pembiayaan di Sulsel, Ini Data Lengkap OJK
Untuk sektor Perasuransian, Penjaminan, dan Dana Pensiun (PPDP), kinerja juga relatif positif di beberapa lini. Dana pensiun tumbuh 5,80 persen dari Rp1,59 triliun pada Juni 2024 menjadi Rp1,68 triliun di Juni 2025, meski sempat berada di Rp1,60 triliun pada Desember 2024.
Total penjaminan naik 26,36 persen, dari Rp700 miliar di Juni 2024 menjadi Rp884 miliar di Juni 2025, setelah Desember 2024 mencatat Rp768 miliar.
Namun, pada subsektor asuransi, total premi justru turun 8,76 persen, dari Rp1,53 triliun di Juni 2024 menjadi Rp1,39 triliun di Juni 2025, setelah mencatat Rp1,53 triliun di Desember 2024.
Baca: OJK: Petani Pisang Cavendish Sulsel Dapat KUR Rp5,64 M, Terbanyak di Bone
Penurunan juga terjadi pada total klaim yang anjlok 16,99 persen, dari Rp1,02 triliun di Juni 2024 menjadi Rp849 miliar di Juni 2025, meskipun sempat meningkat menjadi Rp2,69 triliun di Desember 2024.
Muchlasin menegaskan, meski terdapat penurunan di sektor premi dan klaim asuransi, secara keseluruhan IKNB di Sulawesi Selatan tetap menunjukkan tren positif, terutama di pembiayaan, modal ventura, fintech P2P lending, dan pergadaian.

