LUMINASIA.ID, NASIONAL — Fenomena perusahaan yang mengakhiri hubungan kerja dengan karyawan Generasi Z (Gen Z) dalam waktu singkat setelah perekrutan semakin menjadi sorotan. Temuan terbaru dari survei Intelligent menunjukkan bahwa sekitar 60 persen perusahaan memilih memberhentikan pekerja Gen Z hanya dalam beberapa bulan pertama masa kerja mereka.
Dilansir Kompas, Profesor dari New York University (NYU), Suzy Welch, menilai kondisi ini mencerminkan adanya ketidaksesuaian nilai antara generasi muda dan kebutuhan dunia kerja saat ini. Ia menggunakan alat analisis bernama The Values Bridge untuk memetakan prioritas hidup individu berdasarkan nilai, minat, dan kemampuan.
“Data menunjukkan hanya 2 persen dari Generasi Z yang memiliki nilai-nilai yang diinginkan dan dicari oleh manajer perekrutan. Dari 98 persen yang tidak memiliki nilai-nilai tersebut, hanya sebagian kecil yang sesuai, dan itu angka yang sangat besar,” ujar Welch, seperti dikutip dari USA Today, Kamis (7/5/2026).
Riset tersebut melibatkan sekitar 200.000 responden dalam satu tahun terakhir. Hasilnya menunjukkan bahwa tiga nilai utama yang dijunjung Gen Z adalah kesejahteraan diri (self-care), kebebasan berekspresi secara autentik, dan keinginan untuk memberi dampak positif bagi orang lain.
Di sisi lain, perusahaan memiliki prioritas berbeda. Welch menjelaskan bahwa manajer perekrutan umumnya mencari kandidat dengan orientasi pada pencapaian, fokus tinggi terhadap pekerjaan, serta keinginan untuk terus berkembang melalui pengalaman dan tantangan baru.
“Nilai nomor satu yang dicari adalah prestasi, keinginan untuk menang. Kedua adalah fokus pada pekerjaan, dan ketiga adalah keinginan untuk belajar serta berkembang melalui pengalaman,” jelasnya.
Perbedaan orientasi ini menjadi salah satu faktor utama yang memicu ketidaksesuaian antara ekspektasi perusahaan dan realitas di lapangan. Banyak pekerja muda menilai pola kerja generasi sebelumnya tidak selalu menghasilkan stabilitas hidup, sehingga mereka lebih menekankan keseimbangan hidup dan kesehatan mental dibandingkan ambisi karier semata.
“Gen Z pada dasarnya mengatakan, ‘Saya tidak suka aturan-aturan itu. Itu nilai generasi sebelumnya dan tidak selalu berhasil. Saya tidak akan menerimanya,’” kata Welch.
Meski demikian, Welch menegaskan bahwa nilai-nilai yang dianut Gen Z tidak bisa dianggap salah. Ia menilai generasi muda berhak mempertahankan prinsip hidup mereka, meskipun harus menghadapi konsekuensi dalam dunia kerja.
“Jika mereka mempertahankan prinsip tersebut, tidak ada yang salah. Namun mereka harus memahami konsekuensinya, termasuk kemungkinan tidak mendapatkan pekerjaan yang sesuai dengan latar belakang pendidikan mereka,” ujarnya.
Sejumlah perusahaan bahkan mengaku kesulitan menemukan kandidat yang sesuai dengan standar yang mereka harapkan. Mereka harus bersaing untuk mendapatkan kelompok kecil pekerja yang dinilai memenuhi kriteria.
Sementara itu, data dari Federal Reserve Bank of New York pada akhir 2025 menunjukkan bahwa tingkat pengangguran lulusan baru di Amerika Serikat mencapai 5,7 persen, atau lebih tinggi sekitar 1,5 poin dibandingkan kelompok usia lainnya. Kondisi ini dipengaruhi oleh perubahan struktur industri serta perkembangan teknologi seperti kecerdasan buatan (AI).
Dalam situasi tersebut, lulusan baru disarankan untuk lebih fleksibel dalam memilih pekerjaan. Tidak hanya terpaku pada bidang studi saat kuliah, tetapi juga terbuka terhadap peluang lain yang dapat menjadi batu loncatan dalam karier.
Fenomena ini menegaskan bahwa dunia kerja sedang mengalami pergeseran besar, di mana perusahaan dan generasi muda sama-sama perlu beradaptasi untuk menemukan titik temu antara produktivitas dan kesejahteraan individu.

