LUMINASIA.ID, MAKASSAR - Asuransi, baik kendaraan, kesehatan, maupun bangunan, masih dipandang sebelah mata oleh sebagian warga Indonesia, termasuk di Makassar. Dianggap tidak penting, dan hanya buang-buang uang saja.
Tapi tidak bagi Amiruddin, warga Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan. Penanggung jawab perusahaan ternama Bulukumba Jaya Grup yang dikenal sebagai Haji Amir, ini, memandang asuransi bukan halnya sebagai pemborosan biaya yang dibayarkan setiap tahun. Melainkan cara menjaga usaha tetap berjalan ketika risiko datang tanpa bisa diprediksi.
Haji Amir kepada Luminasia.id, menceritakan pengalamannya dengan asuransi, saat ditemui di kantornya Selasa (15/9/2026).
Selama bertahun-tahun, sejak Bulukumba Jaya hadir di awal 1990-an, kendaraan Bulukumba Jaya Motor yang diasuransikan mencapai ratusan unit menggunakan produk Garda Oto dari Astra Buana.
Bisnis rental tersebut, menurut Haji Amir, bukan model penyewaan kendaraan lepas kunci kepada perorangan, melainkan kendaraan masuk melalui pembiayaan perbankan sehingga perlindungan asuransi menjadi bagian dari pengelolaan aset tersebut.
Saat ini sekitar 10 kendaraan Bulukumba Jaya masih aktif diasuransikan melalui Asuransi Astra dan perlindungannya diperpanjang setiap tahun selama kendaraan tersebut masih digunakan.
Ia masih mengingat pengalaman pada awal perjalanan usahanya pada era 1990-an, ketika Bulukumba Jaya Grup baru dirintis dan sebuah truk milik perusahaan yang diasuransikan melalui Asuransi Garda Oto dari Astra Buana, terbakar di sebuah gudang di Bantaeng.
“Bulukumba Jaya itu kita rintis sekitar tahun 1990-an. Waktu itu usaha masih awal, kemudian ada truk yang terbakar di gudang di Bantaeng,” kata Haji Amir.
Menurutnya, kendaraan berharga ratusan juta tersebut menjadi salah satu aset penting dalam mendukung kegiatan usaha yang saat itu masih dalam tahap pengembangan.
Truk tersebut telah mendapatkan perlindungan dari Asuransi Astra Buana sehingga setelah kejadian, Haji Amir mengajukan klaim sesuai dengan ketentuan polis.
Hubungan yang berlangsung puluhan tahun itu membuatnya tidak hanya mengenal Asuransi Astra dari nama, tetapi juga dari pengalaman menghadapi berbagai risiko kendaraan dan aset usaha.
Bagi Haji Amir, keputusan memperpanjang perlindungan bukan semata karena sudah lama menjadi pelanggan, tetapi karena pengalaman selama puluhan tahun membuatnya memiliki kepercayaan terhadap layanan yang diberikan.
Klaim Mudah Hadapi Risiko Nyata
infografis mudahnya klaim Garda Oto Asuransi AstraKetika sebuah perusahaan memiliki banyak aset seperti kendaraan, showroom, tempat servis, rumah kantor dan persediaan, potensi risiko yang dihadapi juga semakin beragam.
Kendaraan dapat menghadapi risiko kecelakaan, kebakaran atau pencurian, sementara bangunan dapat menghadapi risiko kebakaran, banjir maupun kerusakan aset.
Jika risiko tersebut terjadi tanpa perlindungan, perusahaan harus menyediakan dana sendiri untuk memperbaiki atau mengganti aset yang rusak atau hilang.
Pengalaman truk terbakar di Bulukumba Jaya Motor menjadi salah satu contoh paling konkret bagaimana asuransi bekerja sebagai instrumen pengelolaan risiko dalam kegiatan usaha.
Haji Amir mengingat proses penggantian berlangsung sekitar satu bulan setelah seluruh dokumen serta persyaratan yang diperlukan dipenuhi.
“Karena kendaraan itu diasuransikan, kita ajukan klaim. Setelah persyaratannya lengkap, prosesnya berjalan,” katanya.
“Prosesnya kira-kira satu bulan setelah persyaratan lengkap,” ujarnya.
Menurutnya, pelayanan Asuransi Gard Oto dari Astra Buana ketika itu berjalan baik dan responsif.
Ia tidak sepakat dengan anggapan bahwa perusahaan asuransi sengaja mempersulit nasabah ketika mengajukan klaim, sebab menurutnya setiap perlindungan memiliki ketentuan dalam polis yang harus dipenuhi oleh kedua pihak.
“Asuransi itu kan ada polisnya, ada plus minusnya. Kita juga tidak bisa mengada-ada,” kata Haji Amir.
