LUMINASIA.ID, INTERNASIONAL - Penutupan Selat Hormuz oleh Iran setelah serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel memicu kekhawatiran besar di pasar energi global, terutama di kawasan Asia yang sangat bergantung pada jalur vital tersebut untuk pasokan minyak dan gas. Ketegangan geopolitik yang meningkat di Timur Tengah kini tidak hanya berdampak pada keamanan regional, tetapi juga berpotensi mengganggu stabilitas ekonomi internasional.
Dilansir Kompas, Selat Hormuz selama ini dikenal sebagai salah satu jalur pelayaran paling strategis di dunia karena sekitar 20 persen konsumsi minyak global melewati wilayah tersebut setiap hari. Data menunjukkan sekitar 20 juta barel minyak mentah, kondensat, dan bahan bakar melintasi selat ini, menjadikannya titik transit energi terpenting di dunia. Penutupan jalur tersebut langsung memicu kekhawatiran gangguan distribusi energi dan lonjakan harga minyak di pasar global.
Negara-negara Asia diperkirakan menjadi pihak yang paling terdampak jika penutupan berlangsung lama. China, India, Jepang, dan Korea Selatan menyerap hampir 70 persen dari total arus minyak mentah dan kondensat yang melewati Selat Hormuz. Gangguan pasokan ke negara-negara tersebut dapat memicu kenaikan harga energi, inflasi, dan tekanan terhadap pertumbuhan ekonomi di kawasan yang selama ini menjadi motor ekonomi dunia.
Selain minyak mentah, pasokan gas alam cair juga berisiko terganggu. Qatar sebagai salah satu produsen LNG terbesar di dunia sangat bergantung pada Selat Hormuz untuk mengekspor gasnya ke pasar internasional, terutama Asia. Gangguan pada jalur ini berpotensi memicu kelangkaan energi di sejumlah negara yang bergantung pada impor LNG, sekaligus meningkatkan biaya produksi dan transportasi.
Penutupan Selat Hormuz juga menimbulkan dilema bagi Iran sendiri. Meskipun langkah tersebut dianggap sebagai respons strategis terhadap serangan militer, Iran tetap bergantung pada jalur laut itu untuk mengekspor minyaknya ke mitra dagang utama seperti China. Analis energi menilai penutupan berkepanjangan dapat merugikan hubungan dagang Iran dan memperburuk kondisi ekonominya yang sudah tertekan sanksi internasional.
Di sisi lain, pasar global mulai bersiap menghadapi potensi lonjakan harga energi dan gangguan rantai pasok. Negara-negara pengimpor minyak di Asia dan Eropa diperkirakan akan mencari jalur alternatif atau meningkatkan cadangan strategis untuk mengantisipasi krisis pasokan. Situasi ini juga membuka peluang volatilitas tinggi di pasar energi, termasuk fluktuasi harga minyak mentah dan gas dalam beberapa pekan ke depan.
Ketegangan di Selat Hormuz menunjukkan betapa rapuhnya stabilitas energi global yang masih sangat bergantung pada satu jalur sempit. Jika konflik antara Iran, Amerika Serikat, dan Israel terus meningkat, dampaknya tidak hanya dirasakan di Timur Tengah, tetapi juga di seluruh dunia melalui tekanan harga energi, perdagangan internasional, dan stabilitas ekonomi global.

