LUMINASIA.ID, MAKASSAR – Penyaluran kredit perbankan di Sulawesi Selatan hingga Juni 2026 terus mencatatkan pertumbuhan positif dengan nilai mencapai Rp176,30 triliun atau meningkat 5,27 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Pertumbuhan tersebut menunjukkan aktivitas pembiayaan kepada masyarakat maupun dunia usaha masih berjalan baik sebagai salah satu pendorong utama pertumbuhan ekonomi di Sulawesi Selatan.
Kepala OJK Provinsi Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat, Moch Muchlasin, mengatakan penyaluran kredit di Sulawesi Selatan masih mengalami pertumbuhan dengan kualitas yang tetap terjaga.
Baca: 300 Personel Lanud Sultan Hasanuddin dan Keluarga Belajar Perkuat Ketahanan Finansial di Era Digital
"Kinerja perbankan di Sulawesi Selatan pada posisi Juni 2026 masih menunjukkan pertumbuhan positif. Total aset, DPK, dan kredit perbankan tumbuh masing-masing sebesar 5,99 persen, 5,71 persen, dan 5,27 persen secara year on year," ujarnya.
Menurut Muchlasin, penyaluran kredit produktif masih menjadi porsi terbesar dibandingkan kredit konsumsi sehingga menunjukkan aktivitas pembiayaan sektor usaha tetap berjalan.
Kredit produktif tercatat sebesar Rp91,89 triliun atau sekitar 52,28 persen dari total kredit, sedangkan kredit konsumsi mencapai Rp82,50 triliun atau sekitar 47,72 persen.
Berdasarkan wilayah, Kota Makassar masih menjadi daerah dengan penyaluran kredit terbesar di Sulawesi Selatan.
Baca: OJK Dorong Digitalisasi Keuangan untuk Perkuat UMKM di Indonesia Timur
Nilai kredit yang disalurkan di Kota Makassar mencapai Rp83,40 triliun atau menguasai sekitar 53,04 persen dari total kredit di Sulawesi Selatan.
Di bawah Makassar, Kota Palopo mencatat penyaluran kredit sebesar Rp10,42 triliun dengan pangsa 6,63 persen.
Kabupaten Bone berada di posisi berikutnya dengan kredit mencapai Rp6,20 triliun atau tumbuh 8,54 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
Sementara Kota Parepare membukukan kredit Rp6,12 triliun, sedangkan Bulukumba sebesar Rp5,48 triliun.
Muchlasin juga menjelaskan bahwa dari sisi sektor ekonomi, perdagangan besar dan eceran masih menjadi sektor dengan penyaluran kredit produktif terbesar.
"Kredit produktif di Sulawesi Selatan masih didominasi sektor perdagangan besar dan eceran sebesar Rp37,96 triliun, disusul sektor pertanian, perburuan dan kehutanan sebesar Rp16,51 triliun serta industri pengolahan sebesar Rp7,53 triliun," katanya.
Selain itu, kredit juga mengalir ke sektor konstruksi sebesar Rp5,05 triliun, real estate dan jasa perusahaan Rp4,28 triliun, penyediaan akomodasi dan makan minum Rp3,90 triliun, jasa kemasyarakatan Rp3,65 triliun, listrik, gas dan air Rp3,34 triliun, transportasi Rp3,08 triliun serta perikanan Rp2,20 triliun.
Menurut Muchlasin, penyebaran kredit ke berbagai sektor tersebut menjadi indikator bahwa aktivitas ekonomi Sulawesi Selatan terus bergerak dan didukung oleh sektor jasa keuangan yang tetap sehat.
Ia berharap tren pertumbuhan kredit dapat terus dipertahankan agar mampu mendorong investasi, memperluas lapangan kerja, serta memperkuat pertumbuhan ekonomi daerah pada semester berikutnya.



