LUMINASIA.ID, INTERNASIONAL - Krisis nilai tukar mata uang Iran semakin menekan stabilitas ekonomi dan sosial negara tersebut. Anjloknya nilai Rial terhadap dolar Amerika Serikat kini menjadi sorotan utama, bahkan mendorong Presiden Iran, Masoud Pezeshkian, turun langsung ke jalan untuk bergabung dengan peserta aksi demonstrasi pro-pemerintah di Teheran, Senin waktu setempat, 12 Januari 2026.
Dilansir Metro TV News, langkah Presiden Pezeshkian ini dilakukan di tengah tekanan publik yang kian meningkat akibat merosotnya daya beli masyarakat. Nilai tukar Rial tercatat telah jatuh hingga 2.280,98 persen, dari sebelumnya sekitar 42.000 Rial per dolar AS pada Oktober tahun lalu, menjadi lebih dari 1.000.010 Rial per dolar saat ini.
Kondisi tersebut membuat harga barang impor melonjak tajam dan memperparah inflasi yang kini mencapai 52,6 persen sejak Oktober 2024. Krisis mata uang ini tidak hanya berdampak pada sektor ekonomi, tetapi juga memicu keresahan sosial di berbagai wilayah Iran.
Dalam aksinya bersama massa, Pezeshkian menyampaikan komitmen pemerintah untuk segera mengambil langkah konkret. “Kami tidak akan tinggal diam melihat rakyat menderita. Pemerintah akan bekerja keras untuk memperbaiki kondisi ekonomi dan mengendalikan nilai mata uang,” ujar Pezeshkian di hadapan para demonstran.
Ia juga mengakui bahwa pelemahan Rial telah menjadi beban berat bagi masyarakat. “Saya memahami betul bahwa inflasi dan jatuhnya nilai tukar sangat memberatkan kehidupan sehari-hari rakyat. Ini adalah tanggung jawab kami untuk memperbaikinya,” katanya.
Menurut Pezeshkian, pemerintah akan berkoordinasi dengan para menteri dan otoritas moneter untuk menstabilkan nilai tukar serta menekan laju inflasi. “Kami akan bekerja sama dengan jajaran menteri untuk mengendalikan mata uang dan inflasi,” tegasnya.
Pengamat menilai, krisis Rial kini bukan sekadar persoalan ekonomi, tetapi telah berubah menjadi isu politik yang sensitif. Tekanan terhadap mata uang nasional dianggap sebagai simbol melemahnya kepercayaan publik terhadap kondisi ekonomi, sehingga mendorong pemerintah untuk menunjukkan kehadiran langsung di tengah masyarakat.
Dengan nilai tukar yang terus terpuruk dan inflasi yang tinggi, tantangan terbesar pemerintahan Pezeshkian saat ini adalah memulihkan stabilitas mata uang. Keberhasilan atau kegagalan dalam mengendalikan Rial dinilai akan sangat menentukan arah kepercayaan publik terhadap pemerintah dalam waktu dekat.

