Malang — Kantor Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Provinsi Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat menegaskan bahwa kinerja sektor jasa keuangan di Sulawesi Selatan berada dalam kondisi stabil dan terus menjadi penopang ekonomi daerah.
Pernyataan ini disampaikan Kepala OJK Sulsel–Sulbar, Moch. Muchlasin, dalam media gathering di The Alana, Malang, Minggu (24/11/2025).
Muchlasin menjelaskan bahwa stabilitas sektor jasa keuangan terlihat dari penguatan indikator pada perbankan, pasar modal, dan industri keuangan nonbank yang masih tumbuh positif.
Ia menyebut bahwa kinerja tersebut selaras dengan pertumbuhan ekonomi Sulawesi Selatan yang mencapai 5,01 persen pada triwulan III 2025.
“Kinerja sektor jasa keuangan di Sulawesi Selatan tetap stabil dan terus memberikan kontribusi signifikan bagi ekonomi daerah. Intermediasi terjaga, penghimpunan dana meningkat, dan kualitas kredit berada dalam batas yang dapat dikendalikan,” ujarnya.
Kinerja perbankan hingga September 2025 menunjukkan pertumbuhan merata pada seluruh indikator utama.
Total aset perbankan meningkat 5,05 persen secara tahunan dengan nilai mencapai Rp209,43 triliun.
Dana Pihak Ketiga tumbuh 7,51 persen dan mencapai Rp143,80 triliun, dengan tabungan sebagai komponen terbesar yang mencapai 57,74 persen.
Peningkatan ini sekaligus mencerminkan kuatnya kepercayaan masyarakat terhadap industri perbankan.
Penyaluran kredit juga mencatat pertumbuhan 4,04 persen dengan nilai mencapai Rp169,88 triliun.
Kredit produktif mendominasi komposisi penyaluran dengan porsi 53,51 persen.
Sementara itu, pertumbuhan tertinggi terjadi pada kredit konsumtif yang meningkat 7,44 persen.
Sektor perdagangan besar dan eceran menjadi sektor penyerap kredit terbesar dengan pangsa 22,79 persen.
Tingkat intermediasi perbankan berada pada level aktif dengan Loan to Deposit Ratio sebesar 120,35 persen.
Rasio kredit bermasalah tercatat 3,66 persen dan masih berada dalam batas risiko yang terkendali.
Perbankan syariah di Sulawesi Selatan menunjukkan kinerja yang tumbuh lebih tinggi dibanding perbankan konvensional.
Aset perbankan syariah meningkat 19,70 persen menjadi Rp19,34 triliun.
Penghimpunan Dana Pihak Ketiga tumbuh 15,28 persen hingga mencapai Rp13,29 triliun.
Penyaluran pembiayaan melonjak 21,28 persen menjadi Rp16,33 triliun.
Intermediasi syariah tetap kuat dengan Financing to Deposit Ratio sebesar 122,85 persen.
Kualitas pembiayaan juga terjaga dengan NPF syariah di level 1,93 persen.
Muchlasin menilai bahwa pertumbuhan syariah yang signifikan menunjukkan semakin kuatnya minat masyarakat terhadap layanan keuangan berbasis syariah.
Ia menegaskan bahwa stabilitas sektor jasa keuangan menjadi fondasi penting bagi keberlanjutan ekonomi Sulawesi Selatan memasuki tahun 2026.
Penguatan intermediasi kredit ke sektor produktif disebut sebagai fokus pengawasan OJK agar pertumbuhan ekonomi berjalan lebih berkualitas.
“Kami terus mendorong agar penyaluran kredit, baik konvensional maupun syariah, diarahkan ke sektor-sektor yang menjadi prioritas pembangunan daerah. Stabilitas sistem keuangan harus berjalan beriringan dengan peningkatan akses pembiayaan bagi masyarakat dan pelaku usaha,” tegas Muchlasin.
Ia menambahkan bahwa OJK Sulsel–Sulbar akan memperkuat koordinasi dengan pemerintah daerah, pelaku industri, dan lembaga jasa keuangan untuk menjaga ketahanan sektor keuangan.
Fokus tersebut akan dilakukan melalui pengawasan terintegrasi, peningkatan literasi keuangan, serta perlindungan konsumen secara berkelanjutan.
Dengan stabilitas yang terjaga dan pertumbuhan indikator yang konsisten, OJK optimistis sektor jasa keuangan di Sulsel–Sulbar mampu terus mendukung agenda pembangunan ekonomi di tahun mendatang.

