Umat Katolik mengenang St. Remigius, Sta. Theresia dari Kanak-kanak Yesus, dan St. Romanus pada Rabu 1 Oktober 2025, berikut riwayat singkat dan keteladanan mereka.
Rabu, 1 Oktober 2025, umat Katolik memperingati santo dan santa pelindung yang kisahnya meneguhkan iman dan memberi inspirasi pelayanan.
St Remigius lahir di Prancis pada 435 dan pada usia 22 tahun dipilih menjadi Uskup Reims.
Pemilihan yang semula ia terima dengan rendah hati itu terbukti menjadi panggilan ilahi yang menuntun penginjilan besar di tanah Franka.
Ia dikenal ramah, tegas, dan murah hati, serta tekun berkhotbah dan mendampingi kaum miskin.
Pada Malam Natal 496 ia membaptis Raja Klovis I bersama ribuan pengiringnya, sebuah tonggak penting yang membuka jalan lahirnya bangsa yang beriman.
Remigius menggembalakan keuskupannya lebih dari tujuh dekade hingga wafat pada 534 dan karena jerih lelahnya ia disebut rasul bagi Prancis.
Sta Theresia dari Kanak-kanak Yesus lahir di Alençon, Prancis, pada 2 Januari 1873 dan dibesarkan dalam keluarga yang saleh.
Masa kecilnya diwarnai kepekaan jiwa, namun perlahan ia dituntun menuju “jalan kecil”, yakni hidup sederhana dengan cinta yang total kepada Allah.
Pada usia 15 tahun ia masuk Karmel Lisieux dan selama sembilan tahun menjalani tugas harian dengan setia, menjadikan hal-hal kecil sebagai persembahan kasih.
Ia wafat pada 30 September 1897 dalam usia 24 tahun, meninggalkan “Kisah Suatu Jiwa” yang menunjukkan bahwa kekudusan dapat ditempuh siapa saja.
Gereja kemudian menobatkannya sebagai Santa pada 1925 dan menempatkannya sebagai Pelindung Karya Misi karena semangat doanya bagi pertobatan dan pewartaan Injil.
St. Romanus dikenal sebagai pertapa dan biarawan yang berkarya di sekitar Subiaco di Italia.
Ia membimbing St. Benediktus menemukan gua untuk bertapa dan setia mengantar makanan selama masa pengasingan rohani itu.
Tradisi menyebut Romanus kemudian pergi ke Auxerre di Prancis, mendirikan komunitas biara, dan wafat sekitar tahun 550.
Peninggalan relikui Romanus dihormati di Auxerre, Sens, dan Vareilles sebagai tanda kesaksian hidup asketiknya.
Teladan ketiganya mengajak umat menapaki hidup doa, kesederhanaan, dan pelayanan yang membawa damai bagi sesama.

