LUMINASIA.ID, MIAMI – Perempat final Piala Dunia 2026 antara Inggris dan Norwegia di Stadion Hard Rock, Miami, Minggu (12/7/2026) pukul 04.00 WIB, bukan hanya menghadirkan pertarungan dua tim yang sedang menanjak. Laga ini juga mempertemukan dua ritual ikonik yang menjadi sumber semangat masing-masing tim, yakni "Wonderwall" milik Inggris dan "Viking Row" milik Norwegia.
Setiap usai pertandingan, skuad Inggris selalu berkumpul menghadap tribun pendukung dan menyanyikan lagu "Wonderwall" karya Oasis bersama ribuan suporter. Kapten tim Harry Kane mengakui tradisi tersebut menghadirkan ikatan emosional yang belum pernah ia rasakan selama lebih dari satu dekade membela tim nasional.
"Kami mendapatkan bahan bakar tambahan untuk terus bertahan di turnamen," ungkap Kane.
Di sisi lain, Norwegia memiliki ritual "Viking Row", perayaan yang terinspirasi dari warisan bangsa Viking. Para pemain bersama suporter melakukan gerakan mendayung secara serempak dengan iringan teriakan khas "Ro...!" yang dipimpin kapten Martin Odegaard sebagai penabuh drum.
Menurut Erling Haaland, tradisi itu melampaui sekadar selebrasi sepak bola.
"Hal-hal kecil seperti itu lebih besar dari sepak bola. Itu selalu membuat saya merinding dan memberi energi tambahan," kata Haaland.
Inggris Datang dengan Kepercayaan Diri Tinggi
Tim asuhan Thomas Tuchel memasuki laga dengan modal kemenangan bersejarah atas tuan rumah Meksiko di Stadion Azteca pada babak 16 besar. Penampilan solid di stadion yang terkenal angker itu dinilai menjadi salah satu performa terbaik Inggris dalam beberapa dekade terakhir.
Legenda Inggris Alan Shearer bahkan menyebut kemenangan tersebut sebagai penampilan terbaik yang pernah ia saksikan dari tim nasional.
"Saya berusia 55 tahun dan baru saja melihat penampilan tim terbaik Inggris sepanjang hidup saya. Saya belum pernah melihat kebersamaan atau semangat seperti itu," ujar Shearer.
Bagi Inggris, lagu "Wonderwall" menjadi simbol persatuan yang menghapus keraguan para pendukung setelah enam dekade tanpa gelar Piala Dunia sejak 1966.
Norwegia Siap Melanjutkan Kejutan
Sementara itu, Norwegia datang dengan status kuda hitam setelah secara mengejutkan menyingkirkan Brasil di babak 16 besar. Meski tidak diunggulkan, Odegaard menegaskan timnya tidak gentar menghadapi Inggris.
"Pertandingan nanti sama seperti saat melawan Brasil. Kami tidak diunggulkan, tetapi semua bisa terjadi di sepak bola. Kami telah menunjukkan kepada dunia bahwa kami adalah tim yang bagus. Kami hanya perlu percaya pada diri sendiri," ujar Odegaard.
Ritual Viking Row dinilai mencerminkan karakter tim Norwegia yang terinspirasi keberanian bangsa Viking, yakni pantang menyerah dan tidak takut menghadapi lawan yang lebih kuat.
Duel Bintang dan Adu Strategi
Pertandingan juga akan menghadirkan sejumlah duel menarik di lapangan. Harry Kane dan Erling Haaland bakal bersaing menunjukkan ketajaman sebagai ujung tombak, sementara Martin Odegaard akan berhadapan dengan rekan setimnya di Arsenal, Declan Rice, dalam perebutan dominasi lini tengah.
Di pinggir lapangan, adu taktik antara Thomas Tuchel dan Stale Solbakken diperkirakan turut menentukan hasil pertandingan.
Namun lebih dari sekadar aspek teknis, laga ini diprediksi kembali membuktikan bahwa mentalitas, kebersamaan, dan dukungan suporter bisa menjadi faktor pembeda di Piala Dunia 2026. Hanya satu tim yang nantinya dapat merayakan kemenangan melalui ritual kebanggaan mereka, sementara tim lainnya harus mengakhiri perjalanan di turnamen.