Pengalaman lain terjadi ketika salah satu kendaraan perusahaan mengalami masalah di Palopo.
Kendaraan tersebut tidak langsung ditarik menggunakan armada towing Asuransi Astra karena jarak Palopo menuju Makassar terlalu jauh, sehingga setelah berkoordinasi kendaraan diangkut menggunakan truk dan sebagian biaya pengangkutan kemudian diganti oleh pihak asuransi.
“Tidak mungkin juga ditowing dari Palopo langsung ke Makassar. Jadi kita naikkan ke truk, kemudian sebagian biayanya diganti,” ujarnya.
Bagi Haji Amir, pengalaman tersebut memperlihatkan bahwa pelayanan tidak selalu harus berlangsung dalam pola yang sama, terutama ketika kondisi di lapangan memiliki keterbatasan.
Hitungan Risiko
Penanggung jawab Bulukumba Jaya Grup Haji Amir memperlihatkan surat polis Garda Oto dri Asuransi Astra miliknyaBagi pelaku usaha, premi asuransi pada dasarnya merupakan bagian dari biaya untuk mengelola risiko yang nilainya bisa jauh lebih besar ketika kerugian benar-benar terjadi.
Haji Amir memberikan contoh sederhana dari pengalaman sehari-hari.
Menurut dia, biaya premi sekitar Rp4 juta dalam setahun bisa terlihat besar apabila tidak terjadi kerusakan, tetapi kerusakan pada kendaraan di beberapa titik saja dapat menghabiskan biaya yang mendekati angka tersebut.
“Kalau kita asuransikan, kita sudah merasa aman, kan? Kendaraan kita ada yang melindungi. Jadi itu pertimbangannya. Kita juga tidak terlalu kepikiran kalau kendaraan sudah diasuransikan. Misalnya premi per tahun Rp4 juta. Kalau mobil tidak diasuransikan, sedikit saja peot di tiga titik, biayanya sudah hampir Rp4 juta. Sedangkan dengan Rp4 juta itu sudah bisa mencakup satu mobil. Kalau sampai mobil hilang, kita hanya membayar risiko sendiri Rp300 ribuuntuk satu kali klaim,” ujar Haji Amir.
Dengan perlindungan, biaya yang dikeluarkan perusahaan sejak awal menjadi bagian dari upaya mengendalikan potensi kerugian yang lebih besar.
Ia menyebut risiko sendiri atau deductible yang harus ditanggung pelanggan berada di kisaran Rp300 ribu untuk setiap klaim sesuai ketentuan perlindungan yang dimiliki.
Untuk perlindungan TLO, Haji Amir menjelaskan pemahamannya bahwa kerusakan berat sekitar 70 persen atau lebih dapat diganti sesuai nilai pertanggungan sepanjang memenuhi ketentuan polis.
“TLO itu kerusakan 70 persen ke atas, diganti sesuai dengan nilai pertanggungan yang masuk,” katanya.
Ia sendiri belum pernah mengalami kehilangan kendaraan karena pencurian.
“Alhamdulillah, enggak pernah ada kehilangan mobil,” ujarnya.
Dalam pengalaman lainnya, kendaraan dengan kerusakan berat tetap diarahkan untuk diperbaiki sesuai ketentuan perlindungan.
Ketika ditanya mengenai nilai klaim terbesar, Haji Amir mengingat pernah ada klaim dengan nilai di atas ratusan juta rupiah, tetapi tidak merinci angka pastinya.
Pengalaman tersebut membuatnya melihat asuransi sebagai bagian dari manajemen risiko, terutama bagi perusahaan yang memiliki banyak kendaraan dan bangunan.
Menurut dia, pola berpikir seperti itu juga kemungkinan menjadi pertimbangan banyak pengusaha lain yang memiliki aset dan aktivitas usaha dengan risiko masing-masing.
Loyalitas Panjang
gedung Bulukumba Jaya MotorPuluhan tahun menjadi pelanggan tidak membuat Haji Amir hanya menggunakan satu jenis polis. Ia pun mengembangkan ke Garda Home untuk mengasuransikan bangunan miliknya, salah satunya adalah Hotel Denpasar, Jl Boulevard, Makassar.
"Sebagian besar kendaraan dan asetnya tetap berada di Asuransi Astra karena hubungan yang sudah terbangun sejak lama. Bangunan juga," ujarnya
Ia juga pernah menghadapi perlindungan terhadap bangunan, mulai dari gedung servis kendaraan, showroom, rumah sekaligus kantor, hingga bangunan lainnya yang dimiliki perusahaan.
Sebagian bangunan tersebut bahkan telah diasuransikan selama sekitar 10 tahun dan diperpanjang setiap tahun.
