LUMINASIA.ID, NASIONAL - Prabowo Subianto menunjukkan komitmen kuat terhadap program makan bergizi gratis (MBG) dengan menyatakan kesiapannya mempertaruhkan kepemimpinan politiknya demi keberlanjutan program tersebut. Pernyataan ini menjadi sorotan, bukan hanya karena substansinya, tetapi juga karena nada tegas yang mencerminkan taruhan besar di tengah tekanan ekonomi global.
Dilansir Detik, dalam diskusi bersama jurnalis yang disiarkan melalui kanal YouTube pribadinya, Prabowo menegaskan bahwa program MBG tidak sekadar kebijakan sosial biasa, melainkan bagian dari visi jangka panjang untuk memperbaiki kualitas sumber daya manusia Indonesia. Ia bahkan menyebut akan membuktikan keberhasilan program ini hingga tahun 2029.
“Saya pertaruhkan kepemimpinan saya, 2029 kita lihat,” ujar Prabowo, menandaskan keyakinannya bahwa kebijakan tersebut berada di jalur yang tepat.
Pernyataan ini muncul di tengah kekhawatiran publik terkait efisiensi anggaran negara akibat dampak krisis global, khususnya ketegangan di Timur Tengah. Namun, Prabowo justru menilai bahwa penghematan tidak boleh mengorbankan kebutuhan dasar rakyat, terutama dalam hal pemenuhan gizi anak-anak.
Menurutnya, pengalaman langsung saat kampanye memperlihatkan realitas stunting yang masih mengkhawatirkan di berbagai daerah. Ia menggambarkan kondisi anak-anak yang secara usia sudah menginjak remaja, namun secara fisik masih seperti balita—sebuah gambaran yang memperkuat urgensi program MBG.
Alih-alih memangkas anggaran untuk program tersebut, Prabowo mengisyaratkan bahwa efisiensi harus dilakukan di sektor lain, termasuk dengan menekan potensi kebocoran anggaran. Ia menekankan bahwa dana negara masih mencukupi untuk menjalankan program prioritas seperti MBG.
Dari sudut pandang politik, sikap ini mencerminkan strategi berani yang menempatkan kesejahteraan rakyat sebagai pusat legitimasi kepemimpinannya. Dengan menjadikan MBG sebagai tolok ukur keberhasilan, Prabowo tidak hanya mempertahankan program, tetapi juga mengikat reputasi politiknya pada hasil nyata di lapangan.
Langkah ini sekaligus membuka ruang evaluasi publik dalam beberapa tahun ke depan: apakah taruhan besar tersebut akan membuahkan hasil signifikan dalam menekan angka stunting, atau justru menjadi beban fiskal di tengah dinamika ekonomi global.

