LUMINASIA.ID, Ketegangan geopolitik di Timur Tengah kembali mengguncang pasar energi global setelah Iran menutup Selat Hormuz di tengah konflik yang melibatkan Amerika Serikat dan Israel. Langkah tersebut langsung memicu lonjakan harga minyak dunia dan meningkatkan kekhawatiran terhadap stabilitas pasokan energi internasional.
Selat Hormuz merupakan salah satu jalur distribusi minyak dan gas paling vital di dunia. Sekitar 20 persen pasokan energi global melewati selat yang menghubungkan Teluk Persia dengan pasar internasional tersebut. Penutupan jalur strategis ini berpotensi mengganggu distribusi energi bagi banyak negara yang bergantung pada impor minyak dari kawasan Timur Tengah.
Dampak langsung dari situasi ini terlihat pada pergerakan harga minyak mentah global. Berdasarkan data terbaru, minyak mentah acuan Brent tercatat berada di level US$78,91 per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) mencapai US$72,23 per barel. Sejumlah analis memproyeksikan harga minyak dapat menembus kisaran US$80 hingga US$100 per barel jika konflik terus bereskalasi dan jalur distribusi energi tetap terganggu.
Lonjakan harga minyak ini juga menimbulkan kekhawatiran bagi negara-negara pengimpor energi, termasuk Indonesia. Ketergantungan terhadap pasokan minyak luar negeri membuat situasi geopolitik global sangat berpengaruh terhadap stabilitas energi domestik.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengungkapkan pemerintah tengah memantau perkembangan situasi secara intensif. Menurutnya, pemerintah akan segera melakukan koordinasi dengan Dewan Energi Nasional untuk membahas langkah antisipasi terhadap dampak yang mungkin terjadi.
“Sampai hari ini belum ada masalah berarti, tetapi harga minyak dunia bisa mengalami koreksi jika kondisi geopolitik di Timur Tengah terus memanas,” ujar Bahlil.
Pemerintah juga menyadari bahwa ketegangan di kawasan tersebut dapat mempengaruhi rantai pasok energi global dalam jangka pendek maupun menengah. Karena itu, pembahasan lintas lembaga diperlukan untuk memastikan kebijakan energi nasional tetap adaptif terhadap dinamika global.
Selain faktor harga, ketergantungan Indonesia terhadap impor minyak juga menjadi perhatian. Saat ini Indonesia masih mengimpor sekitar 1 juta barel minyak per hari untuk memenuhi kebutuhan energi nasional. Situasi tersebut membuat perkembangan konflik di Timur Tengah memiliki implikasi langsung terhadap perencanaan energi domestik.
Di tengah ketidakpastian geopolitik global, pemerintah menegaskan akan terus melakukan evaluasi terhadap kebijakan energi dan kesiapan nasional agar pasokan tetap terjaga serta dampak ekonomi dapat diminimalkan.

