LUMINASIA.ID, NEW YORK — Dalam langkah yang bisa memicu ketegangan diplomatik, Presiden Donald Trump menghadapi penolakan luas dari dunia internasional terkait rencananya membentuk “Board of Peace” yang dipimpinnya sendiri. Banyak negara menolak memperluas mandat badan baru tersebut di luar gencatan senjata Gaza, menegaskan kembali pentingnya Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dalam menjaga perdamaian global.
Dilansir AP, awalnya dimaksudkan sebagai kelompok kecil pemimpin dunia untuk mengawasi fase berikutnya dari gencatan senjata Gaza, Trump kini mendorong badan ini menjadi mediator global, sebuah upaya yang dipandang sebagai tantangan langsung terhadap Dewan Keamanan PBB.
Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres menegaskan dalam pernyataan tegas, “Tanggung jawab utama atas perdamaian dan keamanan internasional tetap berada pada PBB. Tidak ada badan lain yang bisa mewajibkan semua negara anggota untuk mematuhi keputusan perdamaian.”
Negara-negara besar, termasuk anggota veto Dewan Keamanan—China, Prancis, Rusia, dan Inggris—serta kekuatan ekonomi seperti Jepang dan Jerman, menolak bergabung. Inggris menegaskan dukungan mereka pada PBB dan sistem internasional berbasis aturan. Prancis dan Spanyol menyebut agenda Trump tumpang tindih dan berpotensi melemahkan struktur PBB.
Bahkan sekutu dekat AS, Kanada dan beberapa negara Eropa, menolak ajakan Trump. Sementara itu, beberapa negara Muslim yang bergabung menekankan fokus mereka hanya pada gencatan senjata Gaza dan hak Palestina, tanpa mendukung ambisi global Trump.
Pengamat internasional memperingatkan, ambisi Trump bisa menimbulkan isolasi diplomatik AS. Richard Gowan dari International Crisis Group mengatakan, “Jika fokus tetap pada Gaza, lebih banyak negara mungkin ikut. Tetapi memperluas agenda global membuat Board of Peace tampak seperti klub pribadi—dan itu tidak menarik bagi dunia.”
Louis Charbonneau dari Human Rights Watch menambahkan, “Alih-alih mendanai badan baru yang kontroversial, pemerintah sebaiknya memperkuat PBB—institusi yang telah menjaga perdamaian dunia lebih dari 80 tahun.”
Dengan penolakan dari negara besar dan fokus internasional yang tetap pada PBB, rencana Trump menghadapi krisis legitimasi sejak awal, menandai konflik diplomatik yang bisa memengaruhi posisi Amerika Serikat di panggung global.