Saat ini salah satu outlet Bulukumba Jaya di Makassar sedang dalam proses klaim setelah mengalami banjir beberapa bulan sebelumnya yang berdampak pada mesin dan peralatan kerja.
Kasus tersebut belum selesai karena klaim bangunan membutuhkan pemeriksaan langsung dari tim untuk melihat kondisi aset dan menyusun laporan, berbeda dengan kendaraan yang proses pemeriksaannya relatif lebih langsung.
“Kalau bangunan kan harus datang tim, dilihat dulu, dibuat laporannya. Kalau kendaraan mungkin lebih gampang dicek,” kata Haji Amir.
Ia menilai pelayanan dan respons menjadi faktor penting yang membuat hubungan tersebut bertahan.
Untuk berkomunikasi dengan pihak asuransi, ia memang menggunakan WhatsApp, tetapi tetap lebih nyaman berbicara langsung melalui telepon atau meminta tenaga pemasaran datang.
“WhatsApp kita pakai, tapi saya lebih senang telepon langsung atau marketing datang. Jadi apa yang disampaikan itu jelas,” kata Haji Amir.
Menurut dia, respons Asuransi Astra cukup baik dan tidak berbelit-belit.
Jika pelayanan atau hasil klaim tidak sesuai harapan, pelanggan juga memiliki ruang untuk menyampaikan keluhan atau laporan.
“Kalau tidak puas, kita bisa laporkan atau komplain,” ujarnya.
Bagi Haji Amir, kepuasan terhadap layanan selama bertahun-tahun menjadi salah satu alasan dirinya tetap mempertahankan hubungan dengan Asuransi Astra meski di pasar tersedia banyak perusahaan asuransi lain.
Ekosistem Astra
Branch Manager Asuransi Astra Makassar Anselmo Sebastian Rendika memberikan oenjelasan terkait 7 Dekade Asuransi AstraPengalaman pelanggan seperti Haji Amir kemudian bertemu dengan strategi perusahaan yang terus mengembangkan layanan untuk mengikuti perubahan kebutuhan nasabah.
Branch Manager Asuransi Astra Makassar Anselmo Sebastian Rendika ditemui Luminasia.id Rabu (30/9/2026) mengatakan PT Asuransi Astra Buana memiliki lini perlindungan kendaraan melalui Garda Oto dan Garda Motor, sementara perlindungan di luar kendaraan menggunakan brand Asuransi Astra, termasuk untuk rumah, properti, kapal dan aset lainnya.
Menurut Anselmo, Asuransi Astra telah melewati perjalanan selama 70 tahun, sementara Garda Oto sendiri telah memasuki tiga dekade perjalanan.
“Kalau Garda Oto itu sudah 30 tahun, tetapi kalau perusahaannya sendiri sudah 70 tahun,” kata Anselmo.
Ia mengatakan posisi Asuransi Astra sebagai bagian dari ekosistem Astra menjadi salah satu kekuatan karena bisnis otomotif di dalam grup tersebut terhubung dari hulu hingga hilir, mulai dari dealer, pembiayaan, asuransi hingga bengkel.
“Kita ada ekosistem dari hulu sampai hilir. Ada dealer, ada pembiayaan, ada insurance, ada workshop,” ujarnya.
Kondisi itu, menurutnya, membuat komunikasi dengan pelanggan lebih mudah karena terdapat ekosistem yang saling mendukung.
Anselmo juga menyebut Asuransi Astra memiliki pelanggan bisnis atau B-customer yang tidak hanya mengasuransikan kendaraan, tetapi juga properti dan alat berat.
Pada sektor kendaraan roda empat di Sulawesi Selatan, bisnis Asuransi Astra menunjukkan pertumbuhan.
Hingga September 2026, Anselmo mengatakan nilai premi bisnis kendaraan roda empat meningkat hampir Rp25 miliar dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya atau tumbuh sekitar 17,5 persen.
“Kalau dari Januari sampai September, dibandingkan tahun lalu itu naik hampir Rp25 miliar atau sekitar 17,5 persen,” kata Anselmo.
Perjalanan Tujuh Dekade Asuransi Astra juga dibangun melalui ekosistem perlindungan yang menjangkau berbagai kebutuhan, baik individu maupun perusahaan.
Tidak hanya kendaraan, Asuransi Astra memiliki berbagai produk untuk melindungi aset dan aktivitas usaha, mulai dari asuransi kendaraan bermotor, kebakaran dan harta benda, pengangkutan, rangka kapal, alat berat hingga sejumlah risiko usaha lainnya.
Untuk kebutuhan individu, perlindungan tersedia melalui asuransi mobil Garda Oto, asuransi motor Garda Motor dan asuransi mikro, sementara kebutuhan kesehatan juga dilayani melalui produk asuransi kesehatan.
