LUMINASIA.ID, INTERNASIONAL - Sejumlah ledakan dilaporkan mengguncang ibu kota Venezuela, Caracas, pada Sabtu dini hari waktu setempat. Dentuman keras terdengar di berbagai wilayah kota, disertai kepulan asap yang terlihat membumbung ke udara dari beberapa titik strategis.
Hingga kini, penyebab pasti ledakan tersebut belum dapat dipastikan. Namun, beredar laporan yang belum terverifikasi mengenai aktivitas pesawat dan helikopter yang terbang rendah di atas Caracas pada waktu kejadian.
Dilansir BBC, situasi ini muncul di tengah meningkatnya ketegangan antara Venezuela dan Amerika Serikat. Presiden AS Donald Trump sebelumnya telah mengerahkan satuan tugas angkatan laut ke kawasan Karibia dan berulang kali melontarkan ancaman kemungkinan serangan darat ke wilayah Venezuela.
Gedung Putih belum memberikan pernyataan resmi terkait insiden tersebut. Meski demikian, mitra BBC di Amerika Serikat, CBS, melaporkan bahwa pejabat pemerintahan Trump mengetahui adanya laporan ledakan serta aktivitas pesawat di atas Caracas.
Dilansir Yahoo News, Beberapa lokasi yang disebut-sebut menjadi sasaran serangan antara lain pangkalan udara militer La Carlota yang berada di pusat kota, serta kompleks militer utama Fuerte Tiuna. Selain itu, sejumlah kawasan permukiman di sekitar lokasi terdampak dilaporkan mengalami pemadaman listrik.
Video yang memperlihatkan ledakan dan helikopter yang terbang rendah telah beredar luas di media sosial. Namun, hingga kini rekaman tersebut belum dapat diverifikasi secara independen.
Peristiwa ini juga berkaitan dengan operasi militer AS di wilayah Karibia. Dalam beberapa waktu terakhir, Washington melancarkan serangkaian serangan terhadap kapal-kapal yang dicurigai membawa narkotika. Pada Senin sebelumnya, Trump mengklaim bahwa AS telah menyerang sebuah “area dermaga” yang diduga terkait dengan jaringan penyelundupan narkoba Venezuela, dan menyebut insiden itu menyebabkan “ledakan besar”.
Presiden Venezuela Nicolás Maduro menuduh Amerika Serikat melakukan intimidasi dengan tujuan menggulingkan pemerintahannya. Ia juga menilai penyitaan beberapa kapal tanker minyak Venezuela oleh AS menunjukkan niat Washington untuk menguasai cadangan minyak besar yang dimiliki negaranya.
Amerika Serikat sendiri menuduh Maduro terlibat langsung dalam jaringan penyelundupan narkoba dan menyebut kepemimpinannya tidak sah. Hasil pemilihan presiden Venezuela tahun lalu pun banyak ditolak oleh komunitas internasional .Dalam laporan terpisah, pemerintah Venezuela menuding AS telah menyerang fasilitas sipil dan militer di sejumlah negara bagian. Setidaknya tujuh ledakan serta suara pesawat terbang rendah terdengar sekitar pukul 02.00 dini hari di Caracas.
Dilansir Associated Press, asap terlihat mengepul dari hanggar sebuah pangkalan militer di ibu kota, sementara instalasi militer lainnya dilaporkan kehilangan pasokan listrik. Warga di berbagai lingkungan berhamburan keluar rumah, sebagian tampak berkumpul di jalan-jalan.
“Semuanya bergetar. Ini mengerikan. Kami mendengar ledakan dan suara pesawat,” ujar Carmen Hidalgo (21), seorang pegawai kantor, dengan suara gemetar. Ia berjalan cepat bersama dua anggota keluarganya usai menghadiri pesta ulang tahun. “Kami merasakan seperti ada tekanan udara yang menghantam tubuh kami.”
Meski situasi mencekam, televisi pemerintah Venezuela tidak menghentikan siarannya dan tetap menayangkan program tentang musik serta seni nasional.
Ledakan tersebut terjadi hanya sehari setelah Venezuela menyatakan kesediaannya untuk membuka dialog dengan Amerika Serikat terkait kerja sama pemberantasan perdagangan narkoba. Namun, Maduro dalam wawancara rekaman yang ditayangkan Kamis lalu kembali menegaskan keyakinannya bahwa AS berupaya memaksakan perubahan rezim dan mengakses cadangan minyak Venezuela melalui tekanan militer dan ekonomi yang telah berlangsung berbulan-bulan, termasuk pengerahan besar-besaran pasukan AS ke Laut Karibia sejak Agustus.
Maduro sendiri telah didakwa di Amerika Serikat atas tuduhan narco-terrorism. Pekan lalu, CIA disebut berada di balik serangan drone ke sebuah area dermaga yang diyakini digunakan kartel narkoba Venezuela, yang menjadi operasi langsung pertama di daratan Venezuela sejak AS memulai serangan terhadap kapal-kapal di laut pada September.
Selama beberapa bulan terakhir, Trump juga secara terbuka mengancam akan memerintahkan serangan ke target-target di wilayah darat Venezuela. Selain itu, AS telah menyita sejumlah kapal tanker minyak yang terkena sanksi serta memblokade kapal-kapal lainnya, langkah yang dinilai semakin menekan perekonomian Venezuela.
Militer AS diketahui telah menyerang kapal-kapal di Laut Karibia dan Samudra Pasifik timur sejak awal September. Hingga Jumat, tercatat sedikitnya 35 serangan kapal, dengan jumlah korban tewas mencapai sedikitnya 115 orang, berdasarkan data yang diumumkan pemerintahan Trump.

