MAKASSAR, Kamis (26/2/2026) – Kota Makassar mencatatkan capaian membanggakan dalam Indeks Daya Saing Daerah (IDSD) 2025 dengan meraih skor 4,17, melampaui rata-rata nasional 3,50.
Hasil tersebut diumumkan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) dalam rilis resmi IDSD 2025 di Gedung BJ Habibie BRIN, Thamrin, Jakarta Pusat.
Capaian itu juga menempatkan Makassar di atas rata-rata Provinsi Sulawesi Selatan yang berada pada angka 3,71.
Di bawah kepemimpinan Wali Kota Makassar Munafri Arifuddin bersama Wakil Wali Kota Aliyah Mustika Ilham, hasil tersebut menjadi catatan penting dalam satu tahun masa pemerintahan.
IDSD merupakan instrumen pengukuran daya saing daerah yang disusun BRIN dengan mengacu pada metode Global Competitiveness Index (GCI) dari World Economic Forum (WEF).
Pengukuran dilakukan secara komprehensif melalui empat komponen utama, yakni lingkungan pendukung, sumber daya manusia, pasar, dan ekosistem inovasi.
Keempat komponen tersebut kemudian diuraikan ke dalam 12 pilar penilaian yang memiliki dimensi dan indikator terukur.
Dua belas pilar tersebut meliputi institusi, infrastruktur, adopsi teknologi informasi dan komunikasi (TIK), stabilitas ekonomi makro, kesehatan, keterampilan, pasar produk, pasar tenaga kerja, sistem keuangan, ukuran pasar, dinamika bisnis, dan kapabilitas inovasi.
Pada pilar institusi, penilaian mencakup indikator seperti tingkat keamanan, transparansi anggaran, hingga kebebasan pers.
Pilar infrastruktur menilai ketersediaan dan kualitas sarana prasarana yang mendukung aktivitas ekonomi.
Pilar adopsi TIK mengukur tingkat pemanfaatan teknologi digital di daerah.
Sementara itu, pilar stabilitas ekonomi makro menilai kemampuan daerah menjaga keseimbangan ekonomi dan menghadapi guncangan domestik maupun global.
Pilar kesehatan mengukur kualitas sumber daya manusia berdasarkan indikator harapan hidup sehat.
Pilar keterampilan menilai tingkat pendidikan dan kompetensi tenaga kerja saat ini maupun masa depan.
Pilar pasar produk mencerminkan tingkat keterbukaan dan persaingan usaha yang adil.
Pilar pasar tenaga kerja mengukur efisiensi dan inklusivitas kesempatan kerja.
Pilar sistem keuangan menilai peran lembaga keuangan dalam menyalurkan pembiayaan dan mendukung kelancaran transaksi.
Pilar ukuran pasar menilai potensi skala ekonomi yang dapat mendorong produktivitas.
Pilar dinamika bisnis mengukur kemudahan memulai, menjalankan, hingga keluar dari usaha.
Adapun pilar kapabilitas inovasi menilai kuantitas dan kualitas riset serta inovasi daerah.
Pengamat Pemerintahan Universitas Bosowa (Unibos) Makassar, Arief Wicaksono, menilai capaian tersebut menunjukkan arah pemerintahan yang tepat.
“Kalau menurut perspektif saya, capaian ini sudah sangat tepat. Makassar hari ini memang sedang bergeliat untuk menjadi kota yang unggul,” ujar Arief, Kamis (26/2/2026).
Ia menambahkan, data IDSD yang dirilis BRIN menjadi dasar objektif dalam menilai performa daerah.
“Data yang ditunjukkan oleh Indeks Daya Saing Daerah yang secara resmi dikeluarkan oleh BRIN telah menjawab keraguan banyak pihak, bahwa Makassar memiliki daya saing yang tinggi, bahkan di atas rata-rata nasional,” tuturnya.
Skor 4,17 dalam IDSD 2025 memperkuat posisi Makassar sebagai salah satu kota metropolitan dengan tingkat daya saing yang kompetitif di tingkat nasional, baik dari sisi inovasi, pelayanan publik, maupun pembangunan ekonomi daerah.