Asuransi Astra juga memiliki lini komersial yang memberikan perlindungan terhadap berbagai risiko perusahaan, termasuk kerusakan atau kehilangan aset, gangguan usaha, pengangkutan barang serta risiko yang berkaitan dengan kegiatan konstruksi dan peralatan.
Ekosistem tersebut membuat perlindungan dapat disesuaikan dengan karakter risiko masing-masing nasabah.
Makin Mudah dengan Virtual Survey
Perubahan kebutuhan pelanggan juga mendorong Asuransi Astra memperluas layanan digital, terutama bagi nasabah yang berada jauh dari pusat kota.
Anselmo mengatakan salah satu tantangan pelanggan di wilayah Sulawesi Selatan, Sulawesi Barat, Sulawesi Tenggara hingga Sulawesi Tengah adalah keterbatasan fasilitas ketika membutuhkan layanan klaim.
Dalam kondisi tertentu, pelanggan sebelumnya harus membawa kendaraan atau datang ke ibu kota provinsi untuk mengurus proses klaim.
Melalui fitur Virtual Survey pada aplikasi myGarda, proses tersebut dapat dilakukan dari lokasi pelanggan.
“Sekarang customer bisa klaim dari rumah. Kita ada Virtual Survey di myGarda,” kata Anselmo.
Nasabah dapat melakukan video call dengan surveyor untuk memperlihatkan kerusakan kendaraan secara langsung.
“Surveyornya video call dengan customer, kemudian kita lihat kerusakannya. Setelah itu kita keluarkan SPK,” ujarnya.
Setelah kerusakan diperiksa, perusahaan menerbitkan Surat Perintah Kerja atau SPK sehingga kendaraan dapat dibawa ke bengkel terdekat sesuai ketentuan layanan.
Menurut Anselmo, digitalisasi tersebut bukan sekadar memindahkan proses administrasi ke aplikasi, tetapi menjawab persoalan akses yang dialami pelanggan di wilayah yang jauh dari pusat layanan.
“Customer sudah bayar premi, jadi dia memang punya hak untuk mendapatkan layanan klaim,” katanya.
myGarda sendiri dikembangkan sebagai layanan terpadu yang memungkinkan pelanggan mengecek masa berlaku polis, memperkirakan premi kendaraan baru, meminta layanan Garda Siaga selama 24 jam, memantau perkembangan klaim hingga menggunakan Virtual Survey.
“Di myGarda itu all in one. Bisa cek polis, bisa lihat estimasi premi mobil baru, bisa request Garda Siaga 24 jam, bisa tracking klaim, dan ada Virtual Survey,” ujar Anselmo.
Asuransi Astra juga memiliki armada towing dan sepeda motor sendiri untuk mendukung layanan bantuan darurat.
Untuk layanan towing, pelanggan tidak dikenakan biaya tambahan sesuai layanan yang tersedia.
“Garda Siaga itu free, tidak ada tambahan biaya,” katanya.
Pilihan Bengkel Berkualitas
Setelah klaim disetujui, kualitas perbaikan menjadi bagian lain yang menurut Anselmo tidak bisa dipisahkan dari pengalaman pelanggan.
Garda Oto memiliki kerja sama dengan banyak bengkel resmi, termasuk jaringan Toyota, Daihatsu dan Isuzu.
Untuk wilayah yang fasilitas bengkelnya terbatas, mekanisme reimbursement dapat digunakan sesuai ketentuan.
Setelah proses Virtual Survey selesai, pelanggan dapat memberikan referensi bengkel terdekat dan Asuransi Astra akan berkoordinasi dengan bengkel tersebut untuk memastikan standar perbaikan sesuai ketentuan.
“Setelah Virtual Survey, customer kasih referensi bengkel terdekat. Nanti kita kontak bengkelnya, kita samakan standarnya,” ujarnya.
Menurut Anselmo, kualitas perbaikan menjadi perhatian karena pelanggan tidak hanya membutuhkan kendaraan kembali, tetapi juga menginginkan hasil perbaikan yang baik.
“Kita sangat concern dengan kualitas perbaikan,” katanya.
Garda Oto memberikan garansi perbaikan selama satu tahun.
“Garansinya satu tahun. Kalau customer tidak puas, mobil bisa dikembalikan lagi ke bengkel sampai customer puas,” ujar Anselmo.
Untuk layanan darurat, pelanggan juga dapat memilih bengkel resmi yang diinginkan sesuai ketentuan, tidak semata-mata harus memilih bengkel yang lokasinya paling dekat.
