LUMINASIA.ID, NASIONAL – Buku memoar Broken Strings: Fragments of a Stolen Youth karya Aurelie Moeremans tengah menjadi perbincangan hangat di media sosial. Bukan semata karena status Aurelie sebagai figur publik, melainkan karena keberaniannya membuka lembaran kelam masa lalu yang selama ini tersimpan rapat.
Dilansir dari Suara.com, narasi dalam buku tersebut menyuguhkan potret mendalam tentang trauma, ketakutan, serta kebingungan yang dialami Aurelie pada masa mudanya.
Sejumlah pembaca mengaku tersentuh karena kisah yang disajikan terasa jujur, mentah, dan emosional, seolah mengajak mereka masuk langsung ke dalam ruang batin sang penulis.
Salah satu kutipan yang banyak dibagikan warganet menyebutkan bahwa “narasi buku ini membawa pembaca merasakan langsung pergulatan batin, ketakutan, dan kebingungan Aurelie sebagai penulis”, menandakan kuatnya resonansi emosional yang ditimbulkan dari pengalaman personal yang ia tuangkan.
Di tengah maraknya diskusi publik mengenai kesehatan mental dan trauma masa kecil, kehadiran Broken Strings dinilai relevan dan penting. Banyak netizen menilai langkah Aurelie sebagai bentuk keberanian yang patut diapresiasi, terutama bagi para penyintas yang selama ini memilih diam dan menyimpan luka mereka sendiri.
Tidak sedikit pula yang menyebut buku ini sebagai “suara” bagi mereka yang belum mampu atau belum siap menceritakan pengalaman pahitnya. Dengan gaya bahasa yang personal dan reflektif, Aurelie dinilai berhasil mengubah pengalaman traumatis menjadi narasi yang memberi kekuatan.
Viralnya buku ini juga memicu gelombang dukungan di kolom komentar media sosial. Warganet menyampaikan empati, doa, serta ucapan terima kasih kepada Aurelie karena telah berani membagikan kisah yang sensitif dan menyakitkan.
Meski mengangkat tema berat, Broken Strings justru dipuji karena tidak jatuh pada eksploitasi kesedihan. Banyak pembaca melihatnya sebagai upaya penyembuhan, baik bagi sang penulis maupun bagi mereka yang menemukan cermin diri dalam ceritanya.
Dengan respons publik yang begitu besar, Broken Strings: Fragments of a Stolen Youth kini tidak hanya dipandang sebagai memoar pribadi, tetapi juga sebagai karya yang membuka ruang dialog tentang trauma, proses pemulihan, serta pentingnya keberanian untuk bersuara.
Buku ini juga memulai pembicaraan mengenai praktik grooming dan bahaya yang kerap dialami gadis-gadis muda ketika berhadapan dengan pria dewasa yang melakukan manipulasi.
Berikut link baca buku versi Bahasa Indonesia:
? https://www.example.com/broken-strings-bahasa-indonesia
Berikut link baca buku versi Bahasa Inggris:
? https://www.example.com/broken-strings-english-version

