LUMINASIA.ID, INTERNASIONAL - Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan negaranya telah “berhasil melaksanakan serangan skala besar terhadap Venezuela” pada Sabtu dini hari waktu setempat. Dalam pernyataan tersebut, Trump mengklaim Presiden Venezuela Nicolas Maduro dan istrinya, Cilia Flores, telah ditangkap dan diterbangkan keluar dari Venezuela oleh aparat Amerika Serikat.
Pengumuman itu disampaikan beberapa jam setelah ledakan mengguncang ibu kota Caracas. Pemerintah AS menyebut operasi tersebut sebagai bagian dari upaya penegakan hukum terkait kasus narkotika lintas negara yang menjerat Maduro.
Trump mengatakan operasi itu harus menjadi peringatan bagi negara lain. Ia menegaskan, Amerika Serikat kini memegang kendali atas situasi Venezuela. “Kami sekarang yang mengendalikan,” kata Trump kepada wartawan pada Minggu.
Menurut otoritas Amerika Serikat, penangkapan Maduro dilakukan untuk mendukung proses hukum pidana yang telah lama berjalan. Maduro dan Cilia Flores dijadwalkan menjalani sidang perdana di pengadilan federal Manhattan pada Senin siang waktu setempat. Keduanya didakwa dalam empat dakwaan tambahan terkait dugaan konspirasi narkoterorisme selama 25 tahun.
Maduro dan Flores disebut bersekongkol dengan jaringan pengedar narkoba bersenjata yang dinilai bertanggung jawab atas kekerasan regional serta krisis narkoba di Amerika Serikat. Selain pasangan tersebut, dakwaan juga menyebut putra Maduro, dua pejabat tinggi Venezuela, serta seorang pemimpin geng kriminal Tren de Aragua.
Trump juga menyinggung peran Wakil Presiden Venezuela Delcy Rodríguez yang dilantik sebagai pemimpin sementara. Ia mengklaim Rodríguez bekerja sama dengan Amerika Serikat, meski klaim itu dibantah oleh Rodríguez dalam pidato kepada rakyat Venezuela saat ia menuntut pembebasan segera Maduro.
Ketika ditanya apa yang diinginkan Amerika Serikat dari pemerintahan Venezuela saat ini, Trump menyampaikan secara terbuka kepentingan negaranya. “Kami butuh akses penuh. Kami memerlukan akses penuh ke minyak dan sumber daya lain di negara mereka agar kami bisa membangun kembali negara tersebut,” ujar Trump.
Pemerintah Amerika Serikat menjelaskan operasi penangkapan Maduro dilakukan melalui kerja sama Departemen Pertahanan, Departemen Kehakiman, FBI, dan Badan Penegakan Narkoba (DEA). Dalam pernyataan bersama, AS menyebut operasi itu telah direncanakan selama berbulan-bulan dan dilaksanakan sesuai hukum Amerika Serikat serta protokol yang berlaku.
Di sisi lain, pemerintah Venezuela mengecam keras tindakan tersebut. Menteri Luar Negeri Venezuela menyatakan bahwa imunitas kepala negara telah dilanggar. “Siapa pun yang menculik seorang presiden berarti menculik kedaulatan sebuah bangsa,” katanya. Ia juga menuding Amerika Serikat hanya mengincar sumber daya alam dan energi Venezuela.
Menteri Pertahanan Venezuela menyebut penangkapan Maduro sebagai “penculikan pengecut” dan mengklaim sebagian besar tim pengamanan presiden tewas dalam operasi tersebut. Militer Venezuela menyatakan dukungan kepada Delcy Rodríguez sebagai presiden sementara dan berjanji menjaga stabilitas pemerintahan.
Krisis ini berdampak luas di kawasan. Trump mengisyaratkan kemungkinan tindakan terhadap Presiden Kolombia Gustavo Petro. “Kolombia juga sedang sakit, dipimpin oleh orang sakit yang suka membuat kokain dan menjualnya ke Amerika Serikat. Dia tidak akan melakukan itu untuk waktu lama,” kata Trump.
Petro menolak keras pernyataan tersebut. Ia mengatakan, “Saya sangat menolak Trump berbicara tanpa dasar. Nama saya tidak pernah muncul dalam berkas perkara perdagangan narkoba selama 50 tahun, baik dulu maupun sekarang.”
Trump juga menyinggung situasi di Kuba. Ia menyebut negara itu “siap runtuh” setelah kehilangan pendapatan dari Venezuela. Menurut Trump, banyak warga Kuba tewas saat mencoba melindungi Maduro. Pemerintah Kuba kemudian mengklaim sedikitnya 32 warga negaranya tewas dalam operasi Amerika Serikat di Venezuela.
Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio menyatakan Amerika Serikat kini mengendalikan arah perkembangan Venezuela melalui karantina minyak yang menekan ekonomi negara tersebut. Ia menegaskan AS tidak mengakui legitimasi pemerintahan Venezuela sebelumnya dan mendorong masa transisi menuju pemilu yang dianggap sah.
Penangkapan Nicolas Maduro menandai eskalasi besar hubungan Amerika Serikat dan Venezuela. Washington menyatakan langkah ini murni penegakan hukum atas dugaan kejahatan narkotika, sementara Caracas dan sekutunya menilai tindakan tersebut sebagai pelanggaran kedaulatan dan hukum internasional.