Ketenangan Baru
layanan towing Garda OtoPerjalanan Tujuh Dekade Asuransi Astra tidak hanya berkaitan dengan usia perusahaan, tetapi juga bagaimana kebutuhan perlindungan berubah mengikuti kehidupan pelanggan dan perkembangan bisnis.
Anselmo mengatakan inovasi juga dilakukan melalui Garda Medika yang menawarkan layanan Express Discharge.
Melalui layanan tersebut, peserta dapat berkonsultasi dengan dokter, menyelesaikan proses pelayanan kesehatan dan kemudian pulang tanpa harus melalui antrean administrasi yang panjang, sementara obat dapat dikirimkan kepada pelanggan melalui sistem yang tersedia.
“Sekarang kita ada Express Discharge. Customer konsultasi dokter, selesai, tidak perlu antre lagi, bisa langsung pulang dan obatnya kita kirim,” kata Anselmo.
Garda Medika merupakan produk asuransi kesehatan untuk segmen B2B atau korporasi, bukan produk individual.
Menurut Anselmo, pelanggan Garda Medika didominasi kelompok perusahaan dan jumlah perusahaan yang menggunakan layanan tersebut telah mencapai lebih dari 300 perusahaan.
“Customer kita lebih banyak dari grup Astra dan perusahaan. Sekarang perusahaan yang menggunakan Garda Medika sudah lebih dari 300,” ujarnya.
Di sisi kendaraan, digitalisasi melalui myGarda dan Virtual Survey diarahkan untuk memberikan akses layanan yang lebih mudah, terutama bagi pelanggan yang berada di daerah.
Bagi pelanggan seperti Haji Amir, inovasi tersebut pada akhirnya kembali kepada hal yang sederhana: merasa aman ketika aset usaha dipertaruhkan.
Ia sudah menggunakan layanan Asuransi Astra Buana sejak sekitar 1990-an, melewati perubahan bisnis, bertambahnya kendaraan, perkembangan showroom, hingga kebutuhan perlindungan bangunan.
Tidak semua risiko dapat dihindari, tetapi sebagian konsekuensinya dapat dikelola ketika perlindungan disiapkan sebelum risiko datang.
Di situlah makna Tujuh Dekade Asuransi Astra menemukan relevansinya dalam dunia usaha: kepercayaan dibangun melalui pengalaman yang berulang, sementara ketenangan menjadi nilai yang dicari ketika kendaraan terbakar, aset rusak, banjir datang, atau sebuah perusahaan harus memastikan kegiatan usahanya tetap berjalan.
Bagi Haji Amir, loyalitas tersebut bukan hanya soal nama perusahaan yang sudah dikenalnya sejak lama.
“Yang penting pelayanan. Selama ini saya lihat responsnya bagus, tidak dipersulit dan sesuai dengan komitmen,” katanya.
Kepercayaan tumbuh karena ketika risiko benar-benar terjadi, ada pihak yang dapat dihubungi, ada proses yang dapat dijalankan, dan ada komitmen perlindungan yang sebelumnya telah disepakati.
Pada akhirnya, asuransi bukan tentang berharap risiko datang, melainkan tentang memastikan usaha memiliki ruang untuk tetap bergerak ketika risiko itu benar-benar datang.
Financial Planner: Penting untuk Pengusaha
Financial Planner Wawan DarmawanBagi financial planner Dr. Wawan Darmawan, S.E., M.Si., Ak., CA., CTA., ACPA., CTT, pengalaman Bulukumba Jaya memperlihatkan bahwa asuransi memiliki fungsi yang lebih luas daripada sekadar membayar kerugian ketika terjadi musibah.
Dalam perencanaan keuangan, menurut Wawan, keputusan memilih asuransi seharusnya dimulai dari risiko yang ingin dilindungi, nilai aset, potensi kerugian, kemampuan membayar premi secara berkelanjutan hingga kecukupan uang pertanggungan.
“Prinsip sederhananya adalah asuransi harus dibeli berdasarkan kebutuhan perlindungan, bukan sekadar karena produknya menarik,” kata Wawan.
Ia mengatakan calon nasabah juga perlu memahami manfaat dan cakupan polis, termasuk pengecualian atau risiko yang tidak ditanggung, serta mempertimbangkan reputasi dan kualitas pelayanan perusahaan, khususnya dalam proses klaim.
Bagi pelaku usaha, pertimbangan tersebut menjadi semakin penting karena perlindungan aset berkaitan langsung dengan kemampuan perusahaan menjaga operasional ketika risiko terjadi.
Pengalaman Bulukumba Jaya menjadi contoh bagaimana risiko yang awalnya hanya berupa kemungkinan dapat benar-benar terjadi dalam aktivitas bisnis.
