LUMINASIA.ID, NASIONAL - Kabar mengenai Doraemon yang dikabarkan berhenti tayang di RCTI tengah ramai diperbincangkan publik. Serial anime legendaris asal Jepang tersebut diketahui telah mengudara di RCTI sejak 9 Desember 1990 dan menjadi tontonan favorit lintas generasi di Indonesia.
Dilansir Tirto.id, isu penghentian tayang Doraemon mencuat setelah warganet ramai membahasnya di media sosial. Salah satu unggahan yang viral berasal dari akun X @IndoPopBase yang menuliskan, “Doraemon officially ends its run on RCTI after nearly four decades.” Unggahan tersebut telah dibagikan ulang ribuan kali dan memicu beragam reaksi dari pencinta Doraemon.
Doraemon selama puluhan tahun dikenal sebagai bagian tak terpisahkan dari masa kecil banyak generasi di Indonesia. Kartun ini hampir selalu hadir di layar kaca RCTI, terutama pada slot akhir pekan, dan identik dengan tayangan Minggu pagi maupun hari libur nasional.
Berdasarkan penelusuran jadwal siaran RCTI serta aplikasi RCTI+, sejak akhir Desember 2025 hingga awal Januari 2026, Doraemon tidak lagi tercantum dalam daftar program yang ditayangkan. Kondisi ini semakin menguatkan spekulasi bahwa kartun tersebut memang sedang tidak mengudara.
Secara historis, Doraemon telah menemani penonton Indonesia sejak lama. Anime ini pertama kali tayang di Indonesia pada periode 1979 hingga 1989 melalui TVRI. Setelah itu, Doraemon kembali hadir dan mulai ditayangkan di RCTI pada Desember 1990 setiap akhir pekan, sebelum akhirnya sejak 2024 ditayangkan setiap hari.
Absennya Doraemon dari layar RCTI terbilang mengejutkan, mengingat kartun ini telah menjadi salah satu program hiburan paling ikonik sejak era 1990-an. Popularitas Doraemon juga tak terbatas pada anak-anak, tetapi menjangkau penonton dewasa yang tumbuh bersama serial ini.
Hingga artikel ini ditulis, pihak RCTI belum mengeluarkan pernyataan resmi terkait kabar penghentian penayangan Doraemon. Belum ada pula informasi apakah absennya Doraemon bersifat sementara atau permanen. Oleh karena itu, berbagai penjelasan yang beredar saat ini masih sebatas analisis dan pengamatan dari media serta para penonton.

