LUMINASIA.ID, EKONOMI - Keputusan PT Alamtri Resources Indonesia Tbk (ADRO) membagikan dividen hingga 99,96% dari laba bersih 2025 menjadi sorotan, bukan hanya karena nilainya jumbo, tetapi juga karena mencerminkan strategi perusahaan di tengah penurunan kinerja. Dalam RUPST, emiten tambang ini menyetujui pembagian dividen total US$447,6 juta, hampir seluruh laba bersih tahun buku 2025 yang tercatat US$447,69 juta.
Dilansir CNBC Indonesia, langkah ini bisa dibaca sebagai upaya menjaga daya tarik saham di mata investor, terutama saat laba bersih perusahaan anjlok hingga 67% secara tahunan. Dengan payout ratio nyaris 100%, ADRO memilih mengembalikan keuntungan kepada pemegang saham ketimbang menahannya untuk ekspansi agresif.
Dari total dividen tersebut, sebesar US$250 juta telah lebih dulu dibagikan sebagai dividen interim pada Januari 2026. Sisanya, sekitar US$197,5 juta, akan didistribusikan sebagai dividen final. Hanya sekitar 0,04% laba yang disisihkan sebagai saldo laba ditahan—angka yang sangat kecil untuk ukuran perusahaan dengan total aset mencapai US$6,82 miliar.
Di sisi lain, fundamental perusahaan justru menunjukkan tekanan. Pendapatan usaha turun hampir 10% menjadi US$1,87 miliar, sementara beban pokok pendapatan naik 2,67%. Kombinasi ini menyebabkan laba bruto tergerus lebih dari 27%. Kondisi tersebut berujung pada penurunan tajam laba bersih, mencerminkan tantangan operasional yang semakin besar.
Meski aset perusahaan naik tipis, struktur keuangan menunjukkan tekanan dengan liabilitas meningkat menjadi US$1,81 miliar dan ekuitas turun 6,83% menjadi sekitar US$5 miliar. Hal ini memperkuat pandangan bahwa ruang untuk ekspansi atau investasi baru kemungkinan lebih terbatas dalam jangka pendek.
Dengan strategi dividen yang sangat agresif ini, ADRO tampak mengambil posisi defensif—menjaga loyalitas investor di tengah siklus bisnis yang melemah, alih-alih mengejar pertumbuhan jangka panjang secara ekspansif.