Truk yang terbakar, kendaraan yang mengalami masalah di Palopo hingga bangunan yang terdampak banjir menunjukkan bahwa risiko usaha dapat muncul dalam bentuk yang berbeda dan pada waktu yang tidak selalu dapat diprediksi.
“Pengalaman Bulukumba Jaya tersebut menunjukkan bahwa risiko bukan sesuatu yang hanya bersifat teoritis dalam perencanaan keuangan, tetapi benar-benar dapat terjadi dalam aktivitas bisnis sehari-hari,” ujarnya.
Menurut Wawan, ketika perusahaan memiliki banyak kendaraan, showroom, tempat servis, rumah kantor dan aset lainnya, satu kejadian besar berpotensi menyerap dana yang seharusnya digunakan untuk kebutuhan lain.
Dana yang semestinya digunakan untuk membeli persediaan, membayar karyawan, melakukan investasi atau menjalankan kegiatan operasional dapat tersedot untuk mengganti aset yang rusak atau hilang.
“Manfaat asuransi bukan hanya dirasakan ketika klaim terjadi, tetapi terutama dalam menjaga agar satu kejadian tidak mengganggu keseluruhan kondisi keuangan dan kelangsungan usaha,” kata Wawan.
Karena itu, pengusaha perlu melihat premi dari sudut pandang pengelolaan risiko.
Wawan menyarankan pengusaha melakukan pemetaan terhadap aset yang dimiliki, kemudian mengidentifikasi risiko dan potensi dampak finansialnya sebelum menentukan perlindungan yang dibutuhkan.
Menurutnya, pertanyaan yang perlu diajukan bukan hanya mengenai besarnya premi yang harus dibayarkan, tetapi juga mengenai besarnya dana yang berpotensi hilang apabila risiko benar-benar terjadi.
“Yang perlu dilihat bukan hanya berapa besar premi yang harus saya bayar, tetapi berapa besar dana perusahaan yang berpotensi hilang apabila risiko tersebut benar-benar terjadi,” ujarnya.
Wawan memberikan gambaran sederhana mengenai cara pandang tersebut.
Premi kendaraan sebesar Rp100 juta per tahun memang terlihat sebagai pengeluaran yang cukup besar bagi perusahaan. Namun, jika terjadi kecelakaan besar yang menimbulkan kerugian hingga Rp1 miliar, keberadaan perlindungan dapat membantu perusahaan mempertahankan arus kas dan tidak langsung mengeluarkan seluruh dana dari kas operasional.
“Premi bukan sekadar biaya yang mengurangi laba, tetapi instrumen untuk mengendalikan volatilitas cash flow dan melindungi modal perusahaan,” ujarnya.
Dengan cara pandang tersebut, premi tidak semata-mata menjadi biaya yang mengurangi laba, tetapi menjadi instrumen untuk mengendalikan volatilitas arus kas dan melindungi modal perusahaan.
Makna asuransi juga berkaitan dengan ketenangan. Namun, menurut Wawan, ketenangan tersebut bukan berarti risiko menjadi hilang.
“Ketenangan dalam asuransi bukan berarti risiko hilang, tetapi ketidakpastian mengenai dampak finansial dari risiko tersebut menjadi lebih terkendali,” katanya.
Dalam konteks perencanaan keuangan, kondisi tersebut penting karena tujuan pengelolaan keuangan bukan hanya memperoleh dan mengembangkan kekayaan, tetapi juga menjaga kekayaan, likuiditas dan keberlangsungan keuangan ketika menghadapi kejadian yang tidak terduga.
Perspektif tersebut juga menjelaskan mengapa hubungan nasabah dengan perusahaan asuransi dapat berlangsung panjang.
Menurut Wawan, loyalitas tidak semata-mata terbentuk karena harga premi, tetapi dari pengalaman nasabah terhadap kualitas hubungan dengan perusahaan asuransi.
Nasabah cenderung bertahan ketika perusahaan dapat dipercaya, proses klaim berjalan baik, pelayanan responsif, kebutuhan nasabah dipahami dan produk terus disesuaikan dengan perkembangan kebutuhan.
“Loyalitas biasanya terbentuk bukan hanya karena harga premi, tetapi karena pengalaman nasabah terhadap kualitas hubungan dengan perusahaan asuransi,” ujarnya.
Hubungan jangka panjang tersebut memiliki nilai ekonomi bagi kedua pihak.
Bagi nasabah, hubungan yang sudah terbangun dapat memberikan efisiensi dalam memahami polis, proses administrasi dan pengelolaan risiko.
Sementara bagi perusahaan asuransi, nasabah yang loyal menciptakan hubungan bisnis jangka panjang dan peluang untuk mempertahankan portofolio nasabah.
Meski demikian, Wawan mengingatkan loyalitas tidak berarti nasabah harus berhenti mengevaluasi perlindungannya.
