LUMINASIA.ID, INTERNASIONAL - Islamabad – Kegagalan perundingan antara Amerika Serikat dan Iran bukan sekadar kebuntuan diplomatik biasa. Di balik pernyataan Wakil Presiden AS JD Vance, dunia kini menghadapi risiko yang jauh lebih besar: krisis energi global dan potensi eskalasi konflik terbuka.
Dilansir Media ITE via Yahoo, perundingan maraton selama lebih dari 20 jam di Pakistan berakhir tanpa kesepakatan. Kedua pihak tetap bersikeras pada posisi masing-masing, terutama terkait program nuklir Iran dan kontrol atas Selat Hormuz—jalur vital yang dilalui sekitar 20 persen pasokan energi dunia.
Vance menyebut kegagalan ini sebagai “kabar buruk bagi Iran”, namun realitas di lapangan menunjukkan dampaknya jauh melampaui dua negara tersebut. Tanpa kesepakatan, ketegangan di kawasan Timur Tengah justru berpotensi meningkat, terlebih dengan masih rapuhnya gencatan senjata yang baru berlangsung beberapa hari.
Iran sendiri menilai tuntutan Amerika terlalu berlebihan, sementara Washington menuntut komitmen tegas bahwa Teheran tidak akan mengembangkan senjata nuklir. Perbedaan tajam ini membuat negosiasi buntu sejak awal.
Yang paling mengkhawatirkan, Selat Hormuz tetap menjadi titik panas utama. Iran mempertahankan kontrol ketat, bahkan disebut mempertimbangkan pembatasan atau biaya bagi kapal yang melintas. Jika jalur ini terganggu, pasar energi global bisa langsung terguncang.
Di saat yang sama, konflik di Lebanon dan aktivitas militer di kawasan memperlihatkan bahwa situasi belum benar-benar mereda. Bahkan, sejumlah pihak internasional telah memperingatkan bahwa kegagalan diplomasi bisa membuka jalan menuju konflik yang lebih luas.
Pakistan sebagai mediator menegaskan pentingnya menjaga gencatan senjata dan melanjutkan dialog. Namun, tanpa terobosan konkret, peluang kembalinya eskalasi militer tetap terbuka lebar.
Kini, dunia berada di persimpangan: melanjutkan jalur diplomasi yang penuh ketidakpastian, atau menghadapi konsekuensi konflik yang bisa berdampak pada ekonomi global dan stabilitas kawasan.

