LUMINASIA.ID, INTERNASIONAL - Ancaman Presiden Amerika Serikat Donald Trump untuk mengambil alih Greenland, termasuk dengan kekuatan militer, memicu kekhawatiran serius di kalangan negara-negara anggota NATO. Dilansir USA Today via MSN, pernyataan Trump yang menegaskan Amerika Serikat “akan mendapatkan Greenland, dengan cara mudah atau cara sulit” dinilai berpotensi mengganggu stabilitas internal aliansi pertahanan terbesar di dunia tersebut, mengingat Denmark—pemilik wilayah kedaulatan Greenland—merupakan anggota penuh NATO.
Berbicara kepada wartawan di dalam pesawat Air Force One pada Minggu, 11 Januari, Trump menepis pertanyaan soal dampak langkah tersebut terhadap NATO dan menegaskan klaimnya bahwa Greenland dibutuhkan untuk kepentingan keamanan nasional Amerika Serikat. Dalam pernyataannya, Trump mengatakan, “Saya ingin sekali membuat kesepakatan dengan mereka, itu akan mempermudah segalanya. Tapi dengan satu cara atau lainnya, kita akan memiliki Greenland.” Pernyataan ini langsung memicu kegelisahan di kalangan sekutu Eropa yang melihatnya sebagai ancaman terhadap prinsip kedaulatan dan kerja sama kolektif yang menjadi fondasi NATO.
Sikap Trump ini menempatkan NATO dalam posisi sulit, karena aliansi tersebut dibangun atas asas saling melindungi antaranggota, bukan menghadapi ancaman dari sesama sekutu. Pejabat Eropa menilai retorika tersebut berisiko merusak kepercayaan internal dan menimbulkan preseden berbahaya, terutama di tengah upaya NATO menjaga persatuan menghadapi tantangan global. Meski banyak politisi di Amerika sendiri tidak mendukung gagasan invasi, Trump dalam beberapa bulan terakhir justru semakin vokal, bergeser dari sekadar wacana pembelian menjadi ancaman terbuka.
Trump sebelumnya pernah melontarkan ide membeli Greenland pada 2019 saat masa jabatan pertamanya, namun ditolak tegas oleh Denmark dan pemerintah Greenland yang menyatakan wilayah itu tidak untuk dijual. Kini, dengan pernyataan bahwa Amerika Serikat akan mengambil Greenland “dengan cara mudah atau cara sulit,” NATO menghadapi ujian serius atas soliditas dan kredibilitasnya sebagai aliansi pertahanan kolektif. Para analis menilai, jika ketegangan ini berlanjut, hubungan Amerika Serikat dengan sekutu-sekutu Eropanya bisa mengalami tekanan paling berat dalam beberapa dekade terakhir.