“Loyalitas tetap harus didasarkan pada nilai dan kualitas perlindungan. Nasabah sebaiknya tetap melakukan evaluasi secara berkala apakah perlindungan yang dimiliki masih sesuai dengan kebutuhan dan kondisi keuangannya,” katanya.
Di tengah perubahan kebutuhan bisnis dan perkembangan teknologi, Wawan menilai perusahaan asuransi juga harus mampu beradaptasi tanpa kehilangan unsur kepercayaan.
Digitalisasi dapat membuat proses pembelian polis, pembayaran premi, pelaporan klaim, pemantauan status klaim hingga komunikasi dengan nasabah menjadi lebih cepat dan transparan.
Namun, teknologi bukan tujuan akhir.
“Adaptasi teknologi seharusnya bukan sekadar membuat proses menjadi digital, tetapi membuat nasabah merasa lebih mudah, lebih jelas, dan lebih aman,” ujar Wawan.
Karena itu, perusahaan asuransi tetap perlu memberikan informasi polis secara transparan, memperjelas proses dan persyaratan klaim, meningkatkan keamanan data nasabah, menyediakan layanan yang mudah diakses serta tetap memberikan pendampingan manusia ketika nasabah menghadapi risiko.
Bagi Wawan, teknologi dan hubungan manusia justru harus berjalan bersama.
Sebab pada saat risiko benar-benar terjadi, yang dibutuhkan nasabah bukan hanya sistem digital yang cepat, tetapi juga kepastian bahwa ada pihak yang memahami kebutuhannya dan dapat membantu menyelesaikan persoalan.
Dalam konteks Bulukumba Jaya, pengalaman menggunakan asuransi sejak sekitar 1990-an akhirnya memperlihatkan fungsi tersebut secara nyata.
Risiko yang selama bertahun-tahun hanya menjadi kemungkinan akhirnya benar-benar terjadi, tetapi dampaknya tidak harus ditanggung sepenuhnya oleh perusahaan.
Di titik itulah asuransi, menurut Wawan, menjadi bagian dari strategi menjaga keberlangsungan usaha, bukan sekadar produk keuangan yang dibeli untuk memenuhi kebutuhan perlindungan.
Transformsi Digital MyGarda
Memasuki Tujuh Dekade Asuransi Astra, perusahaan memperkuat transformasi digital melalui tiga inovasi, yakni aplikasi myGarda, platform pembelian polis kendaraan melalui gardaoto.com, serta pembaruan layanan darurat Garda Siaga.
President Director Asuransi Astra Maximiliaan Agatisianus mengatakan inovasi tersebut merupakan bagian dari upaya perusahaan memberikan pengalaman berasuransi yang semakin mudah sekaligus menjaga kepercayaan pelanggan.
“Kami harap seluruh inovasi yang kami perkenalkan pada hari ini dapat memberikan pengalaman berasuransi yang semakin mudah, sehingga masyarakat tidak ragu untuk menjadikan asuransi sebagai solusi bagi perlindungan aset yang dapat dipercaya,” ujarnya.
Menurut Maximiliaan, myGarda kini mengintegrasikan lebih dari 20 layanan Asuransi Astra, mulai dari bantuan darurat, klaim, survei hingga kebutuhan kontrol rawat jalan.
“Dari sisi customer, mereka ingin semuanya ada dalam satu aplikasi. Di sisi lain, ada pelanggan yang memiliki beberapa polis dari beberapa jenis produk sekaligus,” katanya.
Ia mengatakan kondisi tersebut membuat perusahaan mengembangkan layanan yang lebih terintegrasi karena pelanggan tidak perlu menggunakan banyak aplikasi untuk mendapatkan layanan Asuransi Astra.
MyGarda sendiri merupakan pengembangan dari Otocare yang mulai dikembangkan pada 2015 dan Medcare pada 2016.
Digitalisasi juga diterapkan pada pembelian polis Garda Oto melalui gardaoto.com.
Dengan teknologi optical character recognition atau OCR, pelanggan cukup mengunggah KTP dan STNK sehingga data dapat terbaca otomatis, dari sebelumnya harus memasukkan 16 data secara manual.
“Dengan melakukan pembelian polis Garda Oto melalui gardaoto.com pelanggan akan mendapatkan akses langsung ke myGarda karena akun akan otomatis terbuat dan siap digunakan,” ujar Maximiliaan.
Menurut dia, proses tersebut membuat pembelian polis lebih sederhana karena terhubung langsung dengan layanan digital Asuransi Astra.
“Pembelian polis asuransi Garda Oto menjadi lebih sederhana, cepat, dan terintegrasi secara digital,” katanya.
