Langsung ke konten
DuaSisi
jmsi sulsel
  • HIBURAN
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
  • VIRAL
  • PERISTIWA
  • SULSEL
  • EDUKASI
  • LIFESTYLE
  • OPINI
  • VIDEO
  • MAKASSAR
  • INDEKS
Beranda Lifestyle

LENGKAP Ini Isi Bab 1 Buku Broken Strings Aurelie Moremans, Paparkan Masa Kecil Sebagai Anak Asisten Rumah Tangga

Rabu, 14 Januari 2026 17:14
Editor: Ina Maharani
  • Bagikan
Broken Strings Book karya Aurelie Moeremens

LUMINASIA.ID - Broken Strings: Fragments of a Stolen Youth adalah sebuah memoar autobiografi yang ditulis oleh aktris dan penulis Aurelie Moeremans.

Buku ini pertama kali dirilis secara digital pada 10 Oktober 2025 dan menjadi fenomena literasi publik setelah potongan isinya viral di awal 2026. Memoar tersebut memuat kisah nyata pengalaman traumatis masa remaja Aurelie, terutama tentang relasi tidak sehat yang ia alami saat masih berusia belasan tahun.

Dengan dirilisnya gratis buku ini, banyak yang mencari dimana bisa membaca Broken Strings. Banyak yang mencari Buku Broken Strings Aurelie Baca Dimana.

Buat yang belum baca, ini adalah bab 1 buku tersebut yang memang dibagikan gratis oleh Aurelie Moremans.

Baca: LENGKAP Ini Isi Bab 2 Buku Broken Strings Aurelie Moremans, Pertemuan dan Awal Kedekatan dengan Bobby


Broken Strings Book membuka narasinya melalui Bab 1 dengan menghadirkan pengantar yang bersifat reflektif dan kontekstual. Pada bagian awal ini, penulis mengajak pembaca memahami latar belakang cerita sekaligus suasana batin yang melingkupi rangkaian peristiwa yang akan diurai pada bab-bab berikutnya.

Bab pembuka Broken Strings disusun sebagai fondasi cerita, memperkenalkan tema besar mengenai relasi kekuasaan, proses pengambilan keputusan, serta dinamika antara individu, institusi, dan sistem yang berjalan di sekitarnya. Melalui alur yang tenang namun tegas, Bab 1 menjadi pintu masuk untuk memahami arah dan pesan utama buku ini.



Bab 1 Kesempatan Sekali Seumur Hidup

Namaku Aurélie, dan ini adalah kisahku. Ikuti aku kembali ke tempat dan waktu yang membentuk diriku, bahkan ke momen-momen yang dulu sempat ingin kulupakan.

Kisahku dimulai dari orang tuaku. Mamaku saat itu masih sangat muda ketika mengandungku, sedangkan papaku lebih tua, tetapi masih jauh dari kata mapan dan belum tahu pasti apa yang ia inginkan dari hidupnya. Saat itu, sekadar bertahan hidup saja sudah sulit, sehingga memiliki rumah terasa mustahil.

Ada hari-hari ketika papaku berdiri di antrean bank makanan, berharap mendapat sumbangan bahan makanan agar kami bisa bertahan. Begitu rapuhnya hidup mereka waktu itu. Setiap hari adalah pertanyaan baru, setiap makan malam hasil improvisasi.

Beberapa bulan sebelum aku lahir, nenekku, Alida, meninggal dunia. Aku tak pernah sempat mengenalnya, tetapi namanya dijadikan nama tengahku, agar sebagian dirinya selalu hidup dalam diriku. Kepergiannya membawa duka, tetapi di balik itu datang sebuah berkah yang tak terduga. Apartemen kecil peninggalannya di Brussels menjadi tempat berteduh bagi orang tuaku.

Itu bukan rumah yang ideal, hanya apartemen mungil dan tua dengan lorong gelap menuju tangga curam. Dindingnya polos, ruangan-ruangannya sempit, seolah saling menekan. Tempat seperti itu bukanlah pilihan, melainkan satu-satunya kesempatan yang mereka punya. Dan di ruang sempit itulah dua jiwa yang belum siap harus belajar menjadi dewasa dalam semalam.

Di sanalah aku lahir, di Brussels. Orang-orang menyebutnya ibu kota Eropa, tetapi bagiku itu hanyalah rumah, dengan jalan-jalan yang tenang, langit abu-abu, toko roti yang harum oleh pain au chocolat hangat, dan sepeda-sepeda yang melaju bahkan di bawah hujan dingin.

Kami tidak punya banyak, tetapi selalu ada makanan di meja. Mamaku bekerja sebagai asisten rumah tangga di seberang rumah kami dan kadang menjaga anak teman untuk menambah penghasilan, sementara papaku mengambil pekerjaan apa pun yang bisa, bahkan mengumpulkan sampah di taman, asalkan kami bisa tetap hidup.

