LUMINASIA.ID, NASIONAL - Pemerintah resmi menyiapkan skema rekayasa lalu lintas besar-besaran untuk menghadapi lonjakan kendaraan pada mudik Lebaran 2026. Kebijakan ini bukan sekadar rutinitas tahunan, melainkan respons terhadap proyeksi tingginya mobilitas masyarakat yang diperkirakan mencapai 3,53 juta kendaraan keluar dari wilayah Jabotabek.
Dilansir Kompas, lonjakan tersebut diprediksi terjadi selama periode H-10 hingga H+10 Lebaran, dengan dua puncak arus mudik yang diperkirakan berlangsung pada 14–15 Maret dan 18–19 Maret 2026. Angka ini menjadi dasar utama pemerintah dalam merancang strategi pengaturan lalu lintas yang lebih ketat dan terukur.
Melalui Surat Keputusan Bersama lintas instansi, pemerintah mengombinasikan tiga skema utama, yakni sistem satu arah (one way), contra flow, serta pembatasan kendaraan berdasarkan pelat nomor ganjil-genap. Tujuannya adalah mengoptimalkan kapasitas jalan tol sekaligus meminimalkan potensi kemacetan parah di jalur utama mudik.
Sistem one way akan diberlakukan cukup panjang, membentang dari KM 47 Tol Jakarta-Cikampek hingga KM 421 Tol Semarang-Solo saat arus mudik. Skema ini diharapkan mampu mempercepat distribusi kendaraan menuju arah timur Pulau Jawa yang selama ini menjadi titik kepadatan tertinggi.
Sementara itu, contra flow difokuskan pada titik-titik rawan kepadatan seperti ruas Jakarta-Cikampek dan Jagorawi. Kebijakan ini bersifat fleksibel mengikuti kondisi lalu lintas di lapangan, sehingga dapat diberlakukan pada jam-jam tertentu saat volume kendaraan meningkat signifikan.
Di sisi lain, sistem ganjil-genap menjadi instrumen pembatasan jumlah kendaraan yang melintas di ruas tol tertentu. Kebijakan ini tidak hanya menyasar kendaraan pribadi, tetapi juga mencakup bus dan angkutan barang, dengan beberapa pengecualian untuk kendaraan darurat dan dinas.
Penerapan tiga skema tersebut menunjukkan pendekatan yang semakin komprehensif dalam pengelolaan arus mudik nasional. Pemerintah tidak hanya mengandalkan satu metode, melainkan memadukan berbagai strategi untuk menjaga kelancaran perjalanan masyarakat.
Kementerian Perhubungan pun mengimbau masyarakat agar merencanakan perjalanan lebih awal dan menyesuaikan waktu keberangkatan dengan jadwal rekayasa lalu lintas yang telah ditetapkan. Kepatuhan terhadap aturan menjadi kunci utama agar distribusi kendaraan tetap terkendali selama periode mudik.
Dengan skala pergerakan yang begitu besar, mudik Lebaran 2026 diperkirakan kembali menjadi salah satu mobilisasi manusia terbesar di Indonesia tahun ini.

