LUMINASIA.ID - Teknologi kecerdasan buatan (AI) Claude milik perusahaan Anthropic dilaporkan digunakan dalam operasi militer Amerika Serikat di Iran, hanya beberapa jam setelah Presiden Donald Trump mengumumkan pelarangan penggunaan teknologi tersebut di lingkungan pemerintah federal.
Informasi ini pertama kali dilaporkan oleh The Wall Street Journal, yang menyebutkan bahwa sejumlah komando militer AS di berbagai wilayah, termasuk United States Central Command (Centcom) di Timur Tengah, memanfaatkan sistem AI Claude dalam mendukung operasi mereka.
Sumber yang mengetahui persoalan tersebut mengatakan, perangkat AI digunakan untuk membantu analisis data dan mendukung pengambilan keputusan dalam operasi yang berlangsung. Namun, pihak Centcom menolak memberikan rincian sistem apa saja yang digunakan dalam serangan terhadap Iran.
Langkah ini memunculkan sorotan karena terjadi dalam waktu yang sangat berdekatan dengan pernyataan Trump yang menyatakan pemerintah federal akan menghentikan penggunaan teknologi AI dari Anthropic. Kebijakan tersebut disebut-sebut berkaitan dengan evaluasi keamanan nasional dan kontrol teknologi strategis.
Serangan udara AS ke Iran sendiri menjadi bagian dari eskalasi konflik di Timur Tengah yang memicu gejolak pasar global. Harga minyak mentah melonjak lebih dari 8 persen, sementara emas menguat di atas 3 persen, mencerminkan meningkatnya sentimen risiko di pasar keuangan.
Penggunaan AI dalam operasi militer bukan hal baru, tetapi keterlibatan Claude dalam momen yang sensitif secara politik ini memicu perdebatan mengenai konsistensi kebijakan teknologi pemerintah serta peran kecerdasan buatan dalam strategi pertahanan modern.
Hingga kini, Gedung Putih belum memberikan penjelasan tambahan mengenai perbedaan antara kebijakan pelarangan dan praktik di lapangan

