LUMINASIA.ID, INTERNASIONAL - Kevin Rudd resmi mengundurkan diri dari jabatannya sebagai Duta Besar Australia untuk Amerika Serikat setelah ditunjuk sebagai Presiden Global Asia Society sekaligus Kepala Center for China Analysis. Mantan Perdana Menteri Australia itu akan mengakhiri masa tugasnya pada 31 Maret 2026, meski seharusnya masa jabatannya baru berakhir pada 2027. Pengunduran diri ini menandai pergeseran fokus Rudd dari diplomasi bilateral ke peran strategis dalam kajian hubungan Amerika Serikat–China.
Dilansir Newsweek, dalam pernyataan di akun X, Rudd menyebut pengabdiannya sebagai duta besar sebagai sebuah kehormatan. “Merupakan sebuah kehormatan melayani sebagai Duta Besar Australia untuk Amerika Serikat. Saya berterima kasih kepada Asia Society atas kepercayaan yang diberikan kepada saya,” tulisnya. Ia menegaskan akan tetap bermarkas di Amerika Serikat. “Saya akan tetap berada di Amerika, bekerja antara New York dan Washington untuk masa depan hubungan AS–China, yang selalu saya yakini sebagai pertanyaan inti bagi stabilitas kawasan dan dunia.”
Perdana Menteri Australia Anthony Albanese memberikan apresiasi tinggi atas kinerja Rudd di Washington. Menurutnya, Rudd telah membawa hasil nyata bagi kepentingan nasional Australia. “Dengan apresiasi mendalam atas kontribusinya yang tak kenal lelah bagi kepentingan nasional kita selama tiga tahun terakhir di Washington, hari ini kami umumkan bahwa Dr Kevin Rudd AC akan mengakhiri penugasannya sebagai Duta Besar Australia untuk Amerika Serikat pada akhir Maret 2026,” ujar Albanese dalam pernyataan resminya.
Nama Rudd sebelumnya sempat menjadi sorotan karena cuitan lamanya yang mengkritik Presiden Donald Trump sebelum ia diangkat menjadi duta besar pada Maret 2023, di era pemerintahan Joe Biden. Dalam beberapa unggahan yang kemudian dihapus, Rudd pernah menyebut Trump sebagai “idiot kampung,” “presiden paling merusak dalam sejarah,” dan “pengkhianat Barat.” Saat pertemuan di Gedung Putih pada Oktober lalu, Rudd mengakui pernah menulis pernyataan tersebut. Trump menanggapi secara langsung, “Saya juga tidak menyukai Anda, dan mungkin memang tidak akan pernah.”
Meski demikian, seorang pejabat Gedung Putih menegaskan hubungan kerja tetap berjalan profesional. “Duta Besar Rudd bekerja dengan baik bersama Presiden Trump dan pemerintahannya. Kami mendoakan yang terbaik untuknya,” ujar pejabat tersebut kepada Newsweek.
Di Australia, reaksi politik turut bermunculan. Pauline Hanson, pendiri dan pemimpin Partai One Nation, melontarkan kritik tajam. “Kevin Rudd tidak layak untuk jabatan sebagai Duta Besar Australia untuk Amerika Serikat. Itu sudah jelas sejak Presiden Trump mengatakan ‘Saya tidak suka Anda juga’ langsung ke wajahnya pada Oktober lalu. Semoga pemerintah memilih sosok yang punya rasa hormat. Hubungan kita dengan Amerika Serikat sangat vital dan membutuhkan orang yang tepat, bukan sekadar teman satu partai,” tulis Hanson.
Hingga kini, pemerintah Australia belum mengumumkan siapa yang akan menggantikan Rudd. Albanese menyatakan penunjukan duta besar baru akan dilakukan “pada waktunya.” Sementara itu, Rudd bersiap memasuki peran barunya di Asia Society, memperdalam fokus pada dinamika strategis hubungan Amerika Serikat–China yang kian menentukan arah geopolitik kawasan Indo-Pasifik.

