LUMINASIA.ID - Penyaluran kredit perbankan di wilayah Sulawesi, Maluku, dan Papua (Sulampua) hingga November 2025 tercatat mencapai Rp449,98 triliun.
Meski masih tumbuh positif, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat laju pertumbuhan kredit mengalami perlambatan dibandingkan periode sebelumnya.
Berdasarkan data OJK, kredit perbankan Sulampua pada November 2025 tumbuh sebesar 4,05 persen secara tahunan (year on year/yoy). Pertumbuhan ini melambat dibandingkan posisi Desember 2024 yang tercatat tumbuh 7,44 persen (yoy) dengan nominal kredit sebesar Rp433,47 triliun.
Sebelumnya, pada November 2024 penyaluran kredit perbankan di Sulampua mencapai Rp432,47 triliun dengan pertumbuhan 7,90 persen (yoy). Sementara itu, pada Desember 2023, kredit perbankan tercatat sebesar Rp403,44 triliun dengan pertumbuhan yang lebih tinggi, yakni 9,20 persen (yoy).
Kepala OJK Provinsi Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat Moch. Muchlasin mengatakan perlambatan pertumbuhan kredit tersebut terutama dipengaruhi oleh adanya kontraksi pada segmen kredit modal kerja, seiring sikap kehati-hatian dunia usaha dalam melakukan ekspansi.
“Pertumbuhan kredit relatif tertahan akibat kontraksi pada segmen kredit modal kerja, namun secara umum fungsi intermediasi perbankan masih tetap berjalan,” ujar Moch. Muchlasin.
Dari struktur penyaluran kredit, OJK mencatat porsi kredit konsumtif masih mendominasi dengan pangsa sebesar 52,06 persen. Sementara itu, kredit produktif tercatat memiliki porsi sebesar 47,94 persen dari total penyaluran kredit perbankan di Sulampua.
Kondisi ini menunjukkan bahwa pembiayaan perbankan masih banyak didorong oleh kebutuhan konsumsi rumah tangga, meskipun kredit produktif tetap berperan dalam mendukung aktivitas dunia usaha dan sektor riil di daerah.
Meski pertumbuhan kredit melambat, kualitas kredit perbankan di Sulampua dinilai masih terjaga dengan baik. Hal ini tercermin dari rasio kredit bermasalah atau Non Performing Loan (NPL) yang berada di level 2,99 persen pada November 2025.
Angka NPL tersebut sedikit meningkat dibandingkan posisi Desember 2024 yang tercatat sebesar 2,29 persen dan November 2024 sebesar 2,44 persen, serta Desember 2023 yang berada di level 2,51 persen. Namun demikian, rasio tersebut masih berada di bawah ambang batas yang ditetapkan regulator.
“Kualitas kredit masih terjaga dan tetap berada dalam batas aman,” kata Moch. Muchlasin.
Dari sisi likuiditas dan agresivitas penyaluran kredit, rasio Loan to Deposit Ratio (LDR) perbankan Sulampua tercatat mencapai 124,14 persen pada November 2025. Angka ini sedikit menurun dibandingkan Desember 2024 yang berada di level 129,38 persen dan November 2024 sebesar 126,30 persen, namun masih lebih tinggi dibandingkan Desember 2023 yang tercatat sebesar 123,53 persen.
Menurut OJK, tingginya rasio LDR menunjukkan perbankan di Sulampua tetap aktif menyalurkan kredit kepada masyarakat dan dunia usaha dalam rangka mendukung pembiayaan perekonomian daerah.
“LDR yang relatif tinggi mencerminkan optimalisasi fungsi intermediasi perbankan dalam mendukung pertumbuhan ekonomi regional,” tegas Moch. Muchlasin.
Ke depan, OJK akan terus mendorong penyaluran kredit yang sehat dan berkualitas, khususnya pada sektor-sektor produktif, guna memperkuat struktur ekonomi daerah serta menjaga stabilitas sistem keuangan di wilayah Sulampua.

