JAKARTA – Media sosial dan komunitas pembaca buku sedang ramai membicarakan potongan konten dari buku berjudul Broken Strings. Buku ini menjadi sorotan karena keberaniannya menggambarkan realitas pahit mengenai kekerasan dalam pacaran (dating violence), manipulasi psikologis, hingga pelecehan seksual yang dialami oleh karakter utamanya.
Melalui potongan lembaran yang beredar, pembaca disuguhkan pada narasi yang mencekam mengenai bagaimana seorang pelaku kekerasan menggunakan ancaman dan manipulasi untuk mengontrol korbannya.
Tentang Buku dan Pengarang
Broken Strings merupakan buku memoar yang ditulis oleh Aurelie Moeremans, seorang aktris dan penulis Indonesia. Buku ini berisi kisah nyata pengalaman Aurelie sebagai penyintas grooming, manipulasi emosional, serta kekerasan dalam hubungan yang dialaminya sejak usia remaja.
Dalam buku tersebut, Aurelie menuliskan fragmen-fragmen hidupnya yang menggambarkan relasi tidak sehat dengan seorang pria dewasa. Identitas tokoh pria dalam buku ini sengaja disamarkan. Penulis tidak menyebutkan nama, inisial, maupun detail identitas lain, karena fokus utama buku ini adalah dampak kekerasan terhadap korban dan proses penyintas untuk bertahan serta pulih dari trauma.
Baca: Ini Link Download Broken Strings PDF Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris, Terkait Aurelie dan Roby?
Sinopsis Singkat
Buku Broken Strings mengisahkan perjalanan seorang remaja perempuan yang terjebak dalam hubungan penuh manipulasi dengan pria yang memiliki kuasa emosional dan psikologis atas dirinya. Hubungan yang pada awalnya tampak seperti cinta dan perhatian perlahan berubah menjadi kontrol, ancaman, kekerasan fisik, serta pelecehan seksual.
Melalui narasi yang jujur dan tanpa romantisasi, buku ini menunjukkan bagaimana korban kehilangan kendali atas tubuh, pikiran, dan rasa aman, hingga akhirnya berjuang untuk memahami bahwa apa yang dialaminya bukanlah cinta, melainkan kekerasan.
Ancaman Bunuh Diri sebagai Alat Manipulasi
Dalam salah satu fragmen, terlihat jelas bagaimana pelaku menggunakan taktik “ancaman bunuh diri” untuk memaksa korban menyerahkan foto tanpa busana. Pelaku melontarkan kalimat manipulatif seperti, “Kalau kamu benar cinta… ini tidak akan jadi masalah,” yang diikuti dengan ancaman histeris untuk melompat jika permintaannya tidak dituruti. Ini merupakan pola klasik gaslighting, di mana korban dipaksa merasa bertanggung jawab atas nyawa pelaku
Kekerasan Fisik dan Pelecehan yang Merendahkan
Tak hanya manipulasi mental, buku ini juga menggambarkan tindakan kekerasan fisik yang brutal. Terdapat bagian yang menceritakan pelaku meludahi wajah korban berkali-kali hingga melakukan penamparan keras yang membuat korban kehilangan kesadaran sesaat.
Lebih jauh lagi, potongan cerita tersebut mengungkap adanya bentuk pelecehan seksual yang sangat menyimpang dan merendahkan martabat. Salah satunya adalah paksaan untuk melakukan tindakan tidak senonoh dengan benda yang kemudian melibatkan pihak keluarga korban tanpa sepengetahuan mereka, sebuah tindakan yang dirancang untuk menghancurkan harga diri korban secara total.
Simbolisme yang Menyakitkan
Hal lain yang mencuri perhatian adalah bagaimana pelaku menggunakan nama “John Smith”, karakter Disney favorit korban, sebagai nama untuk alat kelaminnya. Tindakan ini dinilai sebagai upaya pelaku untuk merusak hal-hal yang dicintai atau dianggap baik oleh korban, mengubah memori yang menyenangkan menjadi sesuatu yang menjijikkan dan traumatis.
Baca: Pria Pukuli Istrinya yang Lagi Hamil Tua, Gegara Tak Terima Dilarang Nonton Porno
Spekulasi Publik
Seiring viralnya potongan isi buku Broken Strings, di media sosial muncul spekulasi yang mengaitkan kisah dalam buku tersebut dengan sosok bernama Roby.
Namun, dalam buku Broken Strings sendiri tidak terdapat penyebutan nama, identitas, maupun petunjuk spesifik yang mengarah pada individu tertentu. Hingga kini, penulis tidak pernah memberikan pernyataan resmi yang mengonfirmasi dugaan tersebut. Nama yang beredar muncul dari diskusi dan tafsir warganet di media sosial, bukan berasal dari isi buku.
Cuplikan Isi Buku Broken Strings
Akun instagram @nur.anisaaa77 menampilkan potongan cuplikan isi Broken Strings, yag menyayat hari.Berikut cuplikannya, potongan is Broken Strings
Cuplikan 1
Ia tertawa pendek, tanpa humor. “Aku nggak mau uangmu.”
“Terus apa?”
“Foto kamu. Tanpa pakaian.”
Perutku mual. “Jangan,” pintaku. “Tolong, jangan minta itu.”
Namun ia tidak berhenti. Suaranya mengeras. “Kalau kamu benar cinta, kalau kamu benar milikku, ini tidak akan jadi masalah. Kalau tidak, buat apa aku menunggu.”
Ancaman itu muncul lagi, lebih histeris. “Kalau kamu nggak mau, aku lompat sekarang!”
Setelah itu, ia duduk santai, memeriksa sprei, lalu menyeka dirinya dengan tisu, seolah semua ini hal biasa.
“Kamu nggak berdarah? Hmm, aneh,” katanya sambil menyeringai.
Cuplikan 2
Setelah mengamuk seperti orang gila, ia memegang wajahku keras-keras dengan satu tangan, sementara tangan lainnya terangkat seolah ingin memukul. Namun ia tidak memukul. Tanpa kata, ia meludahiku lagi, dan lagi, dan lagi.
Tamparan itu datang begitu cepat hingga semuanya gelap seketika. Dunia lenyap, hanya tersisa denging panjang di telingaku. Saat kesadaranku kembali, aku baru menyadari apa yang terjadi.
“Kamu sendiri yang minta, kan,” katanya pelan.
Cuplikan 3
Kali ini, ia memberiku “pilihan” lain. Ia menyuruhku melihat isi kulkas, dan ketika mengetahui ada mentimun, ia mendapat ide. Dengan suara tenang, hampir santai, ia memerintahkanku memasukkannya ke dalam tubuhku, di tempat yang seharusnya tak pernah disentuh siapa pun, lalu menyajikannya kepada mamaku tanpa dicuci.
Cuplikan 4
Seolah penolakanku tak berarti apa-apa, ia kembali membuka resleting celananya. Dengan senyum kecil, ia berkata, “John cuma mau nyapa.”
John. Ia memberi nama pada alat kelaminnya, menggunakan nama karakter Disney favoritku, John Smith. Baginya itu lelucon, tetapi bagiku menjijikkan. Sebuah candaan yang tak pernah kumengerti