Sementara itu, Garda Siaga diperbarui dengan armada hydraulic flatbed untuk mendukung evakuasi kendaraan hybrid, plug-in hybrid electric vehicle atau PHEV dan battery electric vehicle atau BEV.
Armada tersebut memungkinkan kendaraan diangkut secara utuh sehingga lebih aman untuk karakteristik kendaraan elektrifikasi.
“Untuk memperluas jangkauan layanan Garda Siaga, Asuransi Astra berkolaborasi dengan AstraWorld, sehingga kini layanan tersebut telah tersedia di 31 titik di seluruh Indonesia,” kata Maximiliaan.
Rangkaian inovasi tersebut memperlihatkan bagaimana Tujuh Dekade Asuransi Astra tidak hanya berbicara tentang perjalanan selama 70 tahun, tetapi juga kemampuan perusahaan beradaptasi dengan kebutuhan nasabah.
Transformasi digital menjadi bagian dari upaya menjaga kepercayaan sekaligus menghadirkan ketenangan, karena pelanggan memperoleh akses perlindungan dan layanan yang semakin mudah ketika membutuhkan bantuan.
Tujuh Dekade dan Kontribusi Sosial
Perjalanan Tujuh Dekade Asuransi Astra juga diterjemahkan melalui kontribusi sosial kepada masyarakat dan lingkungan, sejalan dengan visi Bring Peace of Mind to Millions serta komitmen menjadi good corporate citizen yang menerapkan prinsip Environment, Social & Governance (ESG).
Kontribusi tersebut dijalankan melalui empat pilar Public Contribution, yakni kesehatan, pendidikan, lingkungan dan kewirausahaan, yang diselaraskan dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan atau SDGs.
Di bidang pendidikan, Asuransi Astra menjalankan program literasi dan inklusi keuangan, beasiswa, edukasi aman berkendara hingga bantuan fasilitas sekolah.
Pada bidang kesehatan, kontribusi diarahkan pada penurunan angka stunting, perluasan akses layanan kesehatan serta pembinaan kader dan posyandu.
Sementara di bidang lingkungan, program mencakup penanaman pohon, instalasi panel surya, pengelolaan limbah padat dan manajemen air.
Untuk kewirausahaan, Asuransi Astra mendukung pelaku Usaha Mikro, Kecil dan Menengah atau UMKM melalui pelatihan keterampilan kewirausahaan hingga bantuan modal usaha.
Seluruh pendekatan tersebut kemudian terintegrasi dalam Estafet Peduli Bumi, program CSR unggulan Asuransi Astra yang mencakup edukasi literasi keuangan, K3 dan safety riding training, penanaman pohon, pengelolaan sampah melalui bank sampah, penghematan air dan energi.
Dengan demikian, Tujuh Dekade Asuransi Astra tidak hanya mencerminkan perjalanan panjang dalam memberikan perlindungan, tetapi juga upaya memperluas manfaat bagi masyarakat dan lingkungan.
Jika perlindungan aset memberikan ketenangan ketika risiko terjadi, kontribusi sosial menjadi bentuk lain dari upaya menghadirkan peace of mind yang manfaatnya dirasakan lebih luas.
Khusus di Makassar, Anselmo mengatakan bentuk kegiatan CSR lebih ditekankan dalam bentuk literasi keuangan.
“Kami dalam setaun beberapa kali menggelar literasi keuangan bekerjasama dengan berbagai pihak terkait. Misalnya untuk mahasiswa, untuk wanita, warga sekitar kantor, termasuk untuk media di Makassar,” ujar Anselmo.
Khusus media, Asuransi Astramenggelar media gatheting dengan tema “Cerdas Memahami, Nyaman Menggunakan: Memahami Perlindungan Konsumen untuk Pengalaman Berasuransi yang Lebih Baik”, yang berkolaborasi dengan Otoritas Jasa Keuangan di The Foreign, Makassar, Jumat (4/9/2026).
Dalam kesempatan tersebut Regional Manager Asuransi Astra yang membawahi wilayah Jawa Barat-Sulawesi, Hendra Tan, mengatakan kegiatan bersama media tersebut menjadi bagian dari upaya memperluas edukasi mengenai literasi keuangan kepada masyarakat.
Hendra mengatakan, kolaborasi dengan OJK dan media diperlukan agar informasi mengenai perlindungan konsumen dapat disebarluaskan secara lebih luas.
“Hari ini kita sama-sama, OJK bersama Asuransi Astra, bersama-sama untuk mengedukasi para media untuk memberitakan atau menyebarluaskan edukasi kita kepada masyarakat yang ada, khususnya di wilayah Makassar,” ujar Hendra.(*)
INFOGRAFIS 7 DEKADE ASURANSI ASTRA