Teman-teman berbagi apa pun yang mereka mampu: sekantong makanan, pakaian bekas, atau barang yang sudah tak terpakai. Hal-hal kecil seperti itu berarti jauh lebih besar daripada yang bisa dibayangkan siapa pun.

Aku tidak pernah meminta hadiah ulang tahun atau uang jajan. Mungkin pernah, sekali dua kali, tetapi jarang. Aku tahu betapa keras orang tuaku bekerja, dan aku tak ingin membuat dompet mereka semakin menangis. Namun mereka tetap memberikanku hadiah, dan justru itu yang membuatku lebih menghargainya.

Setiap kali aku membuka bungkus hadiah, aku selalu memikirkan pengorbanan di baliknya dan diam-diam berharap mereka menyimpan saja uangnya untuk diri mereka sendiri. Rasa bersalahnya selalu lebih besar daripada senangnya.

Tumbuh dalam keadaan seperti itu membentukku. Aku patuh, nilainya lumayan, dan jarang membantah—walau jika kau tanya papaku, mungkin ia akan bercerita lain. Aku anak yang pendiam, pemalu, hanya lucu di rumah, tempat aku suka membuat keluargaku tertawa. Tak ada hal mencolok tentangku. Aku bukan yang tercantik atau paling populer, hanya anak tinggi kikuk yang selalu merasa sedikit berbeda.

Setiap kali kakekku memberiku uang saku, aku menyimpannya dengan hati-hati, tidak pernah buru-buru menghabiskannya. Aku sudah belajar sejak kecil bahwa uang tidak datang dengan mudah, jadi setiap koin terasa berharga, seolah harus bisa bertahan selamanya. Aku masih cukup beruntung jika papaku tidak tiba-tiba “meminjamnya”, karena jika sudah begitu, uang itu takkan kembali. Saat aku bertanya ke mana perginya, ia entah pura-pura lupa atau memang tidak tahu apa-apa.

Aku juga tidak diizinkan sering keluar seperti anak-anak lain. Orang tuaku protektif, dan aku memang pemalu sejak awal, sehingga kurangnya pergaulan membuatku canggung secara sosial—tipe anak yang membeku di keramaian dan hanya hidup di kehangatan keluarga. Beberapa hal memang tidak berubah. Aku masih kikuk, hanya sedikit lebih pandai berpura-pura tidak.

Sebelum masuk TK, mamaku yang mengajariku segalanya karena papaku jarang ada di rumah. Aku tidak sadar ada yang berbeda sampai aku mulai sekolah dan mendengar betapa lain cara mamaku berbahasa Prancis. Kosakatanya terbatas, logatnya agak patah. Anak-anak lain memakai kata-kata yang belum pernah kudengar, dan beberapa bahkan tidak mengerti ketika mamaku berbicara pada mereka. Saat itu aku merasa berbeda.

Aku juga salah satu dari sedikit anak yang berkulit sawo matang, dan itu membuatku semakin menonjol. Seolah wajah dan suaraku sama-sama mengkhianatiku, mengingatkanku bahwa aku tak sepenuhnya cocok dengan dunia di sekitarku.

Selama tiga tahun pertama sekolah dasar, aku dibully oleh dua anak populer di kelas, Esther dan Amélie. Bully-an mereka bukan hanya kata-kata, tetapi juga fisik. Perlahan, rasa percaya diriku hancur.

Saat usiaku tujuh tahun, keadaan keluarga mulai membaik. Papa mulai mendapatkan pekerjaan yang lebih stabil, hidup kami terasa sedikit lebih ringan. Setahun kemudian, adikku Jérémie lahir. Walau masih jauh dari kaya, rumah kami mulai terasa lebih tenang.

Saat aku berusia sembilan tahun, kami pindah ke De Panne, kota kecil di pesisir yang penduduknya berbicara dalam bahasa Belanda. Untuk pertama kalinya kami tinggal di rumah sungguhan, bukan apartemen sempit. Namun aku harus memulai dari nol dengan bahasa yang sama sekali tidak kumengerti.

Dalam dua tahun, aku sudah lancar berbahasa Belanda dan berprestasi di sekolah. Dari ratusan siswa yang mencoba masuk kelas Griekse Latijn, hanya sembilan orang yang diterima, dan aku salah satunya. Aku belajar dengan tekun dan bermimpi menjadi dokter suatu hari nanti.

Namun hidup punya rencana lain. Sesuatu terjadi yang akhirnya membawaku meninggalkan Belgia dan kembali ke tanah kelahiran mamaku, Indonesia. Mamaku tidak pernah mengajariku bahasa Indonesia karena ia tidak pernah berencana kembali ke sana, jadi aku tiba tanpa bisa satu kata pun—mungkin satu atau dua kalimat, tetapi hanya itu.

