LUMINASIA.ID - Banyak cerita yang diduga terkait Aurelie dan Roby dalam Broken Strings ebook.
Salah satunya bagaimana Aurelie Moeremans menikah dengan karakter yang ia beri nama Bobby.
Banyak ancaman, bahkan pemaksaan di usia Aurelie ke-18.
Ini kutipan dari bab 9 Broken Strings ebook, yang membahas terkait pernikahan.
Baca: Ini Link Download Broken Strings PDF Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris, Terkait Aurelie dan Roby?
Mereka merapikan map dan pergi. Tapi Bobby belum selesai.
“Nih buat aku,” katanya sambil mengeluarkan selembar kertas kosong dari tas, seolah semuanya sudah diatur layaknya skenario.
Ia mengatakannya kata demi kata: “Aku, Aurélie, menyatakan bahwa aku sadar, dalam keadaan sadar, dan menulis pernyataan ini tanpa paksaan. Aku ingin menikah dengan Bobby. Ini kehendakku. Keputusanku. Pilihanku.”
Ia membuatku menandatanganinya.
Untuk arsipnya. Untuk bukti. Untuk kendali. Satu lembar lagi untuk disandera.
Nanti, ia akan membuatku menulis lebih banyak. Surat, pernyataan, deklarasi.
Masing-masing jadi bukti untuk koleksinya, masing-masing jadi rantai baru di leherku.
Pertama kali itu tidak mudah.
Air mataku menetes di halaman, satu demi satu, mengotori tinta, membuat huruf luntur.
Bobby jadi kesal dan memaksaku mengulang. Berkali-kali.
Kucoba menghapus bekas air mata, tapi tangis terus datang, mengotori setiap baris.
Saat aku menulis ulang, salah satu teman lama Bobby datang.
Usianya seumuran Bobby, sudah menikah, bekerja sebagai manajer di sebuah perusahaan.
Ia mencondongkan tubuh untuk melihat kertas, memastikan terlihat resmi.
Lalu ia terkekeh, “Cewekmu masih kecil banget, Bob. Tulisan tangannya aja masih kayak anak SD.”
Tawanya menusuk lebih dalam dari pulpen di tanganku.
Malu mengganda.
Setelah memiliki semua surat itu, kami pergi ke ATM di dalam mal.
Bobby bilang mau cek transfer, jadi aku berdiri di sampingnya sementara ia menekan layar mesin.
Secara tak sengaja aku melirik ke layar dan melihat saldo. Dua juta rupiah.
Mataku tertahan sebentar sebelum ia menangkapku menatap.
Kepala Bobby berputar cepat, nadanya tajam. “Kenapa kamu lihat? Mau bilang apa?”
Aku cepat-cepat menggeleng. “Nggak apa-apa.”
Namun dalam hati terngiang. Dua juta?
Ia mau menikahiku dengan jumlah segitu?
Bagaimana ia membayar gereja, pengacara yang ia sebut-sebut?
Lalu aku ingat ia baru saja bayar uang muka mobil.
Mungkin itu sebabnya cuma segitu yang tersisa.
Tetap saja, rasanya aneh.
Aku memberanikan diri bertanya lembut, hati-hati, “Itu rekeningmu satu-satunya?”
Ia meledak. “Serius? Kamu? Bertingkah materialistis kayak putri? Duit bisa dicari. Keluargamu miskin juga.”
Malu menyengat.
Aku cuma bertanya, tapi cara ucapnya membuatku merasa murahan, serakah, tak tahu terima kasih.
Aku cuma minta maaf, takut ledakan berikutnya.
Di perjalanan pulang, aku menangis dalam diam.
Air mata membuat jalanan jadi goresan cahaya.
“Berhenti nangis,” katanya ketus. “Mamamu harus lihat kamu bahagia sekarang karena bebas dari mereka.”
Lalu hampir tertawa ia menambahkan, “Tau nggak, kalau kamu nggak menandatangani, aku sudah tahu apa yang akan kulakukan.”
Aku menatapnya, waspada.
Ia tersenyum tipis. “Aku akan bunuh orang tuamu, ikat kepala mereka ke mobilku dan seret di jalan.”
Nadanya santai, hampir main-main, seakan menggambarkan adegan film.
Aku bilang, “Kamu nggak bakal lolos.”
Ia mengangkat bahu. “Kalau begitu aku masuk penjara. Aku nggak peduli. Kalau aku nggak dapat kamu, mereka juga nggak menang. Aku tetap menang.”
Dan kepalaku yang bodoh mempercayainya.
Bagi sebagian orang, delapan belas berarti menjadi dewasa.
Bagiku, berarti lain.
Itu adalah ketakutan yang dikemas jadi kebebasan.
Itu adalah berjalan ke dalam kandang lain yang belum kulihat batasnya.
Kata-kata pengacara berdengung di kepalaku: lewati prosedur, cari saksi palsu.
Tidak ada yang terdengar legal.
Tidak ada yang terdengar benar.