Belgia adalah tempat kelahiranku, tetapi aku selalu merasa sedikit tidak selaras, seolah langkahku tak pernah seirama dengan dunia di sekitarku. Mungkin karena itu, ketika sesuatu yang baru dan menggetarkan akhirnya datang, aku langsung berlari ke arahnya tanpa ragu.

Semuanya dimulai saat salah satu kunjungan kami ke Bandung, ketika aku berusia tiga belas menjelang empat belas tahun. Segalanya mulai berubah di sana.

Tags: Broken Strings Book Broken strings aurelie moeremans link Aurelie Buku Broken Strings Aurelie Baca Dimana Isi Broken Strings

Baca Juga

LENGKAP Ini Isi Bab 3 Buku Broken Strings Aurelie Moremans, 'Ia Mencium Bibirku di Depan Mamaku'
LENGKAP Ini Isi Bab 3 Buku Broken Strings Aurelie Moremans, 'Ia Mencium Bibirku di Depan Mamaku'
LENGKAP Ini Isi Bab 2 Buku Broken Strings Aurelie Moremans, Pertemuan dan Awal Kedekatan dengan Bobby
LENGKAP Ini Isi Bab 2 Buku Broken Strings Aurelie Moremans, Pertemuan dan Awal Kedekatan dengan Bobby
AKTIF! Ini Link Download Broken Strings Book Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris
AKTIF! Ini Link Download Broken Strings Book Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris
Bahas Pernikahan Aurelie dalam Broken Strings, Aku Akan Bu..h Orang Tiamu, Ikat Kepala Mereka ke Mobil
Bahas Pernikahan Aurelie dalam Broken Strings, Aku Akan Bu..h Orang Tiamu, Ikat Kepala Mereka ke Mobil"'
Ini Link Download Broken Strings PDF Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris, Terkait Aurelie dan Roby?
Ini Link Download Broken Strings PDF Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris, Terkait Aurelie dan Roby?
'Ia Memberiku Pilihan dengan Timun, Dimasukkan ke ...': Ini Cuplikan Isi Buku Broken Strings, Aurelie dan Roby Dispekulasikan
'Ia Memberiku Pilihan dengan Timun, Dimasukkan ke ...': Ini Cuplikan Isi Buku Broken Strings, Aurelie dan Roby Dispekulasikan

Populer

  • 1
    Harga Emas Hari Ini: Antam Rp2,9 Juta per Gram
  • 2
    Harga Emas Hari Ini Naik, 1 Gram Antam Tembus Rp2,94 Juta
  • 3
    Harga Emas Hari Ini, Antam Pecahan 1 Gram Tembus Rp2,95 Juta
  • 4
    Libur Lebaran 2026 Jadi 7 Hari, Nyepi dan Cuti Bersama Picu Lonjakan Mudik
  • 5
    Hasil Super Bowl: Seattle Seahawks Kalahkan New England Patriots 29-13 di Levi’s Stadium

Ekonomi

  • Tiga Indeks Futures AS Naik, Wall Street Bersiap Dibuka di Zona Hijau
    Tiga Indeks Futures AS Naik, Wall Street Bersiap Dibuka di Zona Hijau
  • Harga Emas Hari Ini Antam Turun Rp7.000, 1 Gram Kini Rp2,947 Juta
    Harga Emas Hari Ini Antam Turun Rp7.000, 1 Gram Kini Rp2,947 Juta
  • Harga Emas Hari Ini, Antam Pecahan 1 Gram Tembus Rp2,95 Juta
    Harga Emas Hari Ini, Antam Pecahan 1 Gram Tembus Rp2,95 Juta

Peristiwa

  • Jadwal Pencairan THR PNS, TNI, Polri dan Pensiunan 2026, Diperkirakan Cair Pertengahan Maret
    Jadwal Pencairan THR PNS, TNI, Polri dan Pensiunan 2026, Diperkirakan Cair Pertengahan Maret
  • Libur Awal Ramadan 2026 Berdekatan Imlek, Siswa Berpeluang Long Weekend
    Libur Awal Ramadan 2026 Berdekatan Imlek, Siswa Berpeluang Long Weekend
  • Apa Itu Tarhib Ramadhan? Momentum Bersih Diri sebelum Masuk Bulan Penuh Ampunan
    Apa Itu Tarhib Ramadhan? Momentum Bersih Diri sebelum Masuk Bulan Penuh Ampunan
  • Beranda
  • Tentang Kami
  • Struktur
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer
  • Indeks
© 2024 - 2026 LUMINASIA.ID